Dua Strategi, Satu Tekanan: Kredit Bank Panin dan SMBC Terjepit
JAKARTA – Tekanan terhadap fungsi intermediasi perbankan mulai terlihat pada kinerja dua bank papan menengah, yakni PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) dan PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) sepanjang tahun buku 2025, di mana pertumbuhan kredit dan kualitas aset menjadi tantangan utama yang berdampak pada profitabilitas masing-masing bank.
Perbedaan strategi terlihat jelas. PT Bank Pan Indonesia Tbk (Panin) memilih menahan ekspansi kredit demi menjaga kualitas aset, sementara PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) tetap mendorong pertumbuhan kredit meski harus menghadapi lonjakan risiko pembiayaan.
Pada Panin, laba bersih masih tercatat Rp2,87 triliun atau relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kinerja tersebut tidak ditopang oleh pertumbuhan kredit. Penyaluran kredit justru menurun dari Rp132,5 triliun menjadi Rp130,1 triliun, sementara pendapatan bunga bersih stagnan di kisaran Rp8,9 triliun.
Sebaliknya, laba Panin lebih banyak ditopang oleh pendapatan non-bunga, termasuk keuntungan dari penjualan efek dan perubahan nilai wajar instrumen keuangan. Di sisi lain, arus kas dari aktivitas operasi tercatat negatif Rp1,88 triliun, berbalik dari posisi positif Rp19 triliun pada tahun sebelumnya.
Kondisi ini mencerminkan strategi defensif yang diambil Panin untuk menekan risiko kredit, meski berdampak pada terbatasnya pertumbuhan bisnis inti.
Sementara itu, SMBC Indonesia mencatatkan pertumbuhan kredit dari Rp146,8 triliun menjadi Rp152,3 triliun. Namun, ekspansi tersebut diiringi peningkatan signifikan pada beban pencadangan kerugian kredit atau credit cost (CKPN), yang melonjak menjadi Rp8,04 triliun atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan CKPN tersebut berdampak langsung pada kinerja keuangan, di mana SMBC Indonesia mencatat rugi bersih sebesar Rp102 miliar, dari sebelumnya laba Rp3,2 triliun. Meski demikian, arus kas operasional masih tercatat positif Rp4,88 triliun, walau mengalami penurunan lebih dari 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perbedaan strategi kedua bank ini menunjukkan dilema yang dihadapi industri perbankan. Panin menahan ekspansi untuk menjaga kualitas kredit, sementara SMBC Indonesia tetap agresif namun harus menanggung peningkatan risiko.
Secara umum, kondisi ini menandakan fungsi intermediasi perbankan belum berjalan optimal. Kredit yang tidak tumbuh atau tumbuh dengan risiko tinggi sama-sama memberikan tekanan terhadap kinerja bank.
Fenomena tersebut juga mengindikasikan adanya tekanan yang lebih luas di industri, seperti meningkatnya biaya dana serta memburuknya kualitas kredit yang memaksa bank meningkatkan pencadangan, sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia, Senin, (20/04/2026).
Ke depan, perbankan dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan pertumbuhan kredit dengan pengelolaan risiko yang lebih ketat agar tetap menjaga stabilitas kinerja dan kepercayaan pasar. []
Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01
