Garuda Indonesia Pangkas Rugi 23,2%, Beban Avtur Justru Melonjak 43,6%

JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) berhasil memangkas rugi bersih 23,2 persen menjadi US$113 juta pada semester I 2026, meski harus menghadapi lonjakan beban bahan bakar pesawat atau avtur sebesar 43,6 persen secara tahunan.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dilansir Kamis (01/10/2026), beban avtur Garuda mencapai US$677,6 juta sepanjang Januari-Juni 2026. Nilai tersebut meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya dan membuat porsi biaya bahan bakar terhadap pendapatan naik menjadi sekitar 37,7 persen dari sebelumnya 30,5 persen.

Tekanan biaya bahan bakar tersebut terjadi ketika pendapatan Garuda justru tumbuh 16 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$1,80 miliar dari US$1,55 miliar pada semester I 2025.

Kemampuan perseroan menahan kenaikan sejumlah biaya lain menjadi salah satu faktor yang menopang perbaikan kinerja. Beban di luar bahan bakar hanya meningkat 3,9 persen menjadi sekitar US$1,07 miliar. Dengan demikian, porsinya terhadap pendapatan turun menjadi 59,7 persen dari 66,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Garuda juga mencatatkan laba sebelum bunga dan pajak (Earnings Before Interest and Taxes/EBIT) sebesar US$74 juta, meningkat 12,7 persen dibandingkan US$65,7 juta pada semester I 2025. Sementara laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization/EBITDA) naik 5,8 persen menjadi US$431,6 juta.

Perbaikan tersebut membuat kerugian bersih perseroan menyusut dari US$147,1 juta menjadi US$113 juta. Meski demikian, Garuda masih mencatatkan kerugian pada semester pertama tahun ini.

Sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis, (01/10/2026), pertumbuhan pendapatan Garuda ditopang sejumlah lini bisnis. Penerbangan berjadwal masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan US$1,31 miliar, naik 10,9 persen secara tahunan.

Dari segmen penerbangan berjadwal, pendapatan penumpang meningkat 11,5 persen menjadi US$1,23 miliar. Sementara itu, penerbangan tidak berjadwal mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 32,5 persen menjadi US$272,8 juta.

Angkutan haji menjadi salah satu pendorong utama penerbangan tidak berjadwal dengan pendapatan US$232,2 juta, melonjak 51,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan lain-lain juga tumbuh 32,2 persen menjadi US$209,2 juta, termasuk dari bisnis perawatan pesawat atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) yang meningkat 43,8 persen menjadi US$87,4 juta.

Di sisi lain, beban keuangan Garuda turun 11,6 persen menjadi US$222,4 juta dari US$251,6 juta. Penurunan tersebut mencakup beban bunga atas liabilitas sewa, obligasi, dan utang usaha.

Perbaikan beban keuangan turut berkaitan dengan suntikan modal Danantara Asset Management senilai Rp23,67 triliun pada Desember 2025. Setelah dana tersebut masuk, Citilink melunasi pokok utang restrukturisasi kepada Pertamina pada 10 Desember 2025.

Pembayaran tersebut membuat beban keuangan grup kepada Pertamina turun menjadi US$4,7 juta dari US$11,8 juta setahun sebelumnya. Beban bunga utang usaha secara keseluruhan juga berkurang lebih dari separuh menjadi US$6,6 juta.

Selain melakukan efisiensi biaya, Garuda juga merampingkan struktur organisasi. Pembayaran kas kepada karyawan turun 7,2 persen menjadi US$219,7 juta, seiring jumlah karyawan grup berkurang menjadi 10.459 orang dari 10.852 orang pada akhir 2025.

Perseroan juga telah melikuidasi satu anak usaha di lini perhotelan, sementara dua anak usaha lainnya masih dalam proses pembubaran. Pada sisi operasional, jumlah armada Garuda hingga Juni 2026 mencapai 104 pesawat.

Beban usaha secara keseluruhan memang meningkat 16,4 persen. Namun, sekitar 84 persen dari tambahan beban tersebut berasal dari avtur, sementara sejumlah komponen biaya justru berhasil ditekan.

Salah satunya adalah beban komisi agen yang turun 6,2 persen menjadi US$33,6 juta meski pendapatan perseroan tumbuh dua digit. Penurunan tersebut sejalan dengan kebijakan perseroan memangkas komisi agen domestik.

Tekanan harga bahan bakar juga menjadi tantangan bagi industri penerbangan global. Data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan harga bahan bakar pesawat global mencapai puncaknya pada April 2026, dengan kenaikan sekitar 121 persen dibandingkan April 2025.

Untuk keseluruhan 2026, IATA memperkirakan harga bahan bakar pesawat rata-rata mencapai US$152 per barel atau hampir 70 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata 2025.

Di tengah tekanan tersebut, pertumbuhan pendapatan, efisiensi sejumlah pos biaya, penurunan beban keuangan, serta pemulihan armada menjadi faktor yang membantu Garuda mempersempit kerugian. Tantangan berikutnya adalah menjaga perbaikan kinerja ketika harga avtur masih menjadi komponen biaya yang sangat dipengaruhi kondisi pasar energi global. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *