Wall Street Melemah, Saham Chip Seret Tiga Indeks Utama
NEW YORK – Tekanan pada saham sektor teknologi, khususnya industri semikonduktor, menyeret seluruh indeks utama Wall Street ke zona merah pada penutupan perdagangan Jumat (17/07/2026) waktu setempat. Koreksi tersebut sekaligus mengakhiri pekan dengan pelemahan di tengah meningkatnya kecenderungan investor mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman di tengah sentimen risk-off.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 406,55 poin atau 0,77 persen ke level 52.146,42. Indeks Standard and Poor’s 500 (S&P 500) melemah 76,08 poin atau 1,01 persen menjadi 7.457,69, sedangkan Nasdaq Composite kehilangan 361,70 poin atau 1,40 persen ke posisi 25.520,24.
Pelemahan pasar dipimpin oleh Philadelphia Semiconductor Index (SOX) yang mencatat penurunan mingguan terdalam dalam lebih dari setahun. Sepanjang Juli 2026, indeks sektor semikonduktor tersebut telah terkoreksi lebih dari 18 persen dan berada sekitar 20 persen di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada 22 Juni 2026 sehingga secara teknikal memasuki fase bear market.
“Pasar tampaknya mulai mengalami kejenuhan terhadap saham chip. Saham-saham tersebut telah melaju terlalu jauh dan kini kembali ke valuasi yang lebih wajar,” kata Kepala Strategi Pasar (Head of Market Strategy) Carson Group Ryan Detrick, sebagaimana dilansir Kontan, Sabtu (18/07/2026).
Aksi jual turut menekan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang selama ini menopang reli berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dari kelompok Magnificent Seven, hanya Apple yang mampu bertahan di zona positif. Sementara itu, Meta Platforms turun 2,7 persen dan Alphabet melemah 3,2 persen.
Secara sektoral, layanan komunikasi dan consumer discretionary menjadi kontributor utama pelemahan indeks S&P 500. Sebaliknya, sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang mencatat penguatan seiring kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan konflik Iran.
Di sisi lain, musim laporan keuangan kuartal II-2026 sebenarnya menunjukkan hasil yang cukup positif. Dari 49 emiten anggota S&P 500 yang telah merilis laporan keuangan, sekitar 90 persen membukukan laba di atas ekspektasi pasar. Berdasarkan data London Stock Exchange Group (LSEG), pertumbuhan laba agregat emiten S&P 500 kini diproyeksikan mencapai 26 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan estimasi 19,2 persen pada awal April.
Meski demikian, sejumlah laporan keuangan perusahaan justru memicu tekanan terhadap harga saham. Netflix merosot 7,3 persen setelah menyampaikan proyeksi kinerja yang lebih rendah dari perkiraan pasar. Uber Technologies turun 2,1 persen usai mengumumkan rencana akuisisi bisnis Delivery Hero di Jerman senilai hampir 15 miliar dolar Amerika Serikat. Adapun Intuitive Surgical anjlok 14,2 persen setelah mempertahankan proyeksi pertumbuhan prosedur bedah berbasis sistem da Vinci serta mengingatkan potensi penundaan tindakan medis akibat perubahan cakupan asuransi kesehatan.
Dari sisi makroekonomi, sentimen konsumen Amerika Serikat pada Juli meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan. Namun, data pembangunan rumah tapak dan penerbitan izin mendirikan bangunan melemah, sementara produksi industri hanya tumbuh 0,1 persen sehingga menggambarkan aktivitas ekonomi yang masih berlangsung secara moderat.
Di Bursa Efek New York (New York Stock Exchange/NYSE), jumlah saham yang ditutup melemah hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Kondisi serupa juga terjadi di Nasdaq, menandakan tekanan jual berlangsung secara luas di berbagai sektor pasar. []
Redaksi01
