Harga Minyak Dunia Anjlok 5 Persen Usai AS Hentikan Serangan ke Iran

SINGAPURA – Harga minyak dunia melemah tajam pada perdagangan Senin (27/07/2026) setelah muncul sinyal meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar merespons positif keputusan Washington menghentikan sementara serangan terhadap Iran, yang memunculkan harapan terbukanya kembali jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan perdagangan hingga pukul 05.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent kontrak September 2026 turun US$5,58 atau 5,77 persen menjadi US$91,20 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak September 2026 merosot US$4,91 atau 5,5 persen ke level US$84,40 per barel.

Penurunan harga tersebut dipicu pernyataan pejabat senior Iran yang menyebut Teheran bersedia menghentikan serangan selama AS juga menghentikan operasi militernya. Sikap tersebut dinilai menjadi sinyal awal meredanya eskalasi konflik yang selama beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Di sisi lain, Pemerintah AS menghentikan sementara kampanye serangan udara setelah para penasihat Presiden Donald Trump menilai sebagian besar target operasi telah tercapai serta mempertimbangkan kondisi persediaan amunisi militer. Selama dua hari terakhir, tidak dilaporkan adanya serangan baru dari AS maupun balasan dari Iran.

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan Presiden Trump sengaja memberikan ruang bagi proses diplomasi.

“Dia memberi ruang bagi pembicaraan, dia memberi sedikit kelonggaran.”

Pernyataan tersebut disampaikan Waltz dalam wawancara dengan media AS, sebagaimana dilansir Kontan pada Senin, (27/07/2026).

Seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan identitasnya juga menegaskan posisi negaranya tetap mengacu pada prinsip saling membalas serangan.

“tetap ‘serangan untuk serangan’: jika serangan berhenti, Iran juga akan menghentikan operasinya. Pesan itu telah disampaikan kepada Amerika Serikat.”

Meski demikian, sumber senior Iran mengungkapkan pemerintahnya masih memandang penghentian operasi militer AS dengan penuh kehati-hatian. Menurutnya, penghentian serangan tersebut lebih dipandang sebagai langkah taktis dibanding perubahan nyata dalam pendekatan diplomatik Washington.

“Ada lebih banyak skeptisisme daripada optimisme tentang penghentian serangan. Pandangan yang berlaku adalah bahwa penghentian tersebut bersifat taktis daripada tulus. Iran telah mengumpulkan cukup banyak pengalaman pahit dengan apa yang mereka anggap sebagai tipu daya AS.”

Sementara itu, pejabat militer AS menyebut operasi selama hampir dua pekan terakhir ditujukan untuk mengurangi ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, kelanjutan operasi dalam skala besar disebut memiliki risiko terhadap kesiapan persediaan amunisi sehingga opsi diplomasi kembali diprioritaskan.

Merosotnya harga minyak menjadi indikator bahwa pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik. Kendati demikian, perkembangan hubungan AS dan Iran masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga energi global dalam beberapa waktu ke depan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *