Bank Sentral Korea Selatan Naikkan Suku Bunga Pertama Kali dalam 3,5 Tahun
SEOUL – Prospek berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di Korea Selatan semakin menguat setelah Bank of Korea (BOK) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen pada Kamis (16/07/2026). Langkah pertama dalam tiga setengah tahun terakhir itu diambil menyusul meningkatnya tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang melampaui perkiraan, sebagaimana dilansir Kontan, Kamis (16/07/2026).
Keputusan tersebut ditetapkan dalam rapat Dewan Kebijakan Moneter BOK yang beranggotakan tujuh orang. Selain menaikkan suku bunga repo tujuh hari menjadi 2,75 persen, bank sentral juga memberikan sinyal bahwa pengetatan kebijakan masih berpotensi berlanjut apabila tekanan harga belum mereda.
Dalam pernyataannya, BOK menyebut pertumbuhan ekonomi Korea Selatan diperkirakan akan “jauh melebihi” proyeksi yang dirilis pada Mei 2026 sebesar 2,6 persen. Di sisi lain, inflasi diperkirakan tetap bertahan pada level tinggi dalam waktu yang cukup lama sehingga memerlukan respons kebijakan moneter yang lebih ketat.
Ekonom Capital Economics Gareth Leather menilai keputusan tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga berikutnya dalam beberapa bulan mendatang.
“Ada alasan kuat untuk mengharapkan pengetatan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang,” tulis Gareth Leather dalam catatannya.
Ia juga menilai pelemahan konsumsi rumah tangga belum cukup untuk mengubah prospek pertumbuhan ekonomi Korea Selatan.
“Meskipun terus melemahnya konsumsi swasta — penjualan ritel menurun secara riil — tetap menjadi perhatian, kami masih memperkirakan pertumbuhan akan mencapai angka di atas konsensus, yaitu 4,0% pada tahun ini.”
Kenaikan suku bunga dilakukan di tengah pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari perkiraan. Pada kuartal I 2026, ekonomi Korea Selatan tumbuh 1,8 persen atau menjadi laju tercepat dalam hampir enam tahun. Kondisi tersebut didukung meningkatnya ekspor serta investasi di sektor semikonduktor yang mendorong pemerintah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 menjadi 3,0 persen.
Meski demikian, nilai tukar won masih berada dalam tekanan dan telah melemah sekitar 3,4 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun ini. Kenaikan suku bunga juga diarahkan untuk membantu menjaga stabilitas mata uang nasional di tengah tekanan eksternal.
Di pasar keuangan, keputusan BOK tidak banyak mengubah pergerakan nilai tukar won karena telah diperkirakan pelaku pasar. Namun, indeks Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) justru terkoreksi sekitar 7 persen akibat aksi jual saham-saham sektor semikonduktor.
Langkah BOK turut menyelaraskan kebijakan moneter Korea Selatan dengan sejumlah bank sentral di kawasan Asia-Pasifik yang lebih dahulu menaikkan suku bunga, termasuk Bank of Japan, serta bank sentral Australia, Selandia Baru, Indonesia, dan Filipina.
Mayoritas analis memperkirakan BOK masih akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi sebelum akhir 2026 sehingga suku bunga kebijakan mencapai 3,00 persen. Bahkan, proyeksi median menunjukkan suku bunga berpotensi meningkat menjadi 3,25 persen pada kuartal I 2027 dan dipertahankan hingga akhir tahun depan sebagai bagian dari upaya mengendalikan inflasi. []
Redaksi01
