Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp63.150 per Kg, Telur Ayam Rp31.950
JAKARTA – Harga cabai masih menjadi komoditas pangan dengan nilai tertinggi di tingkat pedagang eceran nasional. Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia (BI), harga cabai rawit merah pada Senin (27/07/2026) mencapai Rp63.150 per kilogram, sedangkan telur ayam ras diperdagangkan seharga Rp31.950 per kilogram.
Data PIHPS yang dirilis pada Senin (27/07/2026) pukul 09.30 WIB, sebagaimana dilansir Antara, Senin (27/07/2026), menunjukkan sejumlah komoditas pangan strategis masih berada pada level harga yang bervariasi di tingkat pedagang eceran secara nasional.
Untuk kelompok cabai, harga cabai merah keriting tercatat paling tinggi, yakni Rp64.100 per kilogram. Sementara itu, cabai merah besar dijual Rp57.550 per kilogram dan cabai rawit hijau mencapai Rp45.950 per kilogram.
Pada kelompok bawang, harga bawang merah berada di level Rp43.400 per kilogram, sedangkan bawang putih dipasarkan seharga Rp46.950 per kilogram.
Sementara itu, harga beras kualitas bawah I tercatat Rp17.100 per kilogram dan beras kualitas bawah II Rp16.700 per kilogram. Beras kualitas medium I dijual Rp18.300 per kilogram, sedangkan medium II sebesar Rp18.000 per kilogram.
Adapun beras kualitas super I dipasarkan dengan harga Rp19.200 per kilogram, sementara kualitas super II berada di level Rp18.650 per kilogram.
Untuk komoditas protein hewani, daging ayam ras segar dijual Rp46.450 per kilogram. Harga daging sapi kualitas I tercatat Rp156.800 per kilogram, sedangkan daging sapi kualitas II mencapai Rp146.250 per kilogram.
PIHPS juga mencatat harga gula pasir kualitas premium sebesar Rp23.000 per kilogram, sementara gula pasir lokal dijual Rp20.650 per kilogram.
Pada kelompok minyak goreng, minyak goreng curah dipasarkan seharga Rp21.700 per liter. Sementara itu, minyak goreng kemasan bermerek I dijual Rp26.350 per liter dan minyak goreng kemasan bermerek II berada di harga Rp24.050 per liter.
Perkembangan harga pangan tersebut menjadi salah satu indikator yang terus dipantau untuk melihat dinamika pasokan dan permintaan komoditas strategis di berbagai daerah. Perubahan harga dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti kondisi distribusi, produksi, maupun tingkat konsumsi masyarakat. []
Redaksi01
