IHSG Naik 0,41 Persen pada Sesi I, Peluang Tembus 6.000 Kian Terbuka

JAKARTA – Penguatan saham sektor properti, perbankan, dan bahan baku berhasil menjaga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan sesi I pada Selasa (07/07/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 24,25 poin atau 0,41 persen ke level 5.940,32, meski masih dibayangi sejumlah sentimen global dan teknikal yang membatasi ruang kenaikan.

Sepanjang perdagangan sesi pertama, IHSG bergerak di kisaran 5.890,44 hingga 5.954,35. Aktivitas transaksi mencapai Rp4,19 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 9,50 miliar saham dalam 797,8 ribu transaksi. Sebanyak 361 saham menguat, 257 saham melemah, sedangkan 343 saham bergerak stagnan.

Penguatan indeks terutama didorong oleh sektor real estate yang melonjak 1,97 persen. Selain itu, sektor bahan baku naik 1,31 persen, konsumer nonprimer bertambah 1,11 persen, dan sektor keuangan menguat 0,69 persen. Sebaliknya, sektor utilitas turun 0,23 persen, industri melemah 0,15 persen, dan teknologi terkoreksi 0,11 persen.

Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi motor penggerak kenaikan indeks. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 5,91 poin, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 5,85 poin, PT Astra International Tbk (ASII) sebesar 4,49 poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 4,42 poin, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 3,78 poin. Penguatan juga ditopang saham MSIN, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), INKP, JPFA, dan MORA.

Di sisi lain, laju IHSG tertahan oleh pelemahan sejumlah saham unggulan. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi pemberat terbesar setelah memangkas 2,78 poin indeks. Tekanan juga datang dari BRMS, INDF, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), SRAJ, BREN, ICBP, MDKA, MBMA, serta AMRT.

Secara keseluruhan, dominasi penguatan saham sektor properti dan perbankan mampu mengimbangi tekanan yang terjadi pada sektor telekomunikasi, komoditas, dan barang konsumsi sehingga IHSG tetap mempertahankan tren positif hingga jeda siang, sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Selasa (07/07/2026).

Meski demikian, pergerakan indeks dinilai masih berada dalam fase rebound dan belum menunjukkan pembalikan tren secara penuh. Kenaikan sejak titik terendah pada Juni mencerminkan mulai meredanya tekanan jual, namun pelaku pasar masih menunggu konfirmasi dari sejumlah faktor penting seperti arus modal asing (foreign flow), pergerakan nilai tukar rupiah, suku bunga Bank Indonesia (BI), neraca perdagangan, serta indikator teknikal.

Secara teknikal, level 6.450 masih menjadi area krusial bagi IHSG. Selama indeks belum mampu mencatat penutupan mingguan (weekly close) di atas level tersebut dengan pola penguatan yang solid, peluang terbentuknya tren naik yang lebih kuat dinilai belum terkonfirmasi.

Apabila level tersebut belum ditembus, pergerakan IHSG diperkirakan masih berada dalam pola sideways. Area penopang (support) penting berada di kisaran 5.650 hingga 5.300–5.400. Jika area tersebut tetap bertahan, indeks berpeluang membentuk fondasi penguatan baru. Namun apabila ditembus, peluang menguji kembali level terendah sebelumnya masih terbuka.

Sentimen eksternal juga masih menjadi perhatian investor. Harga minyak Brent pada perdagangan sebelumnya ditutup di level US$71,99 per barel atau turun 0,18 persen, sedangkan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,2 persen menjadi US$68,55 per barel, level terendah sejak 27 Februari 2026.

Penurunan harga minyak dipengaruhi pulihnya arus pelayaran di Selat Hormuz serta keputusan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) untuk menaikkan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai bulan depan.

Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat (AS) juga bergerak melemah ke level 100,853, terendah sejak 19 Juni 2026. Pelemahan tersebut dinilai membuka peluang meningkatnya aliran investasi ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar saham domestik. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *