Harga Minyak Kembali Koreksi, Jalur Pipa Saudi Mulai Dipulihkan

JAKARTA – Harga minyak mentah kembali melemah pada perdagangan Jumat (18/09/2026), seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Pemulihan jalur pipa utama Arab Saudi menjadi salah satu sentimen yang menekan harga komoditas energi tersebut.

Pada pukul 07.28 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 di New York Mercantile Exchange berada di level US$100,96 per barel. Harga tersebut turun 0,93% dibandingkan perdagangan sebelumnya yang ditutup pada US$101,91 per barel.

Penurunan tersebut memperpanjang koreksi harga minyak untuk hari ketiga berturut-turut. Pelaku pasar mulai melihat adanya peluang pemulihan aliran pasokan, sementara perhatian juga tertuju pada perkembangan diplomasi terkait konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Di Timur Tengah, Arab Saudi disebut telah mengambil langkah untuk memperbaiki kerusakan pada jalur pipa Timur-Barat menuju pantai Laut Merah. Perbaikan tersebut ditargetkan dapat mengembalikan sekitar separuh kapasitas jalur dalam beberapa hari.

Perkembangan itu menjadi perhatian pasar karena jalur distribusi tersebut memiliki peran penting dalam mengalirkan minyak Arab Saudi. Perbaikan infrastruktur di tengah ketidakpastian konflik turut meredakan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan global.

Sementara itu, harga minyak Brent juga turun di bawah US$104 per barel setelah mengalami penurunan lebih dari 3% dalam dua sesi perdagangan sebelumnya, sebagaimana dilansir Kontan, Jumat (18/09/2026).

Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa dirinya tengah mendekati keputusan besar mengenai kemungkinan peningkatan kembali serangan terhadap Teheran. Trump juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah negara Teluk Persia pada pekan depan di sela-sela pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Selain itu, Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut berpotensi menjadi salah satu forum pembahasan mengenai perkembangan perang AS-Iran dan dampaknya terhadap situasi geopolitik serta pasar energi global.

Di sisi lain, analis JPMorgan Chase & Co., termasuk Natasha Kaneva, menilai durasi konflik Iran dan dampaknya terhadap arus perdagangan energi semakin sulit diproyeksikan.

“Untuk pertama kalinya sejak dimulainya konflik Iran, kita tidak memiliki pandangan dasar,” kata mereka. “Kita sama sekali tidak tahu bagaimana memodelkan skenario akhirnya.”

Ketidakpastian mengenai arah konflik membuat pasar minyak tetap sensitif terhadap setiap perkembangan diplomasi maupun kondisi infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Untuk saat ini, pemulihan jalur distribusi minyak di Arab Saudi memberikan ruang bagi meredanya kekhawatiran pasokan, meski risiko geopolitik masih menjadi perhatian pelaku pasar. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *