Wall Street Ambruk, Saham Chip Jadi Beban Utama Pasar

NEW YORK – Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu tekanan utama bagi pasar saham Wall Street pada Selasa (18/08/2026). Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi eksposur pada saham-saham teknologi dan beralih ke sektor yang dinilai lebih defensif, sehingga tiga indeks utama Wall Street ditutup di zona merah.

Indeks Standard & Poor’s 500 (S&P 500) turun 53,30 poin atau 0,69% menjadi 7.691,76. Indeks Nasdaq Composite merosot 355,20 poin atau 1,33% ke 26.289,71, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 116,38 poin atau 0,22% menjadi 53.343,40.

Tekanan paling besar datang dari sektor teknologi informasi yang turun 1,9 persen. Sektor tersebut menjadi penyumbang negatif terbesar terhadap pergerakan S&P 500 di antara 11 sektor utama indeks.

Kenaikan imbal hasil obligasi terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai kondisi Timur Tengah. Memudarnya harapan tercapainya perdamaian mendorong harga minyak naik dan memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi. Kondisi itu kemudian meningkatkan tekanan terhadap pasar obligasi.

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.

Perubahan tersebut menjadi beban bagi saham perusahaan dengan ekspektasi pertumbuhan tinggi, khususnya emiten teknologi. Kenaikan biaya pinjaman membuat valuasi atas potensi pertumbuhan laba perusahaan menjadi kurang menarik di mata investor.

“Hal ini bermula seperti efek domino. Pembicaraan gagal mencapai kesepakatan. Hal itu menyebabkan harga minyak naik. Kondisi tersebut memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi,” ujar Burns McKinney, manajer portofolio di NFJ Investment Group, sebagaimana diberitakan Kontan, Rabu (19/08/2026).

Ia menambahkan bahwa “setiap kali imbal hasil obligasi naik, dampaknya cenderung lebih berat terhadap saham-saham teknologi.”

Tekanan tersebut terlihat jelas pada kelompok perusahaan semikonduktor. Indeks Semikonduktor Philadelphia (PHLX Semiconductor Sector Index) anjlok 5 persen setelah investor melakukan aksi jual terhadap saham-saham yang sebelumnya mengalami reli berkat optimisme terhadap permintaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Saham Nvidia, perusahaan pembuat chip yang banyak digunakan untuk kebutuhan AI, turun 2,3 persen. Micron Technology bahkan merosot 7 persen setelah sebelumnya mencatat kenaikan hampir 18 persen dalam lima sesi perdagangan.

Penurunan lebih tajam terjadi pada saham perusahaan penyimpanan data Sandisk dan Western Digital yang masing-masing terkoreksi 9 persen dan 7,4 persen. Sementara itu, exchange-traded fund (ETF) Roundhill Memory turun 8,8 persen setelah membukukan kenaikan selama lima sesi berturut-turut.

” Tidak ada hal yang dapat mematahkan reli momentum sekuat kenaikan suku bunga, dan hari ini kita melihat bukti nyata akan hal tersebut,” ujar Tony Welch, Chief Investment Officer (CIO) di SignatureFD.

Ia menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil (yield) mengindikasikan kebijakan Federal Reserve (The Fed) terlalu longgar jika melihat prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Di tengah aksi jual saham teknologi, investor mulai mengalihkan dana ke sektor yang dianggap lebih defensif. Sektor kesehatan menguat 1,6 persen, sedangkan sektor barang kebutuhan pokok konsumen naik 1,1 persen.

Sentimen hati-hati juga tercermin dari Indeks Volatilitas Cboe (VIX), yang kerap dijadikan indikator ketakutan pasar. VIX naik 0,65 poin menjadi 15,84 dan mencatat penutupan tertinggi sejak 4 Agustus.

Perdagangan saham di bursa AS mencapai 14,86 miliar saham. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata volume perdagangan selama 20 hari terakhir yang mencapai 16,88 miliar saham.

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada sejumlah data dan laporan penting. Pelaku pasar menantikan laporan kinerja sejumlah perusahaan ritel yang dijadwalkan terbit pada akhir pekan, termasuk Walmart yang menjadi salah satu tolok ukur sektor ritel.

Selain itu, risalah rapat Federal Reserve Juli yang dijadwalkan dirilis Rabu (19/08/2026) berpotensi memberikan petunjuk mengenai pandangan bank sentral terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Laporan keuangan Nvidia juga menjadi perhatian besar karena kinerja perusahaan tersebut dipandang sebagai ujian berikutnya terhadap keberlanjutan momentum saham berbasis kecerdasan buatan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *