Bursa Asia Berguguran, Saham AI Tertekan Jelang Musim Laporan Keuangan

0
Bursa Asia Berguguran, Saham AI Tertekan Jelang Musim Laporan Keuangan

JAKARTA – Kekhawatiran investor terhadap prospek investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) menekan bursa saham Asia pada Selasa (13/10/2026), terutama di Jepang dan Korea Selatan. Tekanan terjadi menjelang musim publikasi laporan keuangan perusahaan, ketika pelaku pasar mulai menimbang besarnya belanja modal sektor AI di tengah meningkatnya biaya pinjaman.

Mengutip data Bloomberg sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa (13/10/2026), indeks Nikkei 225 Jepang merosot 2,34 persen atau 1.622,48 poin ke level 67.419,06 pada pukul 08.18 WIB. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan turun lebih tajam, yakni 5,18 persen atau 329,88 poin ke 6.053,36.

Pelemahan juga terjadi pada indeks S&P/ASX 200 Australia yang turun 0,39 persen ke 8.748,70 dan FTSE Malaysia yang terkoreksi 0,25 persen ke 1.614. Sebaliknya, indeks Straits Times Singapura bergerak berlawanan arah dengan menguat 0,33 persen ke 5.432,31.

Secara regional, indeks MSCI Asia Pasifik melemah 0,9 persen. Penurunan tersebut menempatkan indeks itu pada jalur menuju kinerja penutupan terlemah sejak pertengahan Agustus, seiring tekanan yang meluas di pasar saham Jepang dan Korea Selatan.

Sektor semikonduktor menjadi salah satu sumber tekanan utama. Kospi, yang banyak dipengaruhi saham perusahaan teknologi dan cip terkait AI, tercatat turun sekitar 4,8 persen dalam laporan tersebut. Saham perusahaan semikonduktor unggulan, SK Hynix Inc. dan Samsung Electronics Co., masing-masing merosot lebih dari 5 persen.

Pelemahan saham teknologi mencerminkan perubahan sikap investor terhadap prospek keuntungan dari investasi AI. Setelah sebelumnya didorong optimisme terhadap pertumbuhan teknologi tersebut, pasar kini mulai mempertimbangkan apakah besarnya pengeluaran modal perusahaan sebanding dengan potensi hasil yang akan diperoleh, terutama ketika biaya pendanaan meningkat.

Chris Weston, kepala riset Pepperstone, menggambarkan kondisi pasar yang masih berada di bawah tekanan.

“Sentimen tampak negatif seperti yang kita lihat dalam beberapa waktu terakhir. Pembeli mundur dan penjual menemukan sedikit hambatan dalam menekan harga lebih rendah,” tulis Chris Weston, sebagaimana dikutip Bloomberg.

Ia juga menilai, “Para pelaku pasar bearish memiliki kendali lebih besar di sebagian besar perdagangan AI.”

Kekhawatiran mengenai risiko investasi AI turut mengemuka setelah Hock Tan, CEO Broadcom Inc., menyoroti perilaku sebagian investor yang dinilainya menyerupai penjudi. Peringatan tersebut mengisyaratkan bahwa antusiasme terhadap AI dapat mendorong keputusan investasi berisiko ketika pelaku pasar belum sepenuhnya memahami konsekuensi dari strategi yang mereka ambil.

Sebelumnya, investor miliarder Ray Dalio juga memperingatkan kemungkinan terbentuknya gelembung pada sektor AI. Ia menilai kenaikan suku bunga dan kebutuhan investor mengubah aset menjadi uang tunai dapat menjadi faktor yang meningkatkan tekanan terhadap pasar.

Hideyuki Ishiguro, kepala strategi Nomura Asset Management, menyebut dampak kenaikan imbal hasil sebagai salah satu hal yang patut diperhatikan investor.

“Beberapa investor mungkin khawatir tentang potensi dampak kenaikan imbal hasil terhadap penggalangan dana terkait AI dan perlambatan belanja modal,” kata Hideyuki Ishiguro.

Pergerakan bursa Asia pada awal perdagangan ini memperlihatkan bahwa optimisme terhadap AI mulai berhadapan dengan pertimbangan risiko pendanaan dan keberlanjutan investasi. Arah pasar selanjutnya akan turut dipengaruhi laporan keuangan perusahaan serta kemampuan bisnis teknologi membuktikan bahwa belanja besar untuk AI dapat menghasilkan keuntungan yang sepadan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *