Knight Frank: Okupansi Apartemen Sewa Jakarta Capai 67,6 Persen pada Semester I 2026
JAKARTA – Pasar apartemen sewa di Jakarta masih menunjukkan tren pemulihan pada semester pertama 2026, meski tingkat okupansi belum kembali ke posisi sebelum pandemi. Data terbaru Knight Frank Indonesia mencatat tingkat penyewaan rata-rata mencapai 67,6 persen dengan total pasokan tetap sebanyak 9.843 unit, sementara segmen penyewa masih didominasi ekspatriat dan klien korporasi.
Laporan pasar properti tersebut juga menunjukkan bahwa kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) masih menjadi lokasi dengan tingkat hunian tertinggi dibandingkan subpasar lainnya. Kondisi itu mencerminkan tingginya preferensi penyewa terhadap apartemen yang berada di sekitar pusat aktivitas bisnis, sebagaimana diberitakan Indonesia Housing, Kamis (06/08/2026).
Knight Frank Indonesia mencatat tidak ada tambahan pasokan apartemen sewa pada semester pertama 2026 karena sejumlah proyek menunda proses peluncuran. Meski demikian, hingga 2028 diperkirakan akan ada tambahan sekitar 872 unit baru yang masuk ke pasar.
Di sisi harga, apartemen sewa berlayanan atau serviced apartment mencatat kenaikan tarif rata-rata sekitar 2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sebaliknya, harga sewa apartemen non-serviced mengalami koreksi sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pasar apartemen sewa di Jakarta masih didominasi penyewa dari kalangan ekspatriat, khususnya yang berasal dari Asia Timur. Selain itu, penyewa dari Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah juga masih menjadi bagian dari pasar apartemen sewa, baik di kawasan CBD maupun kawasan Prime Non-CBD.
Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menilai persaingan di sektor apartemen sewa kini semakin kompetitif seiring bertambahnya pilihan hunian premium yang tersedia di Jakarta.
“Dalam kondisi pasar yang masih berada pada fase softening market, menurut Willson, keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas fisik properti, tetapi juga oleh kemampuan pengelola menghadirkan pengalaman tinggal (living experience) yang berbeda melalui layanan yang inovatif, fleksibel, dan berorientasi pada kebutuhan penyewa.”
“Di saat yang sama, perluasan target pasar serta kolaborasi dengan sektor kreatif, pariwisata, dan ekosistem bisnis menjadi langkah strategis untuk menciptakan sumber permintaan baru dan memperkuat daya saing,” jelasnya.
Sebagai perbandingan, performa terbaik pasar apartemen sewa Jakarta terjadi pada periode 2012–2013, ketika tingkat okupansi mampu mencapai sekitar 86 persen dengan pertumbuhan harga sewa mencatat kenaikan dua digit. Meski belum kembali ke level tersebut, prospek penambahan pasokan baru dan strategi diversifikasi pasar diharapkan dapat mendorong pemulihan sektor apartemen sewa dalam beberapa tahun mendatang. []
Redaksi01
