BI Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi di Tengah Lonjakan Harga Global
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memastikan pengendalian inflasi nasional terus diperkuat melalui koordinasi erat dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah di tengah meningkatnya tekanan harga komoditas global. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas harga, mempertahankan daya beli masyarakat, serta memperkuat ketahanan fiskal dan moneter.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan sinergi lintas pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga inflasi tetap berada pada jalur yang terkendali meskipun perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian.
“Kami terus berkoordinasi pusat dan daerah menjaga inflasi karena harga global naik,” ujar Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa (07/07/2026), sebagaimana dilansir Antara, Selasa (07/07/2026).
Perry menegaskan, koordinasi tersebut bertujuan menjaga stabilitas inflasi sehingga mampu mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kebijakan fiskal dan moneter nasional.
“Sehingga sama-sama inflasi itu terjaga, rakyatnya sejahtera dan fiskal moneter tetap kuat dan InsyaAllah tetap kuat,” katanya.
BI mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 masih berada dalam sasaran yang ditetapkan. Realisasi inflasi tahunan mencapai 3,34 persen (year-on-year/yoy), yang dinilai merupakan hasil sinergi pengendalian inflasi antara bank sentral dengan pemerintah pusat maupun daerah.
Selain koordinasi kebijakan, pengendalian inflasi juga didukung implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional serta konsistensi kebijakan moneter yang diterapkan BI.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan bank sentral optimistis inflasi tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen atau 1,5 hingga 3,5 persen pada 2026 dan 2027.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen (rentang 1,5-3,5 persen) pada 2026 dan 2027,” kata Ramdan Denny Prakoso.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IHK pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), sedangkan secara tahunan mencapai 3,34 persen (year-on-year/yoy).
Inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm), relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,22 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi inti meningkat menjadi 2,76 persen (yoy) dari sebelumnya 2,59 persen (yoy), yang dipengaruhi tingginya harga komoditas global di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Sementara itu, kelompok volatile food mencatat inflasi sebesar 0,14 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,22 persen (mtm). Kenaikan harga pada kelompok tersebut terutama dipicu komoditas bawang merah, bawang putih, dan beras akibat penurunan produksi di daerah sentra, meningkatnya biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya. Secara tahunan, inflasi volatile food tercatat 5,58 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 6,24 persen (yoy). []
Redaksi01
