Disperkim Kukar Kembangkan Air Bersih Berbasis Pemanenan Air Hujan
Simpanan Air Hujan Akuifer Buatan Terpadu di Desa Tani Baru, Kecamatan Anggana.
Disperkim Kukar menjadikan Desa Tani Baru sebagai lokasi percontohan sistem pemanenan air hujan yang diharapkan dapat dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan akses air bersih di kawasan pesisir dan kepulauan.
ADVERTORIAL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menguji model penyediaan air bersih berbasis pemanenan air hujan di Desa Tani Baru, Kecamatan Anggana. Melalui inovasi Sahabat Anggana, sistem tersebut dikembangkan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pesisir terhadap pasokan air dari luar wilayah.
Program yang dikembangkan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kukar itu menerapkan sistem Simpanan Air Hujan Akuifer Buatan Terpadu di Anggana atau Sahabat Anggana. Desa Tani Baru dipilih sebagai lokasi percontohan sebelum teknologi serupa dipertimbangkan untuk wilayah pesisir dan kepulauan lainnya.
Kepala Bidang (Kabid) Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) Disperkim Kukar Supriyadi Agus mengatakan, pemilihan Kecamatan Anggana dilakukan setelah pemerintah daerah menganalisis sejumlah kawasan yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih.
“Di Anggana itu merupakan wilayah yang mengalami krisis air bersih. Seperti Tani Baru, Sepatin, Muara Pantuan dan beberapa wilayah lainnya, kebutuhan airnya masih disuplai dari Muara Angke,” ucap Supriyadi kepada Prudensi.com di Tenggarong, Rabu (07/10/2026).
Kondisi geografis Kecamatan Anggana yang berada di kawasan Delta Mahakam, dengan karakteristik pesisir dan pulau-pulau kecil, menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan jaringan pelayanan air bersih.
Di sejumlah wilayah, warga masih bergantung pada air yang didatangkan dari luar menggunakan transportasi air. Kondisi tersebut menyebabkan biaya pemenuhan kebutuhan air menjadi relatif tinggi, terutama ketika masyarakat membutuhkan air dalam jumlah besar.
Dari beberapa kawasan yang mengalami persoalan serupa, Desa Tani Baru kemudian dipilih sebagai titik awal penerapan Sahabat Anggana. Lokasinya yang cukup jauh dari pusat kecamatan dan lebih banyak mengandalkan transportasi air menjadi pertimbangan untuk menguji sistem penyediaan air bersih yang dapat dikelola lebih mandiri.
Dalam sistem tersebut, air hujan ditangkap melalui atap bangunan yang berfungsi sebagai bidang penampung. Air kemudian dialirkan menggunakan talang dan jaringan pipa menuju bak penampungan komunal.
Air yang terkumpul selanjutnya melewati proses penyaringan sebelum didistribusikan kepada masyarakat. Penyaluran air menggunakan sistem gravitasi yang dikombinasikan dengan pompa distribusi bertenaga surya.
Panel surya dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk mengoperasikan pompa sehingga sistem tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik. Teknologi tersebut juga dirancang dengan konsep sederhana agar pengoperasian dan pemeliharaannya dapat dilakukan dengan lebih mudah di wilayah penerapan.
Bagi Disperkim Kukar, proyek di Desa Tani Baru tidak hanya ditujukan untuk menambah sarana penyediaan air bersih, tetapi juga menjadi model percontohan yang akan dievaluasi sebelum direplikasi ke kawasan lain dengan karakteristik geografis serupa.
“Karena ini sifatnya implementasi dan percontohan, kita pilih satu titik terlebih dahulu. Kalau memang memberikan manfaat, akan kita upayakan melalui stakeholder yang ada di kabupaten agar bisa dikembangkan,” jelas Supriyadi.
Pemanfaatan air hujan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif penyediaan air bersih bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan jaringan pelayanan konvensional. Jika hasil evaluasi menunjukkan manfaat dan keberlanjutan sistem, Pemkab Kukar membuka peluang pengembangan model serupa dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait.
Dari Desa Tani Baru, Sahabat Anggana diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan layanan air bersih yang lebih adaptif, mandiri, dan berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan pesisir dan kepulauan Kukar. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum
