IHSG Melesat 0,71 Persen di Sesi I, Seluruh Sektor Menguat

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi pertama pada Jumat (07/08/2026) di zona hijau setelah menguat 44,772 poin atau 0,71 persen ke level 6.388,483. Kenaikan tersebut ditopang optimisme pasar domestik menyusul rilis cadangan devisa Indonesia, meski pelaku pasar global masih bersikap hati-hati menanti data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 11.30 WIB, sebanyak 338 saham mencatat penguatan, 247 saham melemah, dan 204 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp8,8 triliun dengan volume perdagangan sekitar 23,5 miliar saham.

Seluruh indeks sektoral bergerak di zona positif. Sektor infrastruktur memimpin penguatan dengan kenaikan 2,17 persen, diikuti sektor properti sebesar 1,55 persen dan sektor bahan baku sebesar 1,11 persen.

Penguatan IHSG juga ditopang lonjakan sejumlah saham unggulan. Saham PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi pencetak kenaikan terbesar di kelompok Indeks LQ45 setelah melesat 16,32 persen ke level Rp2.210 per saham. Disusul PT Indika Energy Tbk (INDY) yang naik 6,27 persen menjadi Rp2.710 per saham serta PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang menguat 5,66 persen ke posisi Rp560 per saham.

Di sisi lain, beberapa saham dalam kelompok LQ45 masih mengalami tekanan. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) terkoreksi 3,55 persen menjadi Rp1.630 per saham. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melemah 1,05 persen ke Rp1.415 per saham, sedangkan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) turun 0,94 persen menjadi Rp525 per saham.

Sentimen positif dari dalam negeri datang setelah Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 sebesar 145,3 miliar dolar AS. Meski turun tipis dibandingkan posisi akhir Juni yang mencapai 145,6 miliar dolar AS, angka tersebut masih dinilai sesuai dengan ekspektasi pasar.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan perkembangan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan obligasi global pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, sebagaimana dilansir Kontan, Jumat (07/08/2026).

Dari eksternal, pergerakan bursa saham Asia cenderung terbatas karena investor memilih menunggu publikasi data ketenagakerjaan AS yang diperkirakan menjadi salah satu faktor penentu arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) pada pertemuan berikutnya.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi sentimen investasi global dalam jangka pendek. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *