Okupansi Hotel Batu Naik, Lama Menginap Wisatawan Malah Turun

BATU – Kenaikan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Kota Batu pada Juni 2026 belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kualitas kunjungan wisatawan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu mencatat TPK seluruh akomodasi mencapai 29,40 persen, naik 1,43 poin dibandingkan Mei yang berada di level 27,97 persen. Namun, rata-rata lama menginap tamu justru turun menjadi 1,04 malam.

Data tersebut menunjukkan wisatawan semakin banyak menggunakan akomodasi di Batu, tetapi sebagian besar masih melakukan kunjungan dalam waktu relatif singkat. Kondisi ini menjadi tantangan bagi sektor pariwisata untuk tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggal.

Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, berdasarkan berita resmi statistik BPS Kota Batu Nomor 10/08/3579/Th. XII yang dirilis pada 10 Agustus 2026, peningkatan okupansi terjadi pada kelompok hotel berbintang maupun hotel nonbintang dan akomodasi lainnya.

“Hotel berbintang mencatat TPK sebesar 38,13 persen pada Juni 2026. Angka itu naik 1,98 poin dibandingkan Mei yang mencapai 36,15 persen,” katanya, Rabu (19/08/2026).

Jika dibandingkan dengan Juni 2025, TPK hotel berbintang juga meningkat 4,13 poin. Artinya, dari setiap 100 kamar hotel berbintang yang tersedia di Batu, rata-rata sekitar 38 hingga 39 kamar terisi setiap malam.

Peningkatan juga terjadi pada akomodasi nonbintang. “Kenaikan juga terjadi pada kelompok hotel nonbintang dan akomodasi lainnya. TPK kelompok ini mencapai 22,94 persen, atau bertambah 1,01 poin dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 21,93 persen,” tambahnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batu Aries Setiawan menyebut kenaikan juga terlihat secara tahunan. “Angka tersebut tidak hanya meningkat secara bulanan, tetapi juga lebih tinggi 4,80 poin dibandingkan Juni 2025. Kenaikan tingkat hunian ini menunjukkan sebagian kapasitas kamar hotel di Kota Batu kembali terserap lebih banyak dibandingkan bulan sebelumnya,” bebernya.

Meski tingkat keterisian kamar membaik, indikator lama tinggal wisatawan menunjukkan arah berbeda. Data BPS mencatat rata-rata lama menginap tamu (RLMT) pada Juni 2026 sebesar 1,04 malam, turun 0,02 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Pola tersebut berbeda antara wisatawan asing dan wisatawan domestik. RLMT tamu asing tercatat 1,24 malam atau meningkat 0,19 poin secara bulanan. Angka itu juga lebih tinggi 0,21 poin dibandingkan Juni 2025.

“Menariknya, tamu asing justru memiliki rata-rata lama menginap lebih panjang dibandingkan wisatawan domestik. RLMT tamu asing tercatat 1,24 malam, naik 0,19 poin dibandingkan bulan sebelumnya,” urainya.

Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu Indonesia berada di angka 1,04 malam. Angka tersebut turun 0,02 poin dibandingkan Mei, tetapi masih lebih tinggi 0,01 poin dibandingkan Juni 2025.

Perbedaan durasi juga terlihat berdasarkan jenis akomodasi. “Jika dilihat berdasarkan klasifikasi akomodasi, tamu yang menginap di hotel berbintang memiliki durasi sedikit lebih lama. RLMT di hotel berbintang mencapai 1,07 malam, sedangkan hotel nonbintang dan akomodasi lainnya berada di angka 1,01 malam,” tegasnya.

Data BPS sebagaimana diberitakan Times Indonesia, Rabu (19/08/2026), memperlihatkan bahwa penguatan sektor akomodasi Batu pada Juni tidak hanya terlihat dari meningkatnya keterisian kamar, tetapi juga menyisakan pekerjaan untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan.

“Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa aktivitas kunjungan ke Kota Batu mulai memberikan dorongan terhadap tingkat keterisian kamar, meski tantangan untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama masih menjadi pekerjaan berikutnya bagi sektor pariwisata dan usaha akomodasi,” terangnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *