Kabut Asap Lumpuhkan Penerbangan Supadio, 73 Jadwal Batal
KUBU RAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membuat operasional penerbangan di Bandara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, terganggu selama dua hari berturut-turut. Sebanyak 73 penerbangan tercatat batal beroperasi pada Sabtu dan Minggu, sementara Senin 14 September 2026 pagi aktivitas penerbangan belum dapat berjalan karena jarak pandang hanya sekitar 300 meter.
Kondisi tersebut menunjukkan besarnya dampak penurunan jarak pandang terhadap konektivitas udara Kalimantan Barat. Bandara Internasional Supadio menjadi salah satu akses utama transportasi udara menuju dan dari Pontianak sehingga gangguan penerbangan turut memengaruhi mobilitas masyarakat yang menggunakan layanan udara.
Kepala Departemen Komunikasi Cabang dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Kantor Cabang Bandara Internasional Supadio, Joko Wahyudi, mengatakan jarak pandang menjadi faktor utama yang membuat pesawat belum dapat melakukan pergerakan pada Senin 14 September 2026 pagi.
“Jarak pandang masih di angka 300 meter, akibatnya sampai saat ini belum ada pesawat yang datang maupun berangkat,” ujar Joko saat dikonfirmasi, Senin 14 September 2026.
Pada Sabtu, 12 September 2026, tercatat 35 penerbangan dibatalkan. Jumlah tersebut meningkat menjadi 38 penerbangan pada Minggu, 13 September 2026. Dengan demikian, total penerbangan yang batal beroperasi mencapai 73 penerbangan dalam dua hari.
Pengelola bandara masih memantau perkembangan kondisi jarak pandang untuk menentukan kelanjutan operasional penerbangan pada Senin. Keputusan mengenai penundaan atau pembatalan penerbangan berada pada masing-masing maskapai dengan mempertimbangkan kondisi penerbangan dan keselamatan.
“Mengenai apakah delay atau cancel itu tergantung dari kebijakan maskapai. Kami terus melakukan koordinasi intensif bersama pihak maskapai mengenai informasi lanjutan yang akan disampaikan kepada para penumpang,” jelas Joko.
Gangguan penerbangan juga membuat calon penumpang perlu memperoleh informasi terbaru sebelum menuju bandara. Pengelola mengimbau pengguna jasa memantau status penerbangan melalui saluran informasi resmi maskapai untuk mengantisipasi perubahan jadwal.
Dari sisi pelayanan, pengelola Bandara Internasional Supadio melakukan sejumlah langkah untuk menangani penumpang yang terdampak. Tambahan personel disiapkan di area check-in dan ruang tunggu, sementara kebutuhan dasar penumpang tetap diperhatikan selama mereka menunggu kepastian jadwal penerbangan.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pemantauan kondisi kabut asap. Pengelola juga terus berkoordinasi dengan maskapai agar informasi mengenai perubahan jadwal dapat diteruskan kepada penumpang secara lebih cepat.
Secara geografis, Bandara Internasional Supadio berada di Kubu Raya dan berjarak sekitar 15 hingga 17 kilometer dari pusat Kota Pontianak. Posisi tersebut membuat bandara memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi di ibu kota Kalimantan Barat.
Bagi penumpang, gangguan penerbangan tidak hanya berarti perubahan waktu keberangkatan, tetapi juga ketidakpastian perjalanan selama kondisi jarak pandang belum membaik. Salah seorang penumpang, Parno, mengaku telah mengalami tiga kali penundaan penerbangan sejak Sabtu.
Penerbangan Parno menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Jadwal keberangkatannya pada Sabtu dijadwalkan ulang ke Minggu siang, kemudian kembali dijadwalkan ulang untuk Senin malam.
“Dengan kondisi kabut asap pekat seperti saat ini, wajar saja jika maskapai menunda semua jadwal penerbangan, karena kondisi ini sangat berbahaya sekali jika dipaksakan terbang, sebab jarak pandang hanya 300 meter saja,” kata Parno.
Parno berharap kondisi jarak pandang membaik sehingga penerbangannya dapat segera diberangkatkan setelah mengalami penundaan selama tiga hari.
“Saya berharap malam ini kondisi visibility di Bandara Internasional Supadio kembali normal, sehingga jadwal penerbangan saya tidak lagi ditunda dan direschedule. Karena salama tiga hari saya menunggu jadwal penerbangan, kondisi kabut asap di Kota Pontianak sangat baik, namun jika siang kondisinya sangat pekat sekali,” ucap Parno.
Untuk memperkuat koordinasi, Bandara Internasional Supadio juga menerapkan Airport Collaborative Decision Making (A-CDM) dengan melibatkan berbagai stakeholder, termasuk maskapai penerbangan, AirNav Indonesia, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Koordinasi tersebut digunakan untuk mempercepat pertukaran informasi sehingga maskapai dapat menyampaikan potensi perubahan jadwal kepada penumpang lebih awal.
Gangguan penerbangan akibat kabut asap masih bergantung pada perkembangan jarak pandang di sekitar bandara. Selama kondisi belum memenuhi aspek keselamatan penerbangan, pengelola bersama maskapai dan pihak terkait akan terus melakukan pemantauan serta koordinasi untuk menentukan keberlanjutan operasional, sebagaimana diberitakan Tribunpontianak, Senin, (14/09/2026). []
Redaksi01
