Investor Tahan Langkah, IHSG Tertekan di Sesi I
JAKARTA – Investor masih menahan langkah di pasar saham Indonesia menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS), yang dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut ikut membayangi perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir sesi pertama, Jumat (02/10/2026).
Mengutip data RTI, IHSG ditutup sementara di level 5.990,200 atau turun 0,32 persen setara 19,302 poin. Tekanan pasar tercermin dari 404 saham yang melemah, sedangkan 230 saham menguat dan 151 saham bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan mencapai 80,4 miliar saham dengan nilai transaksi Rp6,3 triliun. Tekanan juga terlihat pada sebagian besar indeks sektoral, dengan 10 indeks sektor berada di zona merah.
Indeks sektor transportasi atau IDX Transportation menjadi sektor dengan penurunan terdalam, yakni 1,55 persen. Berikutnya, IDX Industry turun 1,12 persen dan IDX Infrastructure terkoreksi 1,10 persen.
Di kelompok saham LQ45, PT Solusi Sinerga Digital Tbk (WIFI) mencatat penurunan terbesar sebesar 11,15 persen menjadi Rp1.435. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyusul dengan pelemahan 4,58 persen ke Rp4.170, sedangkan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun 4,25 persen menjadi Rp1.240.
Namun, tidak seluruh saham bergerak dalam tekanan. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 3,61 persen ke Rp3.160, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik 3,10 persen menjadi Rp1.495, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) bertambah 2,24 persen ke Rp11.400.
Tekanan di pasar domestik tersebut berlangsung seiring dengan pelemahan sejumlah bursa Asia. Mengutip Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,5 persen dan berada di jalur pelemahan sekitar 1,7 persen sepanjang pekan. Nikkei Jepang juga terkoreksi 0,7 persen meski masih membukukan kenaikan sekitar 3,1 persen secara mingguan.
Pergerakan pasar turut dipengaruhi oleh perubahan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun sempat mencapai 5,34 persen, level tertinggi sejak 2002, setelah mencatat kenaikan kuartalan terbesar dalam 32 tahun.
Yield tersebut kemudian turun ke sekitar 5,25 persen pada perdagangan Asia. Penurunan imbal hasil obligasi AS turut memberikan ruang bagi penguatan Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,3 persen, sedangkan S&P 500 futures menguat 0,1 persen.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan dirilis Jumat. Data ketenagakerjaan tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam membaca kondisi ekonomi AS sekaligus memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed.
Dari dalam negeri, pasar juga menghadapi sejumlah sentimen yang beragam. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$3,55 miliar. Namun, inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan atau year on year (YoY), yang menunjukkan masih adanya tekanan harga domestik.
Pelaku pasar turut mencermati penerapan mekanisme short selling di pasar modal Indonesia. Perubahan mekanisme perdagangan tersebut menjadi faktor tambahan yang dapat memengaruhi aktivitas transaksi dan strategi pelaku pasar.
Dengan kombinasi sentimen global, pergerakan yield obligasi AS, data ekonomi domestik, serta penantian terhadap indikator ketenagakerjaan AS, pergerakan IHSG pada sesi berikutnya masih akan dipengaruhi respons investor terhadap perkembangan pasar global dan domestik. []
Redaksi01
