IHSG Anjlok, Ratusan Saham Berguguran

0
potret-ishg-271026

Tekanan jual meluas di Bursa Efek Indonesia akibat kombinasi sentimen global dan domestik. Di tengah pelemahan indeks, saham DADA dan TGUK justru mencatatkan kenaikan signifikan.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Selasa (27/10/2026), setelah ditutup merosot 106,96 poin atau 1,99 persen ke level 5.266,13. Pelemahan melanda sebagian besar saham dan sektor perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar keuangan global maupun domestik.

Penurunan tersebut memperpanjang tekanan terhadap pasar saham nasional setelah sehari sebelumnya, Senin (26/10/2026), IHSG juga terkoreksi 1,22 persen ke posisi 5.373,09. Dalam dua hari perdagangan, indeks telah kehilangan sekitar 173,12 poin atau setara 3,18 persen dibandingkan penutupan Jumat (23/10/2026).

Tekanan jual tercermin dari dominasi saham yang mengalami penurunan harga. Berdasarkan data RTI Business yang dilaporkan Databoks Katadata, sebanyak 611 saham melemah, sementara hanya 100 saham menguat dan 82 saham tidak mengalami perubahan harga.

Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 1,91 juta transaksi dengan volume 36,44 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp17,95 triliun. Besarnya aktivitas tersebut berlangsung ketika mayoritas saham bergerak di zona negatif.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dengan kisaran 5.182 hingga 5.418, setelah dibuka di sekitar level 5.373. Meskipun sempat bergerak ke zona positif, tekanan jual yang berlanjut menyeret indeks kembali melemah hingga penutupan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada sejumlah saham tertentu, tetapi telah meluas ke berbagai sektor dan kelompok emiten berkapitalisasi besar.

Sentimen Global dan Domestik

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG dipengaruhi sejumlah faktor yang secara bersamaan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap prospek pasar keuangan Indonesia.

“Kombinasi sentimen meningkatkan tekanan jual dan menurunkan risk appetite investor,” ujar Elandry sebagaimana dikutip dari ANTARA, Selasa (27/10/2026).

Menurut Elandry, salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah ketidakpastian terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), terutama menyangkut transparansi dan kelayakan investasi (investability) pasar saham Indonesia.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp18.167 per dolar Amerika Serikat (AS) turut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.

Kenaikan harga minyak mentah Brent ke level 112 dolar AS per barel juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan biaya impor energi Indonesia.

Pada saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke level 7,52 persen. Kondisi tersebut mendorong investor semakin selektif dalam menempatkan dananya pada instrumen investasi berisiko.

Tekanan terhadap pasar juga diperberat oleh arus keluar modal asing (foreign capital outflow) serta ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Pelaku pasar masih mencermati arah keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) yang berpotensi memengaruhi pergerakan arus modal internasional, nilai tukar, dan pasar saham negara berkembang.

Sepuluh Sektor

Pelemahan IHSG berlangsung secara luas. Berdasarkan klasifikasi sektoral Bursa Efek Indonesia atau IDX Industrial Classification (IDX-IC), sebanyak 10 dari 11 sektor saham berakhir di zona merah.

Sektor energi mengalami tekanan terbesar dengan penurunan 3,33 persen, disusul sektor barang baku yang terkoreksi 3,32 persen dan sektor teknologi yang melemah 3,16 persen.

Sektor infrastruktur juga mengalami penurunan 2,95 persen, transportasi dan logistik 2,83 persen, properti 1,55 persen, serta kesehatan 1,50 persen.

Sementara itu, sektor barang konsumen siklikal melemah 1,36 persen, keuangan turun 1,11 persen, dan barang konsumen non-siklikal terkoreksi 0,49 persen.

Di tengah tekanan tersebut, sektor perindustrian menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan penguatan, yakni sebesar 1,43 persen.

Pelemahan turut menyeret indeks saham unggulan. Indeks LQ45 turun 1,69 persen menjadi 533,02, sedangkan indeks IDX30 melemah 1,49 persen ke posisi 299,62.

Indeks IDX80 juga terkoreksi 1,93 persen ke level 78,63. Sementara itu, Jakarta Islamic Index (JII) mengalami penurunan lebih dalam sebesar 2,71 persen menjadi 307,96.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar menjangkau saham berkapitalisasi besar, saham likuid, hingga kelompok saham berbasis prinsip syariah.

IHSG Tertekan, DADA dan TGUK Justru Meroket

Meskipun mayoritas saham melemah, sejumlah emiten justru mencatatkan kenaikan harga signifikan dan berhasil menempati daftar saham dengan penguatan terbesar (top gainers).

PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) memimpin dengan lonjakan harga 33,33 persen ke level Rp24 per saham.

Posisi kedua ditempati PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) yang menguat sekitar 23,46 persen menjadi Rp100 per saham.

Selanjutnya, PT Apollo Global Interactive Tbk (BOGA) melonjak 22,88 persen ke level Rp1.880, disusul PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) yang meningkat 20,63 persen menjadi Rp228 per saham.

PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) turut masuk dalam lima besar setelah mencatatkan kenaikan 19,32 persen ke posisi Rp105 per saham.

Sepuluh saham dengan penguatan terbesar pada perdagangan Selasa (27/10/2026):

Kode saham Kenaikan
DADA +33,33%
TGUK +23,46%
BOGA +22,88%
TMPO +20,63%
OKAS +19,32%
MMIX +15,04%
MKNT +14,29%
ERAL +13,67%
ARII +12,29%
NETV +11,11%

Kenaikan sejumlah saham tersebut menunjukkan bahwa peluang penguatan pada tingkat emiten masih terjadi meskipun kondisi pasar secara keseluruhan berada dalam tekanan.

Namun, lonjakan harga saham tertentu tidak serta-merta mencerminkan pemulihan pasar secara menyeluruh, terutama ketika jumlah saham yang melemah jauh lebih besar dibandingkan saham yang menguat.

Di sisi lain, saham SMKM dan WGSH menjadi dua emiten dengan pelemahan terbesar menurut data yang dihimpun IDXChannel dan Databoks, masing-masing terkoreksi 9,88 persen.

Saham UDNG menyusul dengan penurunan 9,68 persen, sedangkan LOPI, IDEA, AEGS, ISAP, NANO, SOFA, dan MEJA juga masuk dalam kelompok saham yang mengalami pelemahan terbesar.

Dominasi Saham Perbankan

Tekanan pasar turut terlihat pada saham-saham dengan nilai transaksi terbesar (top value), terutama dari sektor perbankan.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menempati posisi teratas dengan nilai transaksi mencapai Rp1,80 triliun. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyusul dengan transaksi sebesar Rp1,23 triliun.

Posisi ketiga ditempati PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai perdagangan Rp1,08 triliun, diikuti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp805 miliar.

Selanjutnya, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan nilai transaksi Rp703 miliar.

Kelima saham tersebut berakhir melemah, memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan bernilai besar juga berlangsung di tengah tekanan terhadap saham-saham utama di bursa.

Bursa Asia Bergerak Beragam

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia berlangsung ketika sejumlah bursa utama Asia juga mengalami pelemahan.

Indeks Shanghai Composite di China turun 1,33 persen menjadi 3.648,30, sedangkan Hang Seng Hong Kong melemah di kisaran 0,73 hingga 0,96 persen berdasarkan laporan pasar yang berbeda.

Indeks Straits Times Singapura juga terkoreksi, sementara pasar saham Jepang menunjukkan pergerakan berlawanan dengan penguatan indeks Nikkei sekitar 1,7 persen.

Indeks Kospi Korea Selatan turut mencatatkan kenaikan, menunjukkan bahwa tekanan tidak berlangsung merata di seluruh bursa Asia.

Perbedaan arah tersebut mengindikasikan bahwa pergerakan pasar regional dipengaruhi kombinasi kondisi ekonomi, karakteristik emiten, dan respons investor terhadap perkembangan global.

Antisipasi OJK dan BEI

Di tengah meningkatnya volatilitas, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI telah mengumumkan sejumlah kebijakan untuk memperkuat integritas, transparansi, dan pengawasan perdagangan saham.

Salah satu langkah yang diumumkan pada Senin (26/10/2026) adalah perpanjangan kebijakan pembelian kembali saham (buyback) tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) hingga Juni 2027.

Selain itu, keanggotaan Komite High Shareholding Concentration (HSC) diperluas menjadi sembilan orang dengan melibatkan unsur eksternal dan independen, termasuk pelaku industri pasar modal, akademisi, serta investor asing.

BEI juga berencana mempercepat pengumuman dan investigasi apabila ditemukan indikasi manipulasi harga saham.

Penyesuaian pendekatan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan tidak biasa atau Unusual Market Activity (UMA) serta penghentian sementara perdagangan saham (suspensi) turut menjadi bagian dari langkah yang diumumkan.

Dalam kebijakan tersebut, pengawasan diarahkan agar lebih menitikberatkan tindakan terhadap rekening efek yang terindikasi terlibat dalam manipulasi harga.

Berbagai langkah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki mekanisme pengawasan dan memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Meski demikian, efektivitas kebijakan tersebut dalam meredam tekanan pasar masih bergantung pada implementasi, perkembangan kondisi ekonomi, serta respons pelaku pasar.

Dengan IHSG kembali melemah hampir dua persen, perhatian investor selanjutnya tertuju pada perkembangan nilai tukar rupiah, harga energi, arus modal asing, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Perdagangan Selasa memperlihatkan kontras antara tekanan jual yang meluas dan lonjakan harga pada sejumlah saham tertentu. Situasi itu menegaskan pentingnya membedakan kinerja indeks secara keseluruhan dengan pergerakan masing-masing emiten dalam membaca kondisi pasar modal. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *