Harga Minyak Dunia Turun, Pasar Sambut Potensi Tambahan Pasokan Timur Tengah
JAKARTA – Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Kamis (06/08/2026) setelah pasar merespons potensi bertambahnya pasokan energi dari Timur Tengah. Harapan tersebut muncul menyusul kesepakatan Iran dan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz, meski risiko geopolitik di kawasan masih membayangi pergerakan harga minyak.
Minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran USD79 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD75 per barel. Kedua kontrak acuan tersebut melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung selama tiga sesi berturut-turut.
Berdasarkan data pasar sebagaimana dilansir Trading Economics, Kamis (06/08/2026), pelemahan harga dipicu optimisme pelaku pasar terhadap meningkatnya distribusi energi dari Timur Tengah setelah Iran dan Oman mencapai kesepakatan mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Kesepakatan tersebut memicu ekspektasi meningkatnya arus pasokan energi dari Timur Tengah,” tulis Trading Economics.
Meski demikian, pernyataan bersama kedua negara masih berada dalam tahap peninjauan dan penyusunan akhir. Jalur pelayaran yang diusulkan diperkirakan mulai beroperasi dalam kurun waktu dua hingga empat bulan.
Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak serta-merta membuka kembali secara penuh jalur perairan strategis Selat Hormuz. Pernyataan itu membuat pelaku pasar tetap mencermati perkembangan implementasi kesepakatan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat terus menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran semakin mendekati tahap penyelesaian. Kendati demikian, investor masih mempertimbangkan berbagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Sentimen pasar juga dibayangi meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim telah menargetkan sebuah kapal tanker minyak Arab Saudi di Teluk Aden serta mengancam kapal-kapal lain yang melintas di Laut Merah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat peluang peningkatan pasokan minyak dari Timur Tengah, risiko gangguan distribusi energi global akibat konflik geopolitik masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga minyak dalam waktu dekat. []
Redaksi01
