BNI Resmi Akhiri Buyback Saham 2026, 77,86 Juta Lembar Sudah Dikoleksi
JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) resmi mengakhiri program pembelian kembali (buyback) saham tahun 2026 setelah berhasil mengoleksi sebanyak 77.856.100 lembar saham. Perseroan memastikan penghentian program tersebut tidak memengaruhi operasional, kondisi keuangan, maupun rencana pengembangan bisnis perusahaan.
Keputusan penghentian buyback diumumkan melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas keterbukaan informasi perseroan pada 29 Januari 2026 dan 3 Maret 2026, serta keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 9 Maret 2026. Informasi ini sebagaimana dilansir Kompas, Selasa (07/07/2026).
Dalam RUPST, para pemegang saham menyetujui pelaksanaan pembelian kembali saham yang telah diterbitkan dan tercatat di BEI dengan nilai maksimal Rp905,48 miliar, termasuk seluruh biaya yang berkaitan dengan pelaksanaan buyback, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan penghentian program dilakukan setelah perseroan mempertimbangkan perkembangan ekonomi, kondisi pasar, serta kebutuhan pengalihan saham hasil buyback.
“Sehubungan dengan hal dimaksud, memperhatikan kondisi makroekonomi, kondisi market, dan kebutuhan pelaksanaan pengalihan saham sesuai Keputusan RUPST tersebut di atas, maka melalui Keterbukaan Informasi ini kami laporkan bahwa Perseroan telah menghentikan pelaksanaan pembelian kembali saham dan telah menyelesaikan seluruh periode transaksi buyback Tahun 2026 dengan total saham yang telah dibeli kembali sebanyak 77.856.100 lembar saham,” kata Okki Rushartomo.
Perseroan menjelaskan saham hasil buyback yang saat ini berstatus saham tresuri (treasury stock) akan dialihkan melalui Program Kepemilikan Saham bagi Pegawai sesuai ketentuan yang berlaku.
BNI juga menegaskan penghentian program tersebut tidak memberikan dampak terhadap kegiatan usaha maupun kondisi fundamental perusahaan. Perseroan menyatakan posisi permodalan dan likuiditas tetap berada pada tingkat yang kuat sehingga mampu mendukung seluruh agenda bisnis ke depan.
“Perseroan masih memiliki rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio (CAR)) yang berada di level yang sehat serta arus kas operasional yang memadai untuk mendukung seluruh rencana bisnis dan pengembangan usaha ke depan,” terang Okki.
Selain menjaga kondisi keuangan tetap solid, pelaksanaan buyback disebut menjadi salah satu langkah perseroan dalam mendukung stabilitas perdagangan saham di tengah dinamika pasar, tanpa mengurangi kemampuan perusahaan menjalankan ekspansi usaha pada masa mendatang. []
Redaksi01
