Wall Street Terbelah, Lonjakan Minyak Picu Kekhawatiran Investor
NEW YORK – Lonjakan harga minyak mentah akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran inflasi dan mempersempit peluang pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Tekanan tersebut membebani mayoritas indeks saham Wall Street pada perdagangan Kamis (08/10/2026), terutama indeks Nasdaq Composite yang anjlok 1,25% menjadi 27.193,34.
Kenaikan harga energi menjadi perhatian investor karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut turut memperbesar ketidakpastian menjelang musim laporan keuangan kuartal III yang dijadwalkan mulai bergulir pekan depan.
Harga minyak mentah Brent melonjak 4,1%, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,6%. Kenaikan ini terjadi setelah serangkaian serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan penurunan produksi minyak AS akibat aktivitas badai memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
“Kenaikan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi,” kata Terry Sandven, kepala strategi ekuitas US Bank Wealth Management, sebagaimana dilansir Reuters pada Kamis, (08/10/2026).
Kekhawatiran terhadap inflasi turut memengaruhi proyeksi kebijakan moneter. Pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, akan mempertahankan suku bunga pada Oktober. Sementara itu, berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 69,2%.
Ekspektasi tersebut menjadi tantangan bagi pasar saham karena suku bunga yang bertahan tinggi dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan menekan valuasi saham, khususnya pada sektor teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Tekanan pasar juga diperkuat oleh pelemahan saham semikonduktor. Indeks saham produsen cip merosot 3,4% setelah Financial Times melaporkan bahwa pendapatan tahunan OpenAI diperkirakan sekitar US$20 miliar lebih rendah daripada indikasi sebelumnya.
Sejumlah saham teknologi mencatat penurunan tajam. Micron Technology terkoreksi 4,8%, sedangkan Broadcom dan Oracle masing-masing turun 4,4% dan 5,5%. Kekhawatiran mengenai kebutuhan pendanaan di industri kecerdasan buatan turut mencuat setelah muncul laporan tentang rencana Broadcom mencari pendanaan US$50 miliar untuk OpenAI.
Situasi tersebut menambah perhatian investor terhadap persaingan memperoleh modal di sektor teknologi, terutama ketika prospek pendapatan dan kebutuhan investasi perusahaan masih menjadi bahan evaluasi pasar.
Meski tekanan mendominasi perdagangan, kenaikan harga minyak memberikan dukungan bagi saham perusahaan energi. Sektor energi menjadi salah satu penopang utama indeks Standard & Poor’s 500 (S&P 500). Namun, penguatan tersebut belum mampu mengimbangi pelemahan saham teknologi sehingga S&P 500 ditutup turun 0,47% menjadi 7.765,36.
Sebaliknya, indeks Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,10% ke level 51.231,64. Perbedaan kinerja ketiga indeks tersebut menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga minyak tidak merata di seluruh sektor pasar saham.
Di luar sektor energi, saham Palantir Technologies menguat 2,4% setelah Goldman Sachs menaikkan rekomendasinya menjadi buy dari sebelumnya neutral.
Investor selanjutnya akan mencermati laporan keuangan perusahaan untuk kuartal III serta perkembangan konflik di Timur Tengah. Perubahan situasi keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi, arah inflasi global, dan ekspektasi suku bunga AS, yang pada akhirnya menentukan pergerakan pasar saham dalam waktu dekat. []
Redaksi01
