CUAN, BUMI, AADI Menguat Saat IHSG Tertekan di Sesi I
JAKARTA – Pergerakan saham-saham unggulan dalam indeks LQ45 berlangsung beragam pada perdagangan Jumat (04/09/2026), dengan sejumlah saham mencatat penguatan ketika pasar domestik bersiap menghadapi rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).
Hingga akhir perdagangan sesi pertama, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi salah satu saham LQ45 dengan kenaikan terbesar, yakni 2,20% menjadi Rp930 per saham. Penguatan juga terjadi pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang naik 0,97% ke Rp208 dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang menguat 0,89% menjadi Rp11.275.
Di sisi lain, tekanan masih membayangi sejumlah saham unggulan. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menjadi saham LQ45 dengan penurunan terdalam, yakni 2,78% ke level Rp700. Berikutnya, PT Astra International Tbk (ASII) melemah 2,57% menjadi Rp4.920 dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 2,16% ke Rp2.260.
Perbedaan arah pergerakan saham tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada sesi pertama. Berdasarkan data perdagangan, IHSG turun 0,11% atau 7,102 poin ke level 6.660,789.
Sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat, (04/09/2026), aktivitas perdagangan hingga penutupan sesi pertama menunjukkan tekanan pasar yang relatif luas. Sebanyak 325 saham melemah, sedangkan 266 saham menguat dan 196 saham lainnya bergerak stagnan.
Nilai transaksi saham pada periode tersebut mencapai Rp8,3 triliun dengan volume perdagangan sekitar 21,9 miliar saham. Kondisi ini menunjukkan investor masih aktif melakukan transaksi meski pergerakan IHSG berada di area negatif.
Dari sisi sektoral, tujuh indeks sektor menjadi pemberat IHSG. Tiga sektor dengan pelemahan paling dalam adalah IDX-Health yang terkoreksi 1,04%, IDX-Trans turun 0,68%, serta IDX-NonCyc yang melemah 0,54%.
Tekanan tersebut terjadi setelah IHSG sebelumnya berhasil menembus level resistansi 6.650. BRI Danareksa Sekuritas menilai kondisi tersebut masih mencerminkan momentum bullish, terutama karena indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) berada di area positif.
“Selama bertahan di atas 6.650, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.724, dengan 6.550 sebagai support terdekat,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Dengan posisi IHSG yang masih berada relatif tinggi, pelaku pasar juga perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung atau profit taking. Pergerakan saham unggulan pada sesi pertama memperlihatkan bahwa penguatan indeks sebelumnya belum sepenuhnya diikuti oleh seluruh konstituen LQ45.
Selain faktor domestik, perhatian investor pada perdagangan berikutnya beralih ke AS. Pasar menunggu publikasi data ketenagakerjaan AS untuk Agustus, khususnya nonfarm payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran.
Data tersebut dinilai penting karena dapat memengaruhi perkiraan pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan yang lebih besar dari perkiraan, peluang pelonggaran kebijakan moneter The Fed dapat meningkat.
Sebaliknya, data ketenagakerjaan yang tetap kuat berpotensi mempertahankan sikap hawkish The Fed. Perubahan ekspektasi tersebut dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar Indonesia.
Karena itu, arah IHSG pada sesi kedua berpotensi tidak hanya ditentukan oleh kondisi saham-saham domestik, tetapi juga oleh respons investor terhadap data ekonomi AS. Investor akan mencermati apakah tekanan pada sejumlah saham LQ45 berlanjut atau justru muncul aksi beli setelah pasar mencerna data tersebut. []
Redaksi01
