Bursa Asia Melemah, Investor Mulai Khawatir Biaya Investasi AI

0
256559659

JAKARTA – Kenaikan biaya pendanaan mulai menjadi tantangan bagi investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan menekan sentimen pasar saham global. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi, serta ketidakpastian geopolitik yang mendorong investor lebih berhati-hati terhadap prospek pertumbuhan perusahaan teknologi.

Tekanan tersebut terlihat di pasar saham Asia pada Jumat (09/10/2026). Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah 0,16% dan berpotensi mencatat penurunan lebih dari 1% sepanjang pekan. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang turun lebih dari 1%, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat, (09/10/2026).

Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah meningkatnya kebutuhan modal untuk membangun infrastruktur AI. Di tengah kenaikan biaya pinjaman, perusahaan teknologi harus menghadapi tantangan untuk menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memastikan investasi berskala besar tetap menghasilkan keuntungan yang memadai.

Sentimen sektor teknologi juga tertekan setelah muncul laporan bahwa pendapatan tahunan OpenAI berdasarkan laju pendapatan saat ini berada US$20 miliar di bawah angka yang sebelumnya diindikasikan perusahaan tersebut. Kabar itu mendorong investor mengevaluasi kembali eksposur mereka terhadap saham teknologi, infrastruktur AI, dan perusahaan semikonduktor.

Kepala Riset Pepperstone Chris Weston menilai pemberitaan tersebut menjadi pemicu bagi investor untuk mengurangi sebagian kepemilikan aset terkait teknologi.

“Untuk saat ini, pergerakan harga menunjukkan bahwa investor semakin selektif dalam menentukan sektor yang ingin mereka miliki dan, yang tidak kalah penting, harga yang bersedia mereka bayarkan untuk pertumbuhan di masa depan,” ujar Weston.

Tekanan terhadap kebutuhan modal juga terlihat dari rencana penggalangan dana perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pengembangan infrastruktur AI. SpaceX, Broadcom, dan Oracle disebut berpotensi menghimpun dana miliaran dolar untuk membeli cip AI kelas atas.

Di Australia, Firmus, operator pusat data yang didukung Nvidia, menunda penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) senilai US$5 miliar. Perusahaan tersebut menyebut volatilitas dan kondisi pasar sebagai alasan penundaan, serta memilih mencari pendanaan melalui jalur privat.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa besarnya kebutuhan investasi teknologi tidak terlepas dari kemampuan perusahaan memperoleh pendanaan dengan biaya yang terjangkau. Ketika biaya pinjaman meningkat, perusahaan perlu mempertimbangkan kembali struktur pendanaan dan potensi pengembalian investasi.

Kepala Strategi Investasi Saxo Charu Chanana mengatakan, kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang membuat investor tidak bisa lagi menilai prospek pertumbuhan AI dengan asumsi biaya modal yang murah.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah yang disertai penerbitan utang korporasi untuk membiayai infrastruktur AI berpotensi meningkatkan biaya pendanaan. Situasi ini membuat investor semakin memperhatikan kekuatan neraca keuangan perusahaan dan kualitas laba yang dapat dihasilkan pada masa mendatang.

Tekanan pasar juga dipengaruhi kenaikan harga energi. Minyak mentah Brent diperdagangkan pada US$103,70 per barel di pasar Asia setelah melonjak lebih dari 4% pada sesi sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap perang di Timur Tengah yang berisiko memperbesar tekanan inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi atau menaikkannya.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (08/10/2026) mengatakan negaranya tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang. Meski demikian, pelaku pasar masih meragukan kemajuan upaya untuk mengakhiri perang.

Kepala Strategi Pasar ATFX Global Nick Twidale menyoroti ketidakpastian mengenai kemungkinan perubahan sikap pemerintah AS apabila situasi keamanan memburuk.

“Setiap indikasi bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan kembali opsi militer dapat memicu lonjakan tajam harga minyak, terutama karena lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz sudah berada di bawah tekanan signifikan,” kata Twidale.

Selain pasar saham dan energi, pasar obligasi pemerintah juga menjadi perhatian investor. Di Prancis, beban utang, defisit anggaran, dan ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden 2027 menjadi faktor yang memengaruhi persepsi risiko investor.

Analis ING memperkirakan selisih imbal hasil obligasi Prancis terhadap obligasi acuan berpotensi bertahan tinggi. Volatilitas diperkirakan berlanjut hingga mendekati pemilihan presiden yang dijadwalkan berlangsung pada April dan Mei 2027.

Sementara itu, pasar obligasi pemerintah AS relatif lebih stabil setelah lelang obligasi yang solid sepanjang pekan membantu memperbaiki sentimen. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun tercatat stabil di 5,226%, meskipun masih mendekati level tertinggi dalam 24 tahun yang dicapai pada Rabu (07/10/2026).

Analis ING menilai kondisi tersebut belum menunjukkan bahwa tekanan jual obligasi telah berakhir, meskipun tekanan pasar mereda untuk sementara waktu.

Di pasar valuta asing, dolar AS bertahan kuat, sedangkan euro berada di jalur pelemahan mingguan kelima berturut-turut. Euro terakhir diperdagangkan di sekitar US$1,122, tidak jauh dari level terendah dalam 17 bulan yang tersentuh pada awal pekan akibat kekhawatiran terhadap utang Prancis.

Kombinasi kenaikan biaya energi, mahalnya pendanaan, dan ketidakpastian pasar obligasi membuat investor semakin selektif dalam menempatkan modal. Bagi perusahaan teknologi, tantangan berikutnya bukan hanya mendapatkan dana untuk mengembangkan AI, tetapi juga membuktikan bahwa investasi tersebut mampu menghasilkan pendapatan dan laba yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *