JCFF 2026 Jadi Panggung UMKM Kopi Tembus Pasar Global

SURABAYA – Pameran Java Coffee & Flavor Fest (JCFF) 2026 menjadi ajang bagi pelaku usaha kopi untuk memperluas pasar hingga tingkat internasional. Melalui kegiatan yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur (Jatim), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) didorong naik kelas melalui penguatan kualitas produk, inovasi, dan jejaring bisnis.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari pada 17–19 Juli 2026 di Alun-alun Kota Surabaya itu menghadirkan pameran komoditas kopi, rempah, dan cokelat, serta rangkaian talkshow bertema Local Beans, Global Dreams: Meracik Rasa untuk Dunia. Acara tersebut juga bertujuan memperluas akses pasar global sekaligus mendukung pengembangan sport tourism, sebagaimana diberitakan Detiknews, Jumat (17/07/2026).

Dalam sesi talkshow, pendiri Kopi Titik Koma, Andrew Goenardi, membagikan pengalaman membangun usaha dari skala UMKM hingga berkembang menjadi jaringan yang memiliki 47 gerai di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, ekspansi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kopi Indonesia ke pasar dunia.

“JCFF 2026, wadah bagi perintis bisnis kopi. Kami bermula sebagai UMKM. Fokus kami saat itu, mengenalkan kopi berkualitas. Dengan pilihan yang jelas bagi konsumen,” kata Andrew.

Andrew menjelaskan salah satu titik penting perkembangan usahanya terjadi pada tahun ketiga melalui peluncuran produk Es Kopi Susu Gula Aren. Produk tersebut kini menyumbang sekitar 50 persen dari total penjualan dan menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal berbagai jenis kopi.

“Es kopi susu gula aren, ini menjadi pintu masuk. Lewat menu yang familier ini, konsumen awam mulai tertarik mencoba dan akhirnya belajar, bahwa jenis kopi itu sebenarnya sangat beragam,” ujarnya.

Turut hadir sebagai pembicara, Juara Pertama World Barista Championship, Mikael Jasin, yang menyoroti pentingnya menjaga konsistensi mutu di tengah ekspansi bisnis. Menurutnya, kualitas kopi dipengaruhi banyak faktor, termasuk kondisi cuaca, sehingga pengendalian mutu harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Kopi itu soal selera. Apa yang menurut kami enak, belum tentu sesuai dengan selera konsumen. Karena itu, kami harus terus mendengar,” ungkap Mikael Jasin.

Ia menambahkan, persaingan industri kopi saat ini tidak hanya ditentukan oleh cita rasa produk, tetapi juga kualitas sumber daya manusia (SDM) serta pelayanan kepada pelanggan.

“Resep itu bisa ditiru. Namun, yang membuat konsumen kembali adalah bagaimana kami membangun tim dan memberikan pelayanan terbaik,” pungkasnya.

Melalui penyelenggaraan JCFF 2026, BI Jatim berharap pelaku UMKM kopi mampu meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkenalkan kopi Indonesia ke pasar internasional dengan dukungan inovasi, kualitas produk, dan penguatan SDM. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *