Sagu Jadi Andalan UMKM Meranti, Potensinya Tembus Pasar Dunia
MERANTI – Komoditas sagu menjadi salah satu potensi utama yang kembali mendapat perhatian dalam pemetaan Komoditas, Produk, dan Jenis Usaha (KPJU) Unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kepulauan Meranti. Potensi tersebut dinilai tidak hanya terletak pada produksi bahan baku, tetapi juga pada peluang pengembangan beragam produk turunannya hingga menembus pasar yang lebih luas.
Pembahasan mengenai potensi tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) KPJU Unggulan UMKM Provinsi Riau 2026 yang digelar di Ruang Rapat Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kepulauan Meranti, Jumat (04/09/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penelitian untuk menentukan kandidat KPJU unggulan di daerah sebelum hasilnya diolah dalam pemetaan tingkat Provinsi Riau.
Kegiatan tersebut dilaksanakan Center for Survey and Academic Development (CSAD) Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial (FEIS) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI). Tim penelitian CSAD UIN Suska Riau dipimpin Direktur CSAD Ade Ria Nirmala.
Dalam forum itu, Ade menjelaskan pemetaan KPJU dilakukan BI secara berkala setiap lima tahun. UIN Suska sebelumnya terlibat dalam kegiatan serupa pada 2021 dan kembali dipercaya melaksanakan penelitian pada 2026.
“KPJU ini dilaksanakan setiap lima tahun. UIN Suska sebelumnya juga terlibat pada 2021 dan tahun ini kembali dipercaya untuk melaksanakan kegiatan yang sama,” jelas Ade, sebagaimana dilansir Sumber Berita, Jumat (04/09/2026).
Menurut Ade, pemetaan diperlukan untuk memastikan dukungan terhadap UMKM dapat diberikan secara lebih tepat sasaran. Setiap pelaku usaha maupun komoditas memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda sehingga bentuk intervensinya tidak dapat diseragamkan.
“Tidak mungkin pemerintah memberikan intervensi yang sama terhadap seluruh UMKM. Karena itu, kita perlu melihat UMKM yang memiliki prospek dan potensi tinggi untuk kemudian didukung agar berkembang lebih unggul,” ujarnya.
Pendekatan yang digunakan dalam penentuan KPJU unggulan bersifat bottom-up. Artinya, proses pemetaan mempertimbangkan kondisi, potensi, kebutuhan, serta masukan dari daerah yang menjadi lokasi penelitian.
Sebelum FGD tingkat kabupaten digelar, tim peneliti telah mengumpulkan data dari sembilan kecamatan di Kepulauan Meranti. Data tersebut bersumber antara lain dari Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Riau, serta sejumlah sumber lainnya.
Data awal itu kemudian dibawa ke forum untuk mendapatkan masukan dari pemangku kepentingan di daerah. Hasil pembahasan selanjutnya menjadi bahan dalam menentukan kandidat KPJU unggulan Kepulauan Meranti sekaligus mendukung proses penyusunan KPJU unggulan tingkat Provinsi Riau.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kepulauan Meranti Sudandri mengatakan forum tersebut dapat menjadi ruang untuk mengidentifikasi potensi usaha yang selama ini berkembang di daerah sekaligus menemukan persoalan yang masih menghambat pengembangannya.
Sagu menjadi salah satu komoditas yang dinilai memiliki posisi strategis. Dengan luas lahan sekitar 40 ribu hektare dan produksi lebih dari 270 ribu ton per tahun, komoditas tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan tidak sebatas sebagai bahan baku.
“Meranti memiliki produk unggulan tersendiri, salah satunya produk berbasis sagu. Ini bukan hanya komoditas, tetapi sudah menjadi ikon bagi Kabupaten Kepulauan Meranti,” kata Sudandri.
Menurut Sudandri, peluang pengembangan sagu juga terbuka melalui produk olahan. Pemerintah daerah mencatat terdapat ratusan jenis produk makanan yang dapat dikembangkan dari komoditas tersebut sehingga membuka ruang bagi pertumbuhan usaha masyarakat dari sektor hulu hingga hilir.
“Potensi sagu kita sangat besar. Pemasarannya juga sudah menjangkau pasar lokal, nasional, bahkan dunia,” ujarnya.
Sudandri berharap proses pemetaan KPJU tidak berhenti pada pengelompokan komoditas atau produk yang dinilai unggul. Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran konkret mengenai persoalan yang harus diselesaikan agar pelaku UMKM dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Kami berharap melalui diskusi ini dapat ditemukan berbagai hambatan dan permasalahan, mulai dari hulu sampai hilir, sehingga produk unggulan daerah dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih maksimal,” katanya.
Untuk memperkuat pembahasan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti menghadirkan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) yang berkaitan dengan pengembangan UMKM. Perwakilan sektor koperasi, perbankan, BPS, serta perangkat daerah lainnya turut dilibatkan dalam forum tersebut.
Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat mempertemukan data penelitian dengan kondisi nyata di lapangan. Dengan demikian, hasil pemetaan KPJU dapat menjadi dasar bagi penyusunan program pengembangan dan pemberdayaan UMKM, khususnya pada komoditas yang memiliki potensi ekonomi tinggi seperti sagu.
Sudandri juga mendorong OPD terkait memberikan masukan sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Langkah itu dinilai penting agar penetapan KPJU unggulan nantinya dapat diikuti kebijakan dan program yang benar-benar menjawab kebutuhan pelaku usaha di daerah. []
Redaksi01
