Muktamar NU ke-35 Bikin Hotel Mojokerto Penuh
MOJOKERTO – Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang ikut menggeser arus tamu ke sektor perhotelan Kota Mojokerto. Sejumlah hotel di wilayah tersebut telah penuh dipesan untuk periode 26-31 Agustus 2026, terutama karena peserta dan tamu Muktamar mencari akomodasi di daerah penyangga setelah kamar hotel di Jombang terbatas.
Muktamar NU ke-35 dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Kedekatan Kota Mojokerto dengan lokasi kegiatan menjadi salah satu alasan wilayah tersebut dipilih sebagai alternatif tempat menginap bagi peserta dan tamu.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Mojokerto Ani Wijaya mengatakan terdapat sekitar 35 hotel dan penginapan di wilayah Kota Mojokerto. Namun, belum seluruh akomodasi tersebut tercatat dalam aplikasi perjalanan daring.
Menurut Ani, permintaan kamar meningkat menjelang pelaksanaan Muktamar, bahkan beberapa hotel telah mencapai kondisi penuh selama enam hari.
“Sejumlah hotel di Kota Mojokerto telah penuh dipesan atau full booked untuk periode 26 hingga 31 Agustus 2026. Yang sudah full booked ada Sunrise, Lynn, Tenera, Raden Wijaya, Surya Kertajaya, Hotel Slamet, Hotel Sekarputih, dan De Resort, full booked enam hari,” ungkapnya, Rabu (26/08/2026), sebagaimana diberitakan Beritajatim, Rabu, (26/08/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan posisi Mojokerto sebagai salah satu wilayah penyangga bagi penyelenggaraan kegiatan berskala besar di Jombang. Ketika kapasitas penginapan di daerah utama tidak mencukupi, peserta memiliki pilihan untuk mencari kamar di kota atau kabupaten terdekat dengan akses menuju lokasi kegiatan.
Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Mojokerto Raya Satuin melalui Sekretaris Ali Said membenarkan adanya kenaikan tingkat hunian hotel akibat Muktamar. Namun, menurut dia, dampaknya belum dirasakan secara merata oleh seluruh anggota PHRI di Mojokerto Raya.
“Ada pengaruh namun kecil karena yang tersentuh hanya di seputaran Kota Mojokerto. Ada 35 hotel di Mojokerto Raya yang menjadi anggota PHRI Mojokerto Raya. Sejumlah hotel di wilayah Kota Mojokerto dilaporkan penuh,” katanya.
Data yang diterima PHRI menunjukkan beberapa hotel di Kota Mojokerto memiliki tingkat hunian yang mendekati 90 persen. Lynn, Sunrise, dan Sekarputih menjadi tiga hotel yang disebut mengalami tingkat hunian tinggi selama periode kegiatan Muktamar.
Berbeda dengan kondisi di pusat Kota Mojokerto, peningkatan permintaan kamar di wilayah Kabupaten Mojokerto lebih dipengaruhi faktor akses menuju Jombang. Hotel yang berada di jalur dengan konektivitas relatif baik menjadi pilihan bagi tamu yang tetap ingin berada di luar Jombang tetapi membutuhkan waktu tempuh yang efisien.
Salah satu hotel yang mengalami dampak tersebut ialah Hotel Aston yang berada di jalur By Pass, Kecamatan Puri. Ali mengatakan pola pemesanan kamar di hotel tersebut cukup beragam, mulai dari pemesanan hingga hari terakhir Muktamar sampai menginap hanya selama akhir pekan.
“Untuk wilayah Kabupaten Mojokerto, ada Hotel Aston yang ada di By Pass Kecamatan Puri. Mungkin karena berada di By Pass terjangkau ke arah Jombang. Untuk pesanan kamar bervariatif, mulai hari ini sampai tanggal 31 Agustus. Ada juga yang hanya sampai Sabtu, Minggu, macam-macam,” jelasnya.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan akomodasi peserta tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan kamar, tetapi juga jarak dan kemudahan mobilitas menuju lokasi Muktamar. Peserta yang memiliki agenda selama beberapa hari cenderung memilih penginapan yang dapat mempersingkat perjalanan menuju Tambakberas.
Sementara itu, hotel yang berada di kawasan wisata Trawas dan Pacet belum memperoleh peningkatan hunian yang berarti. Jarak yang lebih jauh dari lokasi Muktamar membuat kawasan wisata tersebut kurang menjadi pilihan bagi peserta yang membutuhkan akses cepat ke Jombang.
“Anggota kita banyak di wilayah Trawas dan Pacet namun tidak berimbas mungkin karena faktor jarak menjadi salah satu penyebabnya. Peserta muktamar cenderung memilih hotel yang lebih dekat dengan Jombang untuk memudahkan mobilitas selama mengikuti rangkaian kegiatan,” urainya.
Dampak serupa juga terlihat di wilayah Nganjuk yang menjadi alternatif penginapan bagi peserta karena memiliki akses relatif dekat ke Jombang. Sebelumnya, lebih dari 400 kamar hotel di wilayah tersebut telah dipesan untuk periode 26-31 Agustus 2026.
Kondisi itu menegaskan bahwa efek ekonomi Muktamar NU ke-35 tidak berhenti di Jombang sebagai lokasi utama. Permintaan akomodasi turut mengalir ke daerah-daerah sekitar, dengan besarnya dampak bergantung pada jarak dan akses perjalanan menuju pusat kegiatan.
Bagi industri perhotelan Mojokerto, momentum tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan tingkat hunian, meski manfaatnya masih terkonsentrasi pada hotel yang berada di kawasan perkotaan dan jalur strategis. []
Redaksi01
