Bursa Australia Tertekan, Saham Bank dan Emas Jadi Beban
JAKARTA – Bursa saham Australia kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (19/08/2026), dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,3% menjadi 9.043 poin. Pelemahan terutama dipicu aksi jual saham perbankan dan perusahaan tambang emas, sementara sektor energi dan sejumlah saham berbasis kinerja korporasi mampu menahan tekanan lebih dalam.
Mengutip Reuters sebagaimana diberitakan Kontan, Rabu (19/08/2026), penurunan indeks S&P/ASX 200 tercatat pada pukul 01.07 GMT. Jika berlanjut hingga akhir perdagangan, indeks acuan pasar saham Australia tersebut akan membukukan pelemahan selama enam sesi berturut-turut.
Tekanan terbesar datang dari sektor keuangan yang melemah 1,1 persen. Sektor tersebut berpotensi mencatatkan penurunan selama empat sesi perdagangan beruntun. Empat bank besar Australia atau Big Four seluruhnya bergerak di zona merah, dengan penurunan harga saham berkisar 0,6 persen hingga 2,3 persen.
Selain perbankan, saham perusahaan tambang emas ikut menjadi pemberat indeks. Sektor pertambangan emas turun 2,8 persen seiring pelemahan harga emas di pasar global. Saham Evolution Mining dan Northern Star Resources masing-masing terkoreksi lebih dari 1,5 persen.
Sektor teknologi juga belum mampu memberikan dorongan terhadap bursa Australia. Saham-saham teknologi turun hingga 1,3 persen setelah investor melakukan aksi jual terhadap saham teknologi di Wall Street.
Di tengah dominasi sentimen negatif tersebut, sektor energi justru bergerak berlawanan arah. Sektor ini menguat hingga 1,1 persen dan mencapai posisi tertinggi sejak awal Mei 2026.
Saham Santos menjadi salah satu penopang utama sektor energi dengan kenaikan hingga 3,5 persen sekaligus menyentuh level tertinggi sejak Juni 2022. Penguatan tersebut terjadi setelah perusahaan minyak dan gas itu melaporkan penurunan laba semester pertama yang lebih kecil dibandingkan perkiraan pasar.
Santos juga memperkirakan produksi akan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Prospek tersebut membuat saham perusahaan menjadi penguat terbesar di antara saham-saham sektor energi pada perdagangan tersebut.
Sebaliknya, Whitehaven Coal menghadapi tekanan setelah melaporkan kinerja tahunan yang melemah. Saham perusahaan tambang batu bara independen terbesar di Australia itu turun hingga 4,9 persen setelah laba tahunan anjlok 29 persen.
Pergerakan positif justru terlihat pada Stockland Corporation. Saham perusahaan properti terdiversifikasi tersebut melonjak hingga 16,1 persen setelah mencatatkan kenaikan laba bersih tahunan sebesar 20,2 persen. Kinerja tersebut menjadikan Stockland salah satu saham yang memberikan dorongan positif bagi pasar Australia.
Perkembangan berbeda terjadi di Selandia Baru. Indeks S&P/NZX 50 naik 0,2 persen menjadi 13.896,68. Saham Fletcher Building menguat hingga 6,4 persen dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.
Penguatan Fletcher Building terjadi setelah perusahaan konstruksi tersebut kembali membukukan laba. Kinerja itu antara lain ditopang hasil divestasi divisi konstruksi serta sejumlah unit bisnis noninti.
Pergerakan bursa Australia menunjukkan investor masih berhati-hati menghadapi kombinasi tekanan pada sektor keuangan, emas, dan teknologi. Namun, kinerja perusahaan yang melampaui ekspektasi serta prospek produksi dan laba yang membaik masih mampu menciptakan ruang penguatan bagi sejumlah saham di tengah tekanan pasar secara keseluruhan. []
Redaksi01
