IHSG Menguat 0,23%, Tekanan Yield Global Masih Membayangi

JAKARTA – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan Rabu (30/09/2026) berlangsung di tengah tekanan dari kenaikan yield obligasi global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS). IHSG naik 0,23 persen atau 14,321 poin ke level 6.136,021 pada pukul 09.10 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Pergerakan tersebut terjadi ketika investor mencermati sejumlah sentimen eksternal dan domestik, mulai dari harga minyak, stabilitas rupiah, pasar obligasi global hingga rilis data ekonomi Indonesia.

Mengutip data RTI, sebanyak 355 saham menguat pada awal perdagangan, sedangkan 185 saham melemah dan 189 saham bergerak stagnan. Volume transaksi tercatat sekitar 4,4 miliar saham dengan nilai mencapai sekitar Rp1 triliun.

Dari sisi sektoral, sembilan indeks sektor menopang penguatan IHSG. Indeks IDX-Industry menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 1,96 persen, disusul IDX-NonCyc sebesar 0,83 persen dan IDX-Energy yang naik 0,55 persen.

Di kelompok saham LQ45, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 4,87 persen menjadi Rp26.400. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) naik 2,75 persen ke Rp2.240, sedangkan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 2,26 persen ke Rp181.

Sebaliknya, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu saham yang mengalami tekanan dengan penurunan 13,51 persen ke Rp32. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 1,71 persen menjadi Rp727 dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) melemah 1,29 persen ke Rp1.530.

Menurut Sajian Pagi Menu Trading (SAPA MENTARI) BRI Danareksa Sekuritas, investor tetap mencermati perkembangan harga minyak dan stabilitas rupiah. Harga minyak Brent telah terkoreksi ke sekitar US$104 per barel setelah adanya rencana pemerintah AS melepas cadangan minyak strategis serta pemulihan jalur ekspor minyak Arab Saudi.

Namun, penguatan dolar AS dan ekspektasi terhadap kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang lebih hawkish masih menjadi sentimen yang membayangi pasar saham, sebagaimana diberitakan Kontan, Rabu, (30/09/2026).

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis data perdagangan Agustus dan inflasi September. Kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar.

Tekanan eksternal lainnya datang dari pasar obligasi global. Kenaikan yield terjadi di sejumlah negara sepanjang September seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah, tingginya penerbitan surat utang, serta inflasi yang masih berada pada level tinggi.

Yield obligasi pemerintah menjadi perhatian karena menjadi salah satu acuan dalam menentukan harga berbagai aset keuangan, termasuk saham dan pembiayaan korporasi. Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,2383 persen pada perdagangan Asia, mendekati level tertinggi sejak 2007.

Sepanjang September, yield tersebut berada dalam tren kenaikan hampir 50 basis poin. Kenaikan yang berlangsung berkepanjangan dapat meningkatkan biaya refinancing perusahaan dan berpotensi memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, tekanan dari pasar obligasi belum secara signifikan menghambat pergerakan pasar saham Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2 persen pada awal perdagangan Rabu. Nikkei Jepang menguat 0,9 persen, sedangkan Kospi Korea Selatan naik dan berada di jalur penguatan sekitar 1,4 persen sepanjang September.

Di pasar AS, kontrak berjangka Nasdaq naik 0,13 persen dan S&P 500 menguat 0,16 persen. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing naik 0,5 persen, sedangkan FTSE futures bertambah 0,4 persen.

Mohammed Apabhai, Head of Asia-Pacific Trading Strategy Citi, mengatakan pasar saham relatif mampu menyerap kenaikan yield karena pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominal masih mendukung optimisme terhadap laba perusahaan.

“Pasar saham AS merespons kenaikan yield, tetapi hanya di luar sektor teknologi,” kata Apabhai dikutip dari Reuters.

Di pasar valuta asing, kenaikan yield obligasi AS turut menopang dolar AS yang berada di jalur penguatan sekitar 2 persen sepanjang September. Euro berada di sekitar US$1,1336 atau mendekati level terendah dalam 16 bulan dan berada di jalur pelemahan 2,4 persen sepanjang bulan ini.

Pound sterling juga turun 0,03 persen menjadi US$1,3227 dan berada di jalur pelemahan 2,4 persen. Sementara itu, yen Jepang relatif stabil di level 157,03 per dolar AS dan berada di jalur penguatan sekitar 1,7 persen sepanjang September.

Dengan demikian, penguatan IHSG pada awal perdagangan masih berlangsung di tengah beragam sentimen global. Pergerakan yield obligasi, arah dolar AS, harga minyak, stabilitas rupiah, serta data ekonomi domestik menjadi faktor yang akan dicermati investor dalam melanjutkan perdagangan akhir September. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *