Dolar AS Tertekan Sepekan, Konflik Timur Tengah Jadi Penyangga
NEW YORK – Meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong investor kembali memburu aset safe haven, sehingga mampu menahan pelemahan nilai tukar dolar AS. Meski demikian, mata uang Negeri Paman Sam itu tetap membukukan penurunan secara mingguan setelah ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) berkurang menyusul melandainya inflasi AS.
Perdagangan pada Jumat (17/07/2026) menunjukkan indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama dunia, berada di level 100,76. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan perdagangan harian, tetapi masih turun sekitar 0,2 persen sepanjang pekan.
Sentimen geopolitik menjadi faktor utama yang membatasi pelemahan dolar. Konflik yang meningkat antara AS dan Iran selama sepekan terakhir mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mendorong harga minyak mendekati posisi tertinggi dalam satu bulan. Kondisi tersebut membuat investor kembali mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
“Koreksi pasar saham global dan gangguan di Selat Hormuz memicu aksi mencari aset aman sehingga dolar berhasil memangkas sebagian pelemahannya pekan ini,” ujar Kepala Strategi Pasar Global (Global Market Strategy Head) Brown Brothers Harriman, Elias Haddad, sebagaimana dilansir Kontan, Sabtu (18/07/2026).
Di sisi lain, data ekonomi AS justru memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed belum akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Laporan inflasi yang menunjukkan tekanan harga semakin terkendali membuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli menurun signifikan.
Berdasarkan data pasar, peluang kenaikan suku bunga pada Juli kini diperkirakan sekitar 14 persen, turun dari sekitar 25 persen pada pekan sebelumnya. Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga secara kumulatif sekitar 30 basis poin hingga akhir 2026.
Selain inflasi, data ekonomi lainnya menunjukkan penjualan ritel AS pada Juni masih tumbuh tipis berkat peningkatan transaksi belanja daring. Stabilnya pasar tenaga kerja juga menjadi indikator bahwa perekonomian AS tetap berada dalam kondisi yang cukup kuat.
Pergerakan mata uang utama lainnya berlangsung bervariasi. Euro ditutup stabil di level 1,1436 dolar AS dan masih mencatat penguatan sekitar 0,2 persen secara mingguan. Sementara itu, poundsterling melemah 0,2 persen menjadi 1,3455 dolar AS pada perdagangan Jumat, meski tetap mencatat kenaikan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut seiring membaiknya prospek ekonomi serta stabilitas politik Inggris.
Dolar Australia juga membukukan kenaikan mingguan ketiga, walaupun pada perdagangan harian terkoreksi 0,23 persen ke level 0,6980 dolar AS akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk aversion).
Di kawasan Asia, yen Jepang diperdagangkan di kisaran 162,44 per dolar AS, mendekati posisi terlemah dalam hampir empat dekade. Pelaku pasar masih mencermati kemungkinan intervensi pemerintah Jepang setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kembali menyatakan kesiapan pemerintah mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar yen.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan pasar keuangan global saat ini dipengaruhi kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS serta meningkatnya tensi di Timur Tengah diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan mata uang global dalam waktu dekat. []
Redaksi01
