Wisatawan Kota Malang Naik, Okupansi Hotel Malah Turun

MALANG – Lonjakan kunjungan wisatawan nusantara ke Kota Malang pada Juli 2026 belum sepenuhnya memberikan dampak terhadap bisnis perhotelan. Meski jumlah wisatawan yang datang mencapai 934.993 kunjungan atau tumbuh 3,09 persen dibandingkan Juni 2026, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel justru turun secara bulanan maupun tahunan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang menunjukkan, kunjungan wisatawan nusantara pada Juli 2026 meningkat dari 906.978 kunjungan pada Juni menjadi 934.993 kunjungan. Namun, angka tersebut masih lebih rendah 3,89 persen dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 972.875 kunjungan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan mobilitas wisatawan belum otomatis memperpanjang aktivitas mereka di sektor akomodasi. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Umar Sjaifudin mengatakan, pergerakan wisatawan selama Juli dipengaruhi sejumlah momentum dan agenda yang berlangsung di daerah.

“Pada Juli terdapat beberapa momentum yang ikut menggerakkan aktivitas wisata, mulai dari akhir masa libur sekolah dan tahun ajaran baru hingga berbagai kegiatan yang digelar di Kota Malang,” kata Umar, Jumat (04/09/2026).

Sejumlah agenda yang turut mewarnai aktivitas wisata pada periode tersebut antara lain Malang Djadoel, Blackhearth Festival 2026, Indomaret Fun Run 2026 Malang, Festival Genitri Tempo Doloe, Swara Semesta Malang 2026, Brawijaya Street Food Festival 2026, serta Kedungkandang Tempoe Doloe.

Selain agenda hiburan dan kegiatan masyarakat, kunjungan kerja Presiden dalam rangka panen raya pada 17 Juli 2026 juga menjadi salah satu aktivitas yang tercatat selama periode tersebut.

Namun, tingginya mobilitas tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat keterisian kamar hotel. Sebagaimana diberitakan Jatimtimes, Jumat, (04/09/2026), TPK hotel Kota Malang pada Juli 2026 tercatat 48,01 persen, turun 0,56 poin dibandingkan Juni 2026 yang berada pada level 48,57 persen.

Secara tahunan, tekanan terhadap tingkat hunian hotel bahkan lebih terlihat. TPK Juli 2026 turun 3,78 poin dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 51,80 persen. Dengan kata lain, dari setiap 100 kamar hotel yang tersedia, rata-rata hanya sekitar 48 hingga 49 kamar yang terisi setiap malam.

Umar menjelaskan, perbedaan tersebut terjadi karena jumlah kunjungan wisatawan dan tingkat keterisian kamar hotel mengukur aktivitas yang berbeda. Tidak seluruh wisatawan yang datang ke Kota Malang memilih bermalam di hotel.

“Jumlah kunjungan dan tingkat penghunian kamar merupakan indikator yang berbeda. Wisatawan yang datang ke Kota Malang tidak seluruhnya menginap di hotel, sehingga kenaikan kunjungan tidak otomatis diikuti kenaikan okupansi,” jelasnya.

Meski secara tahunan menurun, posisi TPK hotel Kota Malang masih relatif lebih tinggi dibandingkan capaian Jawa Timur dan nasional. Pada Juli 2026, TPK hotel Jawa Timur tercatat 36,78 persen, sedangkan tingkat nasional berada di angka 41,13 persen.

Kinerja hotel berbintang juga memperlihatkan kondisi yang berbeda. Pada Juli 2026, TPK hotel bintang mencapai 60,22 persen atau naik 1,65 poin dibandingkan Juni yang sebesar 58,57 persen. Namun, capaian tersebut masih turun 2,31 poin jika dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 62,54 persen.

Data tersebut sekaligus menunjukkan adanya perbedaan pola perjalanan wisatawan yang datang ke Kota Malang. Kenaikan jumlah kunjungan belum serta-merta meningkatkan permintaan kamar hotel, sementara hotel berbintang justru mencatat perbaikan okupansi secara bulanan.

Di sisi lain, mobilitas wisatawan asal Kota Malang yang bepergian ke luar daerah mengalami kontraksi secara bulanan. Jumlah wisatawan nusantara asal Kota Malang pada Juli 2026 mencapai 893.569 kunjungan, turun 3,18 persen dibandingkan Juni yang mencapai 922.918 kunjungan.

Namun, secara tahunan pergerakan wisatawan asal Kota Malang justru tumbuh signifikan. Jumlah tersebut meningkat 15,39 persen dibandingkan Juli 2025 yang tercatat sebanyak 774.399 kunjungan.

Pola kunjungan yang relatif singkat juga tercermin dari rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel Kota Malang. Pada Juli 2026, RLMT hanya mencapai 1,38 hari. Artinya, rata-rata tamu hotel hanya menginap sekitar satu hingga dua hari.

Komposisi tamu hotel juga masih sangat didominasi wisatawan nusantara. Sebanyak 95,88 persen tamu hotel berasal dari wisatawan nusantara, sedangkan wisatawan asing menyumbang 4,12 persen.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa tantangan sektor pariwisata Kota Malang bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga mendorong mereka agar tinggal lebih lama dan meningkatkan belanja selama berada di daerah. Dengan durasi menginap yang masih pendek, penguatan atraksi, agenda wisata, serta konektivitas antardestinasi menjadi bagian penting untuk meningkatkan dampak ekonomi dari arus kunjungan wisatawan.

Umar menilai, data lama menginap dapat digunakan untuk membaca lebih jauh karakter perjalanan wisatawan sekaligus perkembangan aktivitas akomodasi di daerah.

“Rata-rata lama menginap menunjukkan bahwa durasi kunjungan tamu hotel di Kota Malang masih relatif pendek. Data ini penting untuk melihat bagaimana pola perjalanan wisatawan dan aktivitas akomodasi di daerah,” tutupnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *