BI Rate Diprediksi Tetap 5,75 Persen, Rupiah Jadi Sorotan

JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya risiko global belum dinilai cukup kuat untuk memaksa Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan pada September 2026. Dua ekonom memperkirakan BI Rate tetap berada di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September 2026, meski peluang kenaikan suku bunga pada triwulan IV 2026 semakin terbuka.

Perkiraan tersebut didasarkan pada masih tersedianya sejumlah instrumen yang dapat digunakan BI untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa langsung menaikkan BI Rate. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 bahkan meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS dari 145,3 miliar dolar AS pada Juli.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky mengatakan kondisi inflasi domestik juga belum menunjukkan tekanan permintaan yang mengharuskan BI kembali memperketat kebijakan moneter.

Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 2,88 persen pada Juli. Meski meningkat, angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 1,5–3,5 persen.

Kenaikan inflasi terutama berasal dari kelompok harga yang bergejolak, termasuk daging ayam, cabai, dan beras. Kondisi tersebut dinilai berbeda dengan tekanan inflasi yang bersumber dari penguatan permintaan domestik.

Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada Juli kembali mencatat surplus 121,9 juta dolar AS setelah mengalami defisit 450,5 juta dolar AS pada Juni. Namun, akumulasi surplus sepanjang Januari–Juli 2026 hanya mencapai 3,70 miliar dolar AS, turun 84,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 23,77 miliar dolar AS.

Riefky menilai faktor eksternal tetap menjadi risiko utama bagi kebijakan BI, terutama karena nilai tukar rupiah telah terdepresiasi 6,8 persen secara year to date (ytd). Pada pekan kedua September, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.500–Rp17.600 per dolar AS sebelum kembali mendapat tekanan.

Tekanan tersebut muncul setelah bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin menjadi 3,75–4 persen pada 16 September 2026. Kebijakan tersebut merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023 dan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap arus modal di negara berkembang.

Situasi geopolitik juga menjadi perhatian karena meningkatnya kembali konflik di Timur Tengah ikut mendorong harga minyak Brent menembus 100 dolar AS per barel. Kombinasi kenaikan harga energi dan penguatan dolar AS dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah serta inflasi domestik.

Meski demikian, posisi cadangan devisa memberikan ruang bagi BI untuk melakukan stabilisasi melalui intervensi pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, dan instrumen moneter lainnya.

“Dengan mempertimbangkan berbagai perkembangan tersebut, kami berpandangan bahwa Bank Indonesia sebaiknya mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur September 2026 mendatang, dengan kenaikan lebih lanjut tetap menjadi opsi pada akhir tahun apabila kondisi eksternal memburuk,” kata Riefky kepada kumparan, sebagaimana dilansir Kumparan, Rabu, (23/09/2026).

Pandangan tersebut sejalan dengan Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede yang memperkirakan BI Rate masih bertahan pada level 5,75 persen dalam RDG September. Menurut dia, kenaikan suku bunga bank sentral AS telah banyak diperhitungkan sebelumnya oleh BI.

Josua juga melihat sejumlah indikator domestik menunjukkan transmisi pengetatan moneter sebelumnya mulai bekerja. Apresiasi rupiah pada Agustus, kembali surplusnya neraca perdagangan, peningkatan cadangan devisa, serta suku bunga pasar uang yang semakin mendekati BI Rate menjadi sejumlah indikator tersebut.

Karena itu, kenaikan suku bunga tambahan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kredit, konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, stabilitas rupiah tetap menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan arah kebijakan BI.

Pada perdagangan 21 September 2026, rupiah kembali berada di sekitar Rp17.800 per dolar AS. Pelemahan tersebut antara lain dipengaruhi harga minyak yang masih berada di atas 100 dolar AS per barel, kebutuhan valuta asing importir, serta arus dana keluar dari aset keuangan domestik.

Tekanan eksternal juga diperkuat defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 yang mencapai sekitar 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Kondisi itu membuat rupiah lebih sensitif terhadap penguatan dolar AS dan meningkatnya tuntutan imbal hasil dari investor global.

Namun, Josua menilai BI masih dapat mengandalkan instrumen selain suku bunga. Cadangan devisa sebesar 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus setara dengan 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional.

“Karena itu, BI masih dapat memadukan intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan instrumen rupiah, pengaturan likuiditas dan kebijakan untuk menjaga daya tarik aset rupiah sebelum menaikkan BI-Rate,” kata Josua.

Dari sisi harga, Josua menilai inflasi Agustus sebesar 3,19 persen belum mencerminkan tekanan permintaan domestik yang mengharuskan kenaikan suku bunga segera. Penjualan eceran Agustus juga diperkirakan hanya tumbuh sekitar 0,5 persen secara tahunan, meski tingkat keyakinan konsumen membaik.

Risiko inflasi berikutnya justru berasal dari pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak yang dapat meningkatkan harga barang impor serta membentuk ekspektasi inflasi baru.

Pergerakan imbal hasil surat utang Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menembus 5 persen, level tertinggi sejak 2007, sebelum berada di sekitar 4,96 persen pada 21 September.

Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun berada di sekitar 7,12 persen pada 18 September, atau meningkat 105 basis poin sejak awal tahun. Selisih imbal hasil yang semakin terbatas dengan US Treasury dapat meningkatkan sensitivitas investor terhadap risiko pelemahan rupiah.

Meski menghadapi tekanan tersebut, Josua menilai kondisi global masih dapat berubah mengikuti perkembangan geopolitik dan harga energi. Harga Brent, misalnya, sempat turun sekitar 2,6 persen menjadi sekitar 101 dolar AS per barel.

Apabila tekanan geopolitik mereda, harga minyak terus menurun, imbal hasil US Treasury kembali menjauh dari 5 persen, dan rupiah stabil, kebutuhan untuk menaikkan BI Rate pada September akan semakin kecil.

Sebaliknya, risiko kenaikan suku bunga meningkat apabila bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir 2026. Dalam skenario tersebut, Josua memperkirakan BI Rate berpotensi naik 25 basis poin menjadi 6 persen pada akhir tahun.

“Karena itu, BI rate diperkirakan tetap 5,75 persen, tetapi risiko kenaikan pada triwulan IV meningkat cukup signifikan,” ungkapnya.

Josua menyebut terdapat empat faktor yang akan menentukan arah suku bunga BI setelah September, yakni kebijakan bank sentral AS, pergerakan imbal hasil US Treasury, stabilitas rupiah dan arus modal asing, serta dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi domestik. Perubahan bersamaan pada faktor-faktor tersebut akan menentukan seberapa besar ruang BI untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen hingga akhir tahun. []
Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *