Pemerintah Percepat Neraca Gula Rafinasi, Pasokan Industri 2027 Jadi Perhatian

0
7b250bd8-8ce0-49ab-97ef-b9dd99ccd16f

JAKARTA – Industri makanan, minuman, dan farmasi diproyeksikan membutuhkan sekitar 3 juta ton gula rafinasi sepanjang 2026, sehingga kepastian pasokan bahan baku untuk awal 2027 menjadi perhatian pemerintah. Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong percepatan penyelesaian neraca komoditas gula rafinasi agar pemesanan dapat dilakukan lebih awal dan kebutuhan industri tidak terganggu pada awal tahun depan.

Langkah tersebut juga ditujukan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan bahan baku menjelang hari besar keagamaan pada 2027. Pemerintah menilai kepastian waktu pemesanan dan kedatangan pasokan penting agar kegiatan produksi industri tetap berjalan sesuai kebutuhan.

Sarmuji menyampaikan bahwa ketersediaan gula rafinasi untuk kebutuhan industri sepanjang 2026 diperkirakan tetap aman hingga akhir tahun. “Kita usahakan supaya neraca komoditasnya bisa segera kita selesaikan, sehingga pemesanan gula rafinasi sebagai bahan baku industri aman di awal tahun depan,” kata Sarmuji setelah menerima audiensi Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) di Jakarta, Selasa (27/10/2026), sebagaimana diberitakan Antara pada Selasa (27/10/2026)

Ia menegaskan, percepatan penyelesaian neraca komoditas diperlukan agar pelaku industri dapat memesan bahan baku lebih awal. Dengan kepastian tersebut, waktu kedatangan pasokan pada awal 2027 diharapkan dapat diperkirakan sehingga kebutuhan produksi tetap terpenuhi.

“InsyaAllah sampai Desember ke depan aman,” ujarnya.

Kepastian pasokan gula rafinasi dinilai berperan dalam mendorong peningkatan utilisasi industri agro, terutama subsektor makanan dan minuman. Menurut Sarmuji, tingkat utilisasi subsektor tersebut saat ini masih berada di kisaran 60 persen.

Peningkatan pemanfaatan kapasitas produksi diharapkan dapat memperkuat kontribusi industri makanan dan minuman terhadap industri nasional. Ketersediaan bahan baku yang terencana menjadi salah satu faktor pendukung agar perusahaan dapat menjaga kesinambungan produksi.

Meski demikian, pemerintah menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan industri harus disertai pengawasan distribusi. Gula rafinasi yang dialokasikan sebagai bahan baku industri tidak boleh dialihkan ke pasar konsumen sebagai gula konsumsi.

“Kita berikan jaminan ketercukupan gula rafinasi sebagai bahan baku industri, tetapi sebaliknya kita juga meminta dengan sangat dan akan kita awasi dengan ketat, supaya gula rafinasi tidak bocor ke konsumen sebagai gula konsumsi,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Supriyadi mengatakan, kebutuhan gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman serta farmasi pada 2026 mencapai sekitar 3 juta ton. Ia memperkirakan pasokan yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan hingga akhir Desember tahun ini.

Supriyadi juga menyatakan AGRI berkomitmen menyalurkan gula rafinasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Komitmen tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga agar bahan baku industri digunakan sesuai peruntukannya.

Dari sisi pengadaan internasional, penurunan produksi gula di Thailand tidak serta-merta menghambat pemenuhan kebutuhan Indonesia. Menurut Supriyadi, masih terdapat alternatif negara pemasok, di antaranya Brasil dan Australia.

Namun, pengadaan bahan baku tetap menghadapi tantangan berupa kenaikan harga gula mentah (raw sugar). Kenaikan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk dampak El Niño terhadap produksi di beberapa negara, situasi geopolitik, serta meningkatnya kebutuhan energi yang mendorong sebagian negara mengalihkan hasil produksinya untuk bahan bakar nabati.

Kondisi tersebut membuat kepastian perencanaan pasokan menjadi semakin penting bagi industri pengguna gula rafinasi. Percepatan penyelesaian neraca komoditas, disertai pengawasan distribusi dan pemantauan perkembangan harga global, diharapkan dapat membantu menjaga kelangsungan produksi industri makanan, minuman, dan farmasi memasuki 2027. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *