Nestapa Lansia Asal Sindetlami Belum Tersentuh Bantuan Sejak Musibah Puting Beliung
Rumah Lansia bernama Suto Sari (73), asal Desa Sindetlami, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo perlu uluran tangan pemerintah, sejak tertimpa musibah Puting Beliung pada Februari 2026 silam hingga saat ini kondisinya sangat memperihatinkan. (Foto : Istimewa)
PROBOLINGGO – Butuh waktu setahun dan sorotan media untuk membuat pejabat daerah melirik penderitaan korban bencana angin puting beliung di Kabupaten Probolinggo. Saat rumah Salehuddin (40) dan ibunya, Suto Sari (73), di Desa Sindetlami nyaris rata dengan tanah, respons dinas terkait baru sebatas janji koordinasi dan verifikasi data kependudukan.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, kondisi bangunan di Dusun Krajan, Desa Sindetlami, Kecamatan Besuk, tersebut sangat jauh dari kata layak.
Sejak dihantam angin puting beliung pada Februari 2026 lalu, dinding bagian depan rumah hanya disekat menggunakan lembaran papan kayu dan kain seadanya. Sebagian struktur bata terkelupas dan retak, sementara atap rumah menganga lebar hingga mengancam keselamatan penghuninya.
Bagi Salehuddin yang sehari-hari bekerja sebagai kuli tani, perbaikan rumah adalah impian yang tak terjangkau. Penghasilannya yang tak menentu—paling banyak Rp50.000 sehari—memaksa dirinya memutar otak sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan harian bersama sang ibu.
“Kerja-kerja tani, jualan kuli. Pendapatan paling Rp50.000, kadang-kadang dua hari kerja, tiga hari tak kerja. Ya mengandalkan dari buruhan orang tani,” ujar Salehuddin saat ditemui di kediamannya, Selasa (29/9/2026).
Saat dikonfirmasi mengenai bantuan perbaikan fisik pascamusibah yang menimpa rumahnya setahun lalu, pria berstatus cerai mati ini mengungkapkan belum ada penanganan dari pihak desa maupun dinas terkait.
“Gak ada, gak ada datang-datang bantuan apa itu, enggak. Bedah rumah juga gak ada sama sekali,” tegasnya.
Salehuddin membenarkan bahwa keluarganya tetap menerima bantuan sosial berupa beras berkala dan Program Keluarga Harapan (PKH) lansia sebesar Rp600.000 untuk ibunya. Namun, untuk bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), ia dan ibunya masih dibiarkan menanti tanpa kepastian.
Dinsos Baru Akan Koordinasi
Menanggapi kondisi yang memprihatinkan ini, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kabupaten Probolinggo, Rachmad Hidayanto, saat dikonfirmasi via pesan WhatsApp pada Selasa (29/9/2026), menyampaikan apresiasi atas laporan media dan berjanji akan mengambil tindakan,”Terimakasih infonya, akan kami follow up untuk konfirmasi ke kecamatan dan desa,” tulis Rachmad melalui pesan WhatsApp.
Rachmad menjelaskan, pihak dinas membutuhkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) warga untuk mengecek riwayat bantuan pada sistem resmi. “Kalau untuk cek DTKS/DTSEN dan riwayat bansos, yang kami perlukan adalah NIK warga untuk kami cek di aplikasi SIKS-NG Kemensos,” tambahnya.
Terkait perbaikan fisik rumah, Rachmad menegaskan pihaknya baru akan meneruskan informasi tersebut ke dinas teknis. “Untuk bantuan RTLH akan kami koordinasikan dan infokan ke Dinas Perkim untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut,” ungkapnya.
Ia berjanji akan memberikan informasi susulan setelah verifikasi data kependudukan selesai dilakukan. “Setelah memperoleh info NIK untuk kami cek di SIKS-NG Kemensos, hasilnya akan kami infokan dalam kesempatan pertama. Tolong KTP jangan dikirim 1 kali lihat, matursuwun,” tutup Rachmad. (rac)
