KEK Kura Kura Bali Disiapkan Jadi Pusat Talenta dan Teknologi
DENPASAR – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali diarahkan menjadi ruang pertemuan antara perguruan tinggi, peneliti, pelaku industri, dan talenta dari Indonesia, Tiongkok, serta Asia Tenggara untuk mempercepat pengembangan teknologi dan inovasi. Arah tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama industri yang dibahas dalam China-Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Bali, Minggu (04/10/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Nasional KEK Ali Murtopo Simbolon yang mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan KEK Kura Kura Bali memiliki posisi strategis untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Dalam situasi persaingan dan ketidakpastian global, Indonesia menawarkan ruang yang aman bagi pengembangan akademik dan kolaborasi industri. Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) dapat menjadi jembatan antara Tiongkok, kawasan Asia Tenggara, dan dunia,” ujar Ali.
Menurut Ali, kawasan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menarik modal dari investor asing, tetapi juga menjadi tempat pengembangan artificial intelligence (AI), riset dan pengembangan digital, semikonduktor, hingga teknologi kuantum. Pendekatan itu diharapkan membuat investasi menghasilkan manfaat yang lebih luas melalui penguatan kapasitas teknologi dan sumber daya manusia nasional.
Penguatan peran tersebut berlangsung ketika keterlibatan perusahaan Tiongkok dalam KEK di Indonesia terus berkembang. Saat ini Indonesia memiliki 25 KEK dengan total luas sekitar 23.797,88 hektare. Seluruh kawasan tersebut mencatat investasi kumulatif sekitar 20,7 miliar dolar Amerika Serikat, melibatkan 481 badan usaha, serta menciptakan lebih dari 283 ribu lapangan kerja.
Pada Triwulan II 2026, sebanyak 97 dari 481 tenant KEK atau sekitar 20 persen merupakan perusahaan asal Tiongkok. Besarnya keterlibatan tersebut membuka peluang untuk memperluas kerja sama dari investasi menuju transfer teknologi, riset, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan industri nasional.
Kerja sama Indonesia-Tiongkok juga didorong melalui Two Countries Twin Parks (TCTP). Platform tersebut menghubungkan potensi sumber daya dan pasar Indonesia dengan kemampuan investasi, teknologi, serta industri Tiongkok untuk membangun proyek konkret dan ekosistem industri yang terintegrasi.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menilai pembangunan ekosistem semacam itu membutuhkan keterhubungan yang lebih kuat antara perguruan tinggi, ilmuwan, dunia usaha, industri, dan generasi muda. Karena itu, KEK Kura Kura Bali diharapkan berkembang menjadi ruang kolaborasi yang menghasilkan pengetahuan dan inovasi.
“Visi kita harus melangkah lebih jauh. KEK Kura Kura Bali harus menjadi pusat bagi generasi masa depan, rumah bagi talenta dan teknologi masa depan, sekaligus ruang tempat universitas bertemu dengan industri, ilmuwan bertemu dengan pelaku usaha, serta talenta Indonesia, Tiongkok, Asia Tenggara, dan dunia bekerja bersama untuk menciptakan inovasi” tegas Luhut.
Pengembangan ekosistem tersebut berjalan bersamaan dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi di kawasan. Hingga Semester I 2026, KEK Kura Kura Bali telah membukukan realisasi investasi kumulatif Rp1,8 triliun, menyerap 2.173 tenaga kerja, serta mencatat 131.657 kunjungan.
Dari sisi pendidikan dan riset, TSEA yang berada di kawasan tersebut telah menjalankan sejumlah program di bidang fisika dan neurosains. TSEA juga menginisiasi Semiconductors Forum bersama Tsinghua University serta menyiapkan pengembangan kerja sama di bidang AI, riset dan pengembangan digital, dan ekonomi digital.
Wakil Ketua II Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK Budi Santoso turut membahas peluang pengembangan kawasan dalam sesi “Development Opportunities in Southeast Asia Against the Background of China’s Industrial Going Global”. Ia menyoroti posisi Indonesia yang memiliki keunggulan bukan hanya dari sisi biaya produksi, tetapi juga karena besarnya pasar domestik, ketersediaan sumber daya alam, dan basis industri.
Dengan kombinasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk ditempatkan sebagai platform manufaktur yang tidak hanya melayani produksi, tetapi juga memberikan akses ke pasar Indonesia, ASEAN, dan pasar global. Penguatan hubungan antara pendidikan, teknologi, talenta, dan industri di KEK Kura Kura Bali diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. []
Redaksi01
