Kredit Tumbuh 32%, Laba Allo Bank Turun 4,05%
JAKARTA – Pertumbuhan kredit PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) yang mencapai 32,02% secara tahunan hingga Agustus 2026 tidak diikuti peningkatan dana pihak ketiga (DPK). Kondisi tersebut membuat rasio kredit terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio (LDR) Allo Bank melonjak menjadi sekitar 180,4%, dari 97,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan publikasi yang dikutip Rabu (30/09/2026), kredit yang disalurkan Allo Bank hingga Agustus 2026 mencapai Rp9,46 triliun. Angka tersebut meningkat 32,02% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp7,16 triliun pada Agustus 2025.
Pada saat yang sama, DPK Allo Bank justru mengalami penurunan 28,78% YoY menjadi Rp5,24 triliun. Penyusutan terutama terjadi pada simpanan deposito yang turun 41,43% YoY menjadi Rp3,75 triliun.
Di tengah penurunan tersebut, beberapa jenis simpanan masih mencatat pertumbuhan. Giro meningkat 208,37% YoY menjadi Rp479,10 miliar, sedangkan tabungan tumbuh 26,35% YoY menjadi Rp1,01 triliun.
Perubahan struktur pendanaan tersebut berlangsung ketika penyaluran kredit tumbuh cukup agresif. Dengan kredit yang jauh lebih besar dibandingkan DPK, LDR Allo Bank pada Agustus 2026 mencapai sekitar 180,4%, atau meningkat tajam dibandingkan 97,3% setahun sebelumnya.
Dari sisi pendapatan, pertumbuhan kredit turut tercermin pada kenaikan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII). Hingga Agustus 2026, NII Allo Bank mencapai Rp1,06 triliun, naik 14,50% YoY dari Rp927,76 miliar.
Pendapatan bunga juga meningkat 13,69% YoY menjadi Rp1,34 triliun. Namun, kenaikan tersebut disertai peningkatan beban bunga sebesar 10,72% YoY menjadi Rp278,42 miliar.
Sumber pendapatan nonbunga juga mengalami peningkatan. Pendapatan komisi, provisi, fee dan administrasi melonjak 529,39% YoY menjadi Rp27,03 miliar, sedangkan pendapatan lainnya tumbuh 37,68% YoY menjadi Rp302,68 miliar, sebagaimana diberitakan Kontan, Rabu, (30/09/2026).
Namun, pertumbuhan pendapatan belum mampu mendorong peningkatan laba. Tekanan terutama berasal dari kenaikan sejumlah beban, termasuk beban kerugian penurunan nilai aset keuangan atau impairment yang meningkat 70,90% YoY menjadi Rp394,28 miliar.
Beban tenaga kerja juga naik 7,87% YoY menjadi Rp144,73 miliar. Selain itu, beban promosi tumbuh 30,43% YoY menjadi Rp126,73 miliar dan beban lainnya meningkat 20,74% YoY menjadi Rp348,44 miliar.
Kondisi tersebut membuat laba operasional Allo Bank turun 4,37% YoY menjadi Rp383,63 miliar dari Rp401,17 miliar pada Agustus 2025.
Pada akhirnya, laba bersih Allo Bank hingga Agustus 2026 tercatat Rp298,85 miliar. Realisasi tersebut turun 4,05% YoY dibandingkan laba bersih Rp311,46 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. []
Redaksi01
