Ekonomi Melambat, Bank Sentral Polandia Pilih Menahan Suku Bunga
POLANDIA – Bank sentral Polandia mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,75 persen untuk bulan kedelapan berturut-turut. Keputusan pada Rabu (04/11/2026) tersebut diambil di tengah inflasi yang melambat, tetapi risiko kenaikan harga pada tahun depan dan tekanan terhadap mata uang nasional masih membayangi perekonomian negara itu.
Keputusan Dewan Kebijakan Moneter yang beranggotakan 10 orang tersebut sesuai dengan perkiraan mayoritas ekonom. Dari 33 ekonom yang disurvei Bloomberg, sebanyak 29 orang memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga. Sementara itu, sebagian kecil ekonom mengusulkan kenaikan sebesar 25 basis poin untuk mengantisipasi tekanan inflasi.
Salah satu faktor yang memberi ruang bagi bank sentral untuk menahan suku bunga adalah penurunan inflasi konsumen. Inflasi tahunan Polandia tercatat sebesar 3,5 persen pada Oktober, turun dari 4,1 persen pada September. Penurunan tersebut terjadi setelah pemerintah kembali menerapkan pembatasan harga bahan bakar melalui skema subsidi.
Kebijakan tersebut menekan harga bahan bakar di tingkat konsumen sehingga inflasi utama kembali berada dalam batas atas sasaran bank sentral. Pada saat yang sama, inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi juga menunjukkan perlambatan selama Oktober.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi domestik memperlihatkan tanda-tanda pelemahan. Pertumbuhan pada kuartal ketiga melambat, sementara penyerapan tenaga kerja perusahaan masih mengalami kontraksi secara tahunan dan produksi sektor konstruksi menurun.
Meski demikian, sejumlah indikator masih menunjukkan perkembangan positif. Penjualan ritel dan produksi industri mencatat pertumbuhan tahunan moderat pada September. Kondisi tersebut memperlihatkan perekonomian Polandia belum mengalami perlambatan secara merata.
Tantangan lain muncul dari proyeksi inflasi jangka menengah yang justru meningkat. Model proyeksi ekonomi NECMOD edisi November memperkirakan inflasi tahunan pada 2027 berada dalam kisaran 3,1 hingga 5,3 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi Juli yang memperkirakan inflasi berada pada rentang 1,5 hingga 4 persen.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada 2027 diperkirakan berada dalam kisaran 1,9 hingga 3,8 persen. Perubahan proyeksi tersebut menunjukkan bank sentral masih menghadapi ketidakpastian dalam menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Tekanan terhadap perekonomian juga dipengaruhi perkembangan politik dalam negeri. Gubernur bank sentral Polandia Adam Glapinski menghadapi ancaman penangguhan jabatan menyusul rencana pemungutan suara di parlemen. Ketidakpastian kelembagaan tersebut turut menjadi salah satu faktor yang membebani nilai tukar zloty hingga mencapai posisi terlemah dalam tiga tahun terhadap euro pada awal pekan ini.
Dalam menghadapi tekanan eksternal dan dinamika politik domestik, Dewan Kebijakan Moneter menegaskan keputusan suku bunga berikutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi serta arah kebijakan fiskal pemerintah. Bank sentral juga menyoroti kebijakan harga energi dan perkembangan upah sebagai faktor yang dapat memengaruhi inflasi.
Selain itu, otoritas moneter menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing apabila diperlukan guna menjaga stabilitas keuangan. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa meskipun suku bunga belum berubah, bank sentral tetap mencermati risiko yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan nilai tukar.
Keputusan mempertahankan suku bunga ini menunjukkan bank sentral memilih menjaga ruang kebijakan di tengah perlambatan ekonomi dan penurunan inflasi saat ini. Namun, kenaikan proyeksi inflasi 2027, tekanan terhadap zloty, serta ketidakpastian politik akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan moneter Polandia selanjutnya. Informasi keputusan suku bunga tersebut sebagaimana diberitakan Investing, Kamis (05/11/2026). []
Redaksi01
