Dinkes Kukar Siagakan Posko Kesehatan dan PSC 119 untuk MTQH ke-46
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan Kabupaten Kukar, dr. Laode Nur Aida.
Dinkes Kukar menyiapkan posko kesehatan, tenaga medis, layanan PSC 119, dan koordinasi dengan fasilitas kesehatan untuk memastikan seluruh kafilah MTQH ke-46 Kaltim memperoleh penanganan medis selama perlombaan.
ADVERTORIAL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menyiapkan posko kesehatan, tenaga medis, dan layanan rujukan bagi seluruh kafilah yang mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadis (MTQH) ke-46 Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Pelayanan tersebut akan menjangkau lokasi perlombaan hingga penginapan peserta untuk memastikan penanganan kesehatan dapat dilakukan secara cepat selama kegiatan berlangsung.
Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinkes Kukar, Laode Nur Aida, mengatakan pihaknya akan melibatkan rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), klinik, serta tenaga kesehatan pendamping dari masing-masing kabupaten/kota.
“Apa yang disampaikan Ketua LPTQ Provinsi, harus ada beberapa tempat pelayanan kesehatan di setiap venue. Kami Dinkes, secara teknis nanti akan kami atur, mengingat kegiatan ini berlangsung cukup panjang. Kami sudah memiliki strategi penanganan, di mana semua kafilah terlebih dahulu harus didampingi tenaga kesehatan dari masing-masing kabupaten/kota,” jelas Laode di Tenggarong, Rabu (04/11/2026).
Laode menjelaskan, pendampingan tenaga kesehatan dari setiap daerah menjadi strategi utama untuk memantau kondisi peserta sekaligus mempercepat koordinasi apabila terjadi gangguan kesehatan selama pelaksanaan MTQH.
Menurutnya, setiap kafilah diharapkan menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum berangkat ke Kukar. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi fisik peserta serta mengidentifikasi penyakit tertentu yang membutuhkan perhatian khusus.
“Jadi sebelum mereka berangkat mengikuti kegiatan, kita sudah tahu masalah kesehatan yang bersangkutan, apakah mereka fit atau memang ada penyakit tertentu yang harus kita kawal,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, peserta yang memiliki riwayat hipertensi atau diabetes perlu memastikan ketersediaan obat-obatan rutin selama mengikuti kegiatan. Langkah tersebut diperlukan agar pengobatan tetap berjalan dan risiko gangguan kesehatan dapat diminimalkan.
Untuk mempercepat komunikasi, Dinkes Kukar juga akan membentuk grup WhatsApp yang melibatkan tenaga kesehatan pendamping dari seluruh kafilah. Sarana komunikasi tersebut akan digunakan untuk melaporkan kondisi peserta dan mengoordinasikan penanganan medis, baik di penginapan maupun lokasi perlombaan.
“Kalau misalnya terjadi sesuatu di tempat penginapan, kita cepat bisa tindak lanjuti. Tapi kalau terjadi masalah pada waktu mereka sedang dalam posisi melakukan kegiatan lomba, kami sudah menyiapkan posko kesehatan,” katanya.
Posko kesehatan utama direncanakan berada di Gedung Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), yang sebelumnya difungsikan sebagai Klinik Korpri. Lokasi tersebut dipilih karena sebagian besar arena perlombaan berada di kawasan perkantoran Bupati Kukar sehingga memudahkan akses pelayanan kesehatan bagi peserta.
Dalam pelaksanaannya, Dinkes Kukar akan mengoptimalkan Public Safety Center (PSC) 119 sebagai pusat koordinasi penanganan kegawatdaruratan medis. Tim PSC 119 bertugas mengatur proses penanganan pasien, mulai dari pemeriksaan awal, penentuan tingkat kegawatan, hingga tindak lanjut medis sesuai kondisi peserta.
Laode menjelaskan, pemeriksaan awal dilakukan melalui proses penapisan atau triase untuk mengelompokkan pasien berdasarkan tingkat kegawatan. Pengelompokan tersebut menggunakan kategori hijau, kuning, dan merah agar penanganan dapat diprioritaskan sesuai kondisi medis.
“Kalau sakit itu kan ada screening dulu. Kalau kami di kesehatan ada screening, dia label hijau, label merah atau label kuning. Kalau misalnya label hijau penanganannya tersendiri, kalau label kuning ada penanganan tersendiri. Itu akan kami arahkan,” terangnya.
Dari sisi kesiapan tenaga kesehatan, Dinkes Kukar akan mengoptimalkan sumber daya manusia dari berbagai fasilitas pelayanan, termasuk rumah sakit, sekitar 30 puskesmas, serta sejumlah klinik di Tenggarong dan sekitarnya.
“Kalau masalah tenaga, sebenarnya banyak karena kita akan menggunakan teman-teman dari puskesmas. Puskesmas kan sudah 24 jam, kemudian teman-teman dari klinik, terutama PSC. Kalau PSC itu siap jemput apabila ada masalah,” paparnya.
Selain mengerahkan tenaga kesehatan dari fasilitas pelayanan yang tersedia, Dinkes Kukar akan menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) Kukar untuk memperkuat dukungan pelayanan medis selama MTQH berlangsung.
Laode juga mengimbau seluruh peserta memastikan kepesertaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tetap aktif sebelum berangkat ke Kukar. Kepesertaan aktif diperlukan untuk mendukung pembiayaan pelayanan kesehatan yang dijamin program JKN apabila peserta membutuhkan pemeriksaan lanjutan atau rujukan ke rumah sakit.
“Kita harapkan semua peserta sudah memiliki kartu BPJS Kesehatan yang aktif, sehingga kalau ada apa-apa dan kita harus merujuk dan sebagainya, itu sudah bisa di-backup dengan adanya BPJS Kesehatan,” tuturnya.
Melalui penyediaan posko kesehatan, pendampingan tenaga medis, koordinasi PSC 119, serta kerja sama dengan fasilitas kesehatan dan PMI Kukar, Pemkab Kukar berupaya memastikan kebutuhan pelayanan medis seluruh kafilah dapat terpenuhi selama penyelenggaraan MTQH ke-46 Kaltim.
Kesiapan tersebut diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi peserta dan pendamping sehingga seluruh rangkaian perlombaan dapat berlangsung lancar tanpa mengabaikan keselamatan serta kesehatan para kafilah. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum
