Wall Street Menguat, Investor Tunggu Kinerja Nvidia
NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali bergerak positif pada perdagangan Selasa (25/08/2026), setelah saham teknologi bangkit dari tekanan aksi jual sehari sebelumnya. Perhatian investor kini beralih ke laporan kinerja Nvidia yang akan menjadi salah satu penentu arah perdagangan saham berbasis teknologi sekaligus menguji keberlanjutan reli pasar yang ditopang optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Mengutip Reuters, sebagaimana diberitakan Reuters, Selasa (25/08/2026), penguatan terjadi di tiga indeks utama Wall Street. Dow Jones Industrial Average naik 160,24 poin atau 0,30 persen menjadi 53.577,40. Indeks S&P 500 bertambah 24,38 poin atau 0,32 persen ke level 7.677,24, sedangkan Nasdaq Composite menguat 171,11 poin atau 0,66 persen menjadi 26.151,30.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor mulai kembali masuk ke saham teknologi setelah tekanan pasar obligasi dan kenaikan imbal hasil sempat membebani bursa. Penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi berjangka panjang turut memberikan ruang bagi pasar saham untuk menguat.
Kepala Strategi Pasar Merrill dan Bank of America Private Bank Joe Quinlan mengatakan sejumlah faktor masih menjadi perhatian pelaku pasar, mulai dari pasar obligasi hingga kondisi geopolitik dan pergerakan harga minyak.
“Banyak faktor yang saling tarik-menarik, di pasar obligasi, geopolitik, dan minyak,” kata Quinlan.
“Namun, kami cukup konstruktif terhadap prospek perekonomian AS dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, oleh karena itu, kami juga memiliki pandangan konstruktif terhadap pasar,” lanjutnya.
Meski demikian, penguatan Wall Street belum sepenuhnya menghapus kewaspadaan investor. Laporan keuangan Nvidia pada Rabu (26/08/2026) dipandang sebagai ujian penting karena perusahaan tersebut berada di pusat perdagangan saham yang berkaitan dengan ledakan investasi AI.
Investor akan mencermati apakah pertumbuhan Nvidia masih mampu memenuhi ekspektasi pasar yang tinggi. Setiap indikasi perlambatan dapat kembali memunculkan pertanyaan mengenai valuasi saham teknologi serta keberlanjutan belanja perusahaan hyperscaler untuk membangun infrastruktur AI.
“Ini adalah masalah klasik ketika menjadi pusat pembangunan, ketika Anda menjadi bagian utama dari perdagangan, eksekusi berhenti menjadi katalis dan berubah menjadi prasyarat,” kata Kepala Investasi Siebert Financial Mark Malek.
Sejumlah saham teknologi berkapitalisasi besar ikut menopang penguatan indeks. Nvidia naik 2,2 persen, sedangkan Meta menguat hampir 2 persen. Micron naik 2,5 persen dan indeks saham semikonduktor secara keseluruhan bertambah 1,4 persen setelah sehari sebelumnya merosot 2,7 persen.
Advanced Micro Devices (AMD) bahkan melonjak 4,9 persen setelah Raymond James menaikkan peringkat saham perusahaan tersebut. Sementara itu, Moderna melesat 14 persen setelah Barclays meningkatkan target harga sahamnya. Kenaikan tersebut terjadi beberapa hari setelah Moderna dan Merck mengumumkan hasil uji klinis tahap akhir vaksin kanker kulit yang dikembangkan bersama.
Namun, tidak semua saham bergerak positif. Dick’s Sporting Goods merosot 30,7 persen setelah peritel tersebut memangkas proyeksi tahunannya. Saham Nike juga melemah. Target turun 3,8 persen setelah perusahaan menarik kostum Halloween yang menuai kritik karena dinilai menyerupai blackface.
Dari sisi ekonomi, perhatian investor juga tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan dirilis Rabu (26/8/2026). Data tersebut berpotensi memberikan petunjuk tambahan mengenai tekanan harga dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS.
Sebelumnya, survei menunjukkan kepercayaan konsumen AS pada Agustus turun ke level terendah dalam tujuh bulan. Kendati demikian, pelaku pasar uang masih memperkirakan kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.
Investor selanjutnya akan mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, Wyoming, pada Jumat (28/8/2026). Pernyataan tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Di New York Stock Exchange (NYSE), saham yang menguat mengungguli saham yang melemah dengan rasio 1,71 banding 1. Sebanyak 190 saham mencapai level tertinggi baru, sedangkan 79 saham mencatat level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 3.059 saham menguat dan 1.740 saham melemah. S&P 500 mencatat 11 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat saham yang berada di level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 105 saham pada level tertinggi baru dan 85 saham pada level terendah baru.
Volume transaksi di bursa AS tercatat 14,32 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 16,4 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati meski indeks utama berhasil menguat. Perhatian pasar dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi kinerja Nvidia, data inflasi, serta sinyal kebijakan moneter AS. []
Redaksi01
