Disketapang Kukar Perkuat Empat Lumbung Pangan, Targetkan Beras Premium
Beras Medium Produksi Kecamatan Muara Kaman.
Disketapang Kukar meningkatkan fasilitas pascapanen di empat lumbung pangan serta menyiapkan teknologi penyortiran, pengemasan, dan merek produk untuk mendorong produksi beras lokal berkualitas premium.
ADVERTORIAL – Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperkuat empat lumbung pangan melalui peningkatan fasilitas pengolahan pascapanen untuk mendorong produksi beras premium. Upaya tersebut mencakup peningkatan fasilitas penggilingan dan pengeringan gabah, rencana pengadaan mesin penyortir warna beras, serta pengembangan kemasan dan merek produk guna meningkatkan kualitas dan daya saing beras lokal.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan penguatan fasilitas tersebut merupakan langkah strategis untuk meningkatkan mutu beras yang dihasilkan petani. Pasalnya, sebagian besar produksi beras lokal Kukar saat ini masih berada dalam kategori mutu medium.
“Kalau yang sudah kami lakukan penguatan, itu ada empat lumbung pangan,” ucap Ananias saat diwawancarai Prudensi.com melalui telepon di Tenggarong, Selasa (20/10/2026).
Keempat lumbung pangan tersebut berada di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong; Desa Segihan dan Desa Giri Agung, Kecamatan Sebulu; serta Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana.
Menurut Ananias, peningkatan sarana dan prasarana pascapanen difokuskan pada optimalisasi proses penggilingan dan pengeringan gabah agar beras yang dihasilkan memiliki mutu lebih baik.
“Di empat lokasi ini, kami coba tingkatkan fasilitasnya, mulai dari unit penggilingan padi atau rice milling unit (RMU), kemudian mesin pengeringnya juga,” jelasnya.
Ia menjelaskan, proses pengeringan merupakan salah satu tahapan penting dalam menjaga kualitas gabah sebelum diolah menjadi beras. Karena itu, pengeringan harus dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) untuk menghasilkan beras dengan mutu yang lebih baik.
“Pengeringan padi itu harus betul-betul berkualitas dan sesuai dengan SOP. Dengan begitu, hasil beras yang dihasilkan nanti kualitasnya bisa premium,” katanya.
Khusus di Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Disketapang Kukar berencana menggunakan mesin pengering vertikal atau vertical dryer berkapasitas 10 ton. Penggunaan fasilitas tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan proses pengeringan gabah sebelum memasuki tahap penggilingan.
“Khusus di Anggana, rencananya kami mau menggunakan vertical dryer berkapasitas 10 ton. Harapannya, proses pengeringan bisa lebih optimal sehingga kualitas beras yang dihasilkan juga semakin baik,” ungkapnya.
Selain meningkatkan fasilitas penggilingan dan pengeringan, Disketapang Kukar juga merencanakan bantuan mesin penyortir warna beras atau rice color sorter untuk keempat lumbung pangan tersebut.
Mesin tersebut berfungsi memilah butiran beras berdasarkan warna sehingga menghasilkan produk dengan tampilan lebih seragam. Teknologi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas visual beras sekaligus memperkuat daya tarik produk di pasaran.
“Kami juga berencana membantu mesin sortir warna beras di empat lokasi ini. Jadi, beras yang warnanya agak keabu-abuan atau kekuningan bisa tereliminasi,” kata Ananias.
Menurutnya, penggunaan teknologi penyortiran menjadi bagian dari upaya menghasilkan beras lokal dengan kualitas yang lebih konsisten dan berpeluang dikembangkan menjadi produk premium.
“Jadi, betul-betul beras yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Kami ingin hasil produksi dari lumbung-lumbung pangan ini bisa dikembangkan menjadi beras premium,” ujarnya.
Tidak hanya meningkatkan kualitas pengolahan, Disketapang Kukar juga mendorong pengembangan kemasan dan merek untuk memperkuat identitas produk beras lokal dari masing-masing lumbung pangan.
Ananias menyebutkan, setiap lokasi berpeluang memiliki merek tersendiri sehingga keempat lumbung pangan tersebut diharapkan dapat menghasilkan empat merek beras lokal yang mampu bersaing di pasaran.
“Dari empat lokasi ini, nantinya kami berharap bisa ada empat merek beras. Saat ini, pengembangan di empat lokasi tersebut sedang kami jajaki, termasuk untuk pengemasan dan mereknya,” jelasnya.
Pengembangan merek dan kemasan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran beras lokal Kukar.
Selain memperkuat empat lumbung pangan yang telah menjadi sasaran program, Disketapang Kukar juga menjajaki potensi pengembangan fasilitas serupa di wilayah lain, termasuk Desa Sungai Payang, Kecamatan Loa Kulu, dan kawasan Kecamatan Loa Janan.
“Selain empat lokasi ini, ada juga wilayah lain yang potensial. Mungkin nanti kami coba kembangkan di Sungai Payang, kemudian Sungai Pimpin di Loa Janan. Itu bisa menjadi pertimbangan untuk tahap kedua,” kata Ananias.
Menurut Ananias, penguatan lumbung pangan diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hasil pertanian, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan beras lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ia menilai Kukar memiliki potensi produksi padi yang perlu didukung dengan fasilitas pengolahan memadai agar hasil panen petani dapat dipasarkan dengan kualitas dan nilai jual lebih tinggi.
“Harapan kami, dengan lumbung-lumbung pangan yang sudah siap ini, berasnya tidak perlu jauh-jauh didatangkan dari luar. Kita ini kan penghasil beras,” tegasnya.
Melalui penguatan empat lumbung pangan, peningkatan teknologi pascapanen, serta pengembangan kemasan dan merek, Disketapang Kukar berharap beras lokal memiliki daya saing lebih kuat, memberikan nilai tambah bagi hasil panen petani, serta memperkuat ketersediaan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kukar. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum
