Harga Minyak Dunia Anjlok 2,35 Persen, Brent Jadi USD92,17
NEW YORK – Harga minyak mentah dunia merosot lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026, setelah investor memilih merealisasikan keuntungan dari kenaikan harga dalam dua pekan sebelumnya. Penurunan terjadi ketika pasar juga mencermati perluasan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran serta masih terganggunya lalu lintas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup turun USD2,22 atau 2,35 persen menjadi USD92,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah USD2,05 atau 2,35 persen ke posisi USD85,01 per barel.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual dari investor lebih dominan dibandingkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Sebagaimana diberitakan Kumparan, Selasa, (25/08/2026), Brent dan WTI sebelumnya telah mencatat kenaikan selama dua pekan berturut-turut dan bahkan melonjak lebih dari 5 persen pada pekan sebelumnya.
Analis strategi investasi Raymond James Pavel Molchanov menilai pelemahan harga pada awal pekan lebih berkaitan dengan aksi ambil untung setelah reli sebelumnya.
“Tidak banyak hal baru yang disampaikan Bessent, selain apa yang sebelumnya sudah diperkirakan,” kata Pavel Molchanov, analis strategi investasi di Raymond James.
Menurut Molchanov, kenaikan harga yang cukup besar pada pekan sebelumnya membuat sebagian pelaku pasar memilih mengamankan keuntungan. Kondisi tersebut turut menekan harga Brent dan WTI meskipun risiko geopolitik masih menjadi perhatian.
Amerika Serikat pada Senin memperluas sanksi sekunder terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan kebijakan yang dapat menyasar perusahaan dan negara yang masih melakukan hubungan bisnis dengan Iran.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari peningkatan tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran ketika konflik telah berlangsung hampir enam bulan. Langkah tersebut juga menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump pada pekan sebelumnya mengenai ancaman “perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Teheran.
Molchanov menilai pasar masih menunggu bukti mengenai seberapa besar dampak kebijakan baru tersebut terhadap perekonomian Iran.
“Apakah Gedung Putih dapat menghasilkan sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya dan memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap perekonomian Iran? Kami akan percaya setelah melihatnya,” kata Molchanov.
Analis Rystad Energy Jorge Leon menilai efektivitas sanksi baru tersebut akan sangat bergantung pada tingkat ketegasan Washington dalam menerapkannya terhadap mitra dagang Iran.
“Pertanyaan sebenarnya sekarang adalah seberapa agresif Washington bersedia menegakkan sanksi sekunder terhadap mitra dagang Iran yang masih tersisa,” kata Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy.
Menurut Leon, dampak terhadap penerimaan ekspor minyak Iran berpotensi tetap terbatas apabila China tidak mengurangi pembelian minyak dari Iran secara signifikan.
“Kecuali China secara signifikan mengurangi pembeliannya lebih jauh, dampak tambahan terhadap pendapatan minyak Iran kemungkinan akan relatif terbatas,” tambahnya.
Iran mengecam rencana pemberlakuan sanksi baru tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penyelesaian persoalan melalui jalur diplomatik. Pada hari yang sama, Kepala Angkatan Darat Pakistan berkunjung ke Teheran untuk melakukan pembicaraan mediasi menjelang pengumuman sanksi baru AS.
Selain sanksi, pasar minyak juga menghadapi risiko dari gangguan pengiriman di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi salah satu jalur utama distribusi energi global dan sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Data pengiriman yang terlihat pada Senin menunjukkan kurang dari 20 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan. Pembatasan lalu lintas kapal yang melibatkan Iran dan AS menambah ketidakpastian terhadap kelancaran distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.
Namun, Chief Executive Officer (CEO) TotalEnergies Patrick Pouyanne menyatakan perusahaannya masih dapat mengirimkan minyak melalui Selat Hormuz secara menguntungkan. Menurut dia, kenaikan biaya transportasi masih dapat ditutupi oleh besarnya diskon yang diberikan produsen minyak mentah.
Perusahaan Pemasaran Minyak Negara Irak (SOMO) dan QatarEnergy juga menawarkan minyak mentah untuk dimuat di kawasan selat melalui mekanisme tender, berdasarkan informasi dari sejumlah pedagang.
Analis SEB Bjarne Schieldrop menilai harga minyak yang masih berada di sekitar USD93 per barel menjadi indikasi bahwa sebagian pasokan dari kawasan Teluk Persia tetap mengalir.
“Harga Brent USD 93 per barel, bukan USD 120–150, menunjukkan kepada kita bahwa cukup banyak minyak masih mengalir melalui Selat Hormuz dan secara umum dari kawasan Teluk Persia,” kata analis SEB Bjarne Schieldrop kepada Reuters.
Meski demikian, Schieldrop memperingatkan kondisi pasar dapat berubah drastis apabila Iran benar-benar mengambil tindakan untuk menutup Selat Hormuz menggunakan roket dan drone. Langkah tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan pasokan dan mendorong volatilitas harga minyak.
Di tengah ketidakpastian pasokan dan perkembangan geopolitik tersebut, analis Morgan Stanley justru menaikkan proyeksi harga minyak Brent. Mereka memperkirakan harga Brent berpotensi mencapai USD100 per barel pada kuartal IV 2026.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) belum membahas rencana pelepasan minyak tahap kedua dari cadangan strategis. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyampaikan hal tersebut pada Senin.
Pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara aksi ambil untung investor, efektivitas sanksi terhadap Iran, kelancaran pengiriman melalui Selat Hormuz, serta potensi respons negara-negara di kawasan. []
Redaksi01
