Wall Street Ditutup Menguat, Amazon Bangkitkan Optimisme Investasi AI
NEW YORK – Optimisme investor terhadap prospek investasi artificial intelligence (AI) kembali menguat setelah kinerja keuangan Amazon melampaui ekspektasi pasar. Sentimen positif tersebut mendorong indeks-indeks utama Wall Street ditutup di zona hijau pada perdagangan Jumat (31/07/2026), meski saham Apple mengalami tekanan tajam akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan produk.
Berdasarkan data perdagangan sebagaimana dilansir Kontan, Sabtu (01/08/2026), yang mengutip Reuters, Indeks Standard & Poor’s 500 (S&P 500) ditutup menguat 0,70 persen ke level 7.489,72. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite (Nasdaq) naik 1 persen menjadi 25.373,85 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) bertambah 0,53 persen ke posisi 52.485,03.
Penguatan Wall Street didorong oleh lonjakan saham Amazon yang melesat lebih dari 15 persen setelah perusahaan membukukan pertumbuhan pendapatan kuartalan tertinggi dalam lebih dari empat tahun. Capaian tersebut memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa investasi besar pada infrastruktur AI mulai menunjukkan prospek bisnis yang menjanjikan.
Selain pertumbuhan pendapatan, kinerja unit komputasi awan Amazon Web Services (AWS) yang tetap solid turut memperkuat optimisme investor terhadap potensi pertumbuhan bisnis berbasis AI pada masa mendatang.
Sentimen positif itu juga mendapat dukungan dari Microsoft. Setelah melonjak lebih dari 15 persen pada perdagangan sebelumnya berkat proyeksi pertumbuhan bisnis cloud yang lebih tinggi dari perkiraan, saham Microsoft kembali menguat sekitar 3 persen pada perdagangan Jumat.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar saham global sempat dibayangi kekhawatiran bahwa belanja besar perusahaan teknologi untuk membangun pusat data AI belum memberikan manfaat finansial secara cepat. Kondisi tersebut sempat menekan saham-saham teknologi yang selama ini menjadi motor utama penguatan Wall Street.
Di tengah penguatan mayoritas saham teknologi, Apple justru menjadi faktor penekan pasar. Saham perusahaan tersebut anjlok 7,4 persen setelah manajemen memperingatkan adanya kendala pasokan yang diperkirakan membatasi pertumbuhan penjualan. Peringatan itu juga memicu kekhawatiran bahwa kenaikan harga iPhone dapat mengurangi minat beli konsumen.
Tekanan terhadap Apple membuat indeks sektor teknologi S&P 500 turun 0,54 persen. Meski demikian, sejumlah emiten teknologi lainnya masih membukukan kinerja positif, termasuk Monolithic Power Systems yang melonjak lebih dari 8 persen setelah memproyeksikan pendapatan kuartal III di atas perkiraan analis.
Aktivitas perdagangan di bursa Amerika Serikat (AS) juga meningkat signifikan. Sebanyak 20,6 miliar saham berpindah tangan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 17,1 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.
Secara mingguan, S&P 500 menguat 1,05 persen dan Nasdaq naik 1,59 persen. Namun sepanjang Juli, S&P 500 bergerak relatif datar, sedangkan Nasdaq masih mencatat penurunan sekitar 3,2 persen. Meski begitu, kedua indeks tersebut masih membukukan kenaikan sekitar 9 persen sejak awal 2026.
Musim laporan keuangan emiten masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar. Berdasarkan data London Stock Exchange Group Institutional Brokers’ Estimate System (LSEG I/B/E/S), laba gabungan perusahaan anggota S&P 500 pada kuartal II 2026 diperkirakan meningkat 48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor AI menjadi kontributor terbesar.
Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed). Tiga pejabat The Fed kembali menyerukan perlunya kenaikan suku bunga guna mempercepat penurunan inflasi menuju target 2 persen.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik 5,4 basis poin menjadi 4,28 persen. Sementara itu, berdasarkan data Chicago Mercantile Exchange (CME) FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September diperkirakan sebesar 65 persen, turun dari 82 persen pada sepekan sebelumnya.
Di luar sektor teknologi, saham GoDaddy merosot hampir 17 persen setelah perusahaan memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunannya. Pada perdagangan Jumat, S&P 500 mencatat empat saham yang menyentuh rekor tertinggi baru dan empat saham yang mencetak level terendah baru. Nasdaq membukukan 52 saham yang mencapai rekor tertinggi baru serta 131 saham yang menyentuh level terendah baru. Kondisi tersebut menunjukkan sentimen pasar masih dipengaruhi kinerja fundamental masing-masing emiten di tengah ekspektasi terhadap perkembangan AI dan arah kebijakan moneter AS. []
Redaksi01
