Okupansi Hotel Pontianak Merosot, Kabut Asap Picu Pembatalan Kamar
PONTIANAK – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menekan bisnis perhotelan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Tingkat hunian kamar hotel atau okupansi yang sebelumnya berkisar 70–80 persen pada periode yang sama tahun lalu, kini turun menjadi sekitar 30–40 persen. Penurunan tersebut dipicu antara lain oleh pembatalan pemesanan dan ketidakpastian jadwal penerbangan yang memengaruhi rencana perjalanan tamu.
General Manager (GM) Aston Pontianak, Udik Setiadi, mengatakan kondisi tersebut memaksa pelaku usaha perhotelan mengambil langkah efisiensi sekaligus mencari cara untuk mempertahankan pendapatan. Di tengah menurunnya jumlah tamu, pengelola hotel berupaya menekan biaya operasional dan menawarkan kegiatan yang dapat menarik konsumen lokal.
“Dengan kabut asap, kami harus berjuang. Hotel-hotel di Pontianak harus bekerja keras. Dengan tingkat okupansi yang hanya sekitar 30–40 persen, kami harus memangkas berbagai biaya dan terus berusaha meningkatkan okupansi,” kata Udik dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026), sebagaimana diberitakan Kompas.
Menurut Udik, dampak kabut asap terhadap sektor perhotelan terlihat dari perubahan rencana perjalanan para tamu. Ketidakpastian penerbangan membuat sebagian calon pengunjung memilih membatalkan atau menunda kedatangan mereka ke Pontianak.
Dalam satu malam, Aston Pontianak dapat menerima sekitar tiga hingga empat pembatalan pemesanan kamar. Situasi tersebut juga dirasakan oleh hotel-hotel lain di sekitar wilayah itu.
“Untuk sementara ini memang banyak tamu yang membatalkan atau menunda pemesanan,” ucap Udik.
Penurunan okupansi yang kini berada di kisaran 30–40 persen menjadi tantangan bagi pengelola hotel untuk menjaga keberlangsungan usaha. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika tingkat hunian masih mencapai 70–80 persen, kondisi saat ini menunjukkan berkurangnya permintaan kamar secara signifikan.
Untuk mengantisipasi tekanan bisnis, pihak hotel berupaya memperluas sumber pendapatan melalui penawaran makanan, acara ulang tahun, kegiatan komunitas, serta pertemuan dan kegiatan kedinasan pemerintah. Strategi tersebut diarahkan untuk menjangkau masyarakat setempat, termasuk ketika kunjungan tamu dari luar daerah belum pulih.
“Kami mencoba membuat berbagai kreasi makanan dan kegiatan. Kami mengundang masyarakat yang ingin mengadakan acara ulang tahun, kemudian dinas-dinas yang masih memiliki anggaran untuk kegiatan, event, maupun meeting,” katanya lagi.
Selain mengandalkan pasar lokal, kegiatan berskala besar dinilai dapat membantu meningkatkan hunian kamar. Udik mencontohkan penyelenggaraan Polytron Indonesia Masters 2026 di Pontianak pada awal September lalu yang turut menopang okupansi Aston Pontianak, meskipun kabut asap masih menyelimuti kota tersebut.
Pengalaman itu memperlihatkan pentingnya agenda olahraga, kegiatan komunitas, dan acara pemerintah dalam menjaga perputaran ekonomi sektor perhotelan ketika kunjungan wisatawan dan perjalanan bisnis mengalami tekanan.
Udik berharap kondisi kabut asap segera membaik agar aktivitas masyarakat dan perjalanan menuju Pontianak kembali berjalan normal. Ia juga berharap lebih banyak agenda pemerintah dan kegiatan lainnya dapat diselenggarakan dalam beberapa bulan mendatang sehingga membantu mendongkrak tingkat hunian serta menjaga keberlangsungan usaha perhotelan.
“Harapannya, kabut asap segera selesai sehingga kami bisa kembali melakukan kebiasaan dan kegiatan sehari-hari seperti biasa,” tutup Udik. []
Redaksi01
