Bursa Asia Bergerak Hati-Hati, Investor Waspadai Beban Utang Teknologi

0
Bursa-Asia

SYDNEY – Beban utang untuk membiayai pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan meningkatnya biaya pinjaman menjadi risiko yang membayangi pasar saham global menjelang musim laporan keuangan perusahaan kuartal III 2026. Investor kini mencermati kemampuan perusahaan teknologi menghasilkan keuntungan yang sebanding dengan besarnya investasi, sementara kenaikan harga energi berpotensi kembali menekan inflasi dan memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral.

Kekhawatiran tersebut mewarnai perdagangan bursa Asia pada Senin (12/10/2026). Pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi dan penjualan ritel Amerika Serikat (AS), serta laporan keuangan perbankan besar yang dijadwalkan mulai terbit pada Selasa.

Sebagaimana diwartakan Kontan, Senin, (12/10/2026), pasar turut mencermati perkembangan geopolitik di kawasan Teluk dan pengumuman Presiden Donald Trump mengenai gencatan senjata energi antara Ukraina dan Rusia yang belum dikonfirmasi kedua negara. Usulan Trump agar Rusia meningkatkan ekspor solar juga menuai kritik dari senator Partai Republik maupun Demokrat karena dinilai berpotensi melanggar hukum.

Pergerakan bursa Asia menunjukkan sikap hati-hati investor. Saham Korea Selatan turun 1,1%, sedangkan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang bergerak relatif stabil.

Di Amerika Serikat, kontrak berjangka indeks Standard & Poor’s 500 (S&P 500) naik tipis 0,2%, sedangkan kontrak berjangka Nasdaq menguat 0,5%. Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 dan DAX masing-masing naik 0,4%, sementara FTSE menguat 0,3%.

Aktivitas perdagangan relatif rendah karena pasar Jepang tutup dan Amerika Serikat menjalani hari libur parsial. Kondisi tersebut terjadi menjelang dimulainya musim laporan keuangan, ketika investor akan menguji ketahanan kinerja perusahaan terhadap tekanan biaya pendanaan.

Data LSEG IBES memperkirakan laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 melonjak lebih dari 30% pada kuartal III. Namun, sebagian besar pertumbuhan laba tersebut diperkirakan berasal dari sektor teknologi, sehingga ketergantungan pasar terhadap kinerja kelompok saham tersebut menjadi perhatian tersendiri.

My Bui, ekonom di AMP, mencatat bahwa seluruh kenaikan indeks S&P 500 sejak pertengahan September didorong sektor teknologi. Pada saat bersamaan, investor menuntut imbal hasil (yield) lebih tinggi untuk mendanai pinjaman berskala besar yang digunakan dalam pengembangan AI.

Tekanan juga terlihat pada indeks credit default swap (CDS) obligasi korporasi AS berperingkat layak investasi (investment-grade). Indeks yang mencerminkan biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar tersebut melonjak ke tingkat tertinggi sejak perang Iran dimulai.

“Secara keseluruhan, pelebaran selisih imbal hasil (spread) mengindikasikan keraguan investor mengenai apakah pendapatan dari AI mampu mengimbangi kenaikan biaya pinjaman,” tambah Bui.

“Penerbitan obligasi korporasi untuk mendanai belanja modal (capex) AI, ditambah dengan pelebaran spread obligasi imbal hasil tinggi (high-yield), akan meningkatkan biaya pembiayaan kembali (refinancing) seiring dengan jatuhnya tempo utang saat ini dalam beberapa tahun ke depan.”

Pelebaran selisih imbal hasil (spread) menunjukkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor. Jika biaya pendanaan terus naik, perusahaan teknologi yang membutuhkan modal besar berpotensi menghadapi tekanan lebih berat untuk mempertahankan profitabilitas dan memenuhi kewajiban utangnya.

Selain utang korporasi, perkembangan harga minyak menjadi faktor yang diperhitungkan investor. Harga energi masih berfluktuasi setelah muncul laporan serangan terhadap jalur pelayaran dan bandara di kawasan Teluk.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat dibuka lebih tinggi sebelum turun 1,1% menjadi US$103,50 per barel. Harga tersebut menjauh dari level tertinggi baru-baru ini di US$109,97 per barel.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah AS turun 1,2% menjadi US$90,73 per barel.

Tekanan harga energi berpotensi memengaruhi data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) diperkirakan naik 0,6% secara bulanan dan mencapai 3,7% secara tahunan.

Sebaliknya, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi diproyeksikan lebih rendah, yakni naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan. Investor juga menunggu data harga produsen dan penjualan ritel untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai tekanan harga dan kekuatan konsumsi masyarakat.

Bruce Kasman, kepala ekonom global di JPMorgan, menilai kenaikan biaya energi dan pengiriman masih menjadi perhatian.

“Harga minyak tetap lebih tinggi dari perkiraan kami akibat lonjakan biaya pengiriman, dan harga produk jadi bahkan lebih tinggi lagi,” ujar Bruce Kasman, kepala ekonomi global di JPMorgan.

“Sinyal inflasi menunjukkan adanya lonjakan kembali pada inflasi umum (headline inflation) yang akan menekan daya beli, serta penguatan pada inflasi inti yang akan membuat bank sentral tetap fokus pada kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.”

Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan bagi bank sentral. Kenaikan harga energi dapat mengurangi daya beli masyarakat, sedangkan inflasi inti yang bertahan tinggi berpotensi membuat kebijakan moneter ketat dipertahankan lebih lama.

Tekanan pendanaan korporasi turut memengaruhi pasar obligasi pemerintah AS. Meningkatnya penerbitan utang perusahaan untuk membiayai investasi AI menambah persaingan kebutuhan pendanaan dan berkontribusi terhadap tekanan di pasar obligasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury mencapai level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan sebelumnya. Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor untuk menilai keuntungan perusahaan pada masa mendatang.

Dalam kondisi demikian, saham dengan valuasi tinggi, termasuk perusahaan teknologi yang mengandalkan pertumbuhan keuntungan jangka panjang, berpotensi menghadapi tekanan. Investor perlu menimbang kembali apakah proyeksi pendapatan dari investasi AI cukup untuk menutup biaya modal dan pinjaman yang meningkat.

Pasar memperkirakan peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada Oktober hanya 18%. Namun, kemungkinan kenaikan pada Desember diperkirakan mencapai 85%.

Investor juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga di Uni Eropa, Jepang, dan Inggris sebelum akhir tahun. Ekspektasi tersebut menambah ketidakpastian bagi pasar saham, obligasi, dan mata uang global.

Di pasar valuta asing, euro bertahan di sekitar US$1,1201 setelah melemah selama lima pekan berturut-turut. Tekanan terhadap mata uang tersebut berkaitan dengan kekhawatiran mengenai defisit anggaran pemerintah di Eropa.

Indeks dolar AS bertahan mendekati level tertinggi dalam 17 bulan di angka 102,25. Namun, pergerakannya terhadap yen Jepang tertahan di sekitar 158,15 karena ancaman intervensi pemerintah Jepang meredam aktivitas spekulasi di pasar valuta asing.

Sementara itu, harga emas naik 0,3% menjadi US$4.206 per ons setelah mencatat kenaikan lebih dari 1% pada pekan sebelumnya. Sebagai aset yang tidak memberikan bunga, emas tetap menjadi perhatian investor ketika ketidakpastian pasar meningkat.

Pergerakan berbagai instrumen tersebut memperlihatkan bahwa investor menghadapi sejumlah risiko secara bersamaan, mulai dari tingginya biaya utang korporasi dan valuasi saham teknologi hingga ketidakpastian harga energi serta arah suku bunga.

Dalam pekan perdagangan ini, laporan keuangan perusahaan dan data ekonomi AS akan menjadi penentu penting bagi arah pasar. Kemampuan perusahaan membuktikan pertumbuhan laba yang sebanding dengan kebutuhan investasi, khususnya di sektor AI, akan menjadi salah satu faktor yang dicermati untuk menilai keberlanjutan penguatan saham global. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *