Harga Minyak Melonjak, IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Dunia

JAKARTA – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperingatkan potensi perlambatan ekonomi global yang kian nyata akibat konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan gangguan distribusi global, Rabu, 15 April 2026.

Tekanan terhadap ekonomi dunia dipicu terganggunya jalur energi strategis, termasuk Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada pasokan minyak dan biaya produksi lintas negara. IMF bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan global serta menyiapkan sejumlah skenario risiko, mulai dari perlambatan moderat hingga ancaman resesi global.

Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyatakan kondisi global saat ini bergerak di antara skenario dasar dan skenario terburuk. “Kami berada di antara skenario dasar dan skenario buruk,” ujarnya, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu, (15/04/2026). Ia menambahkan, “Setiap hari yang berlalu dan setiap gangguan energi yang terjadi, kita semakin mendekati skenario yang lebih buruk,” katanya.

Dalam skenario menengah, IMF memperkirakan harga minyak bertahan di kisaran USD100 per barel pada 2026 sebelum turun pada 2027. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melemah menjadi 2,5 persen, turun dari 3,4 persen pada 2025. Sementara dalam skenario terburuk, harga minyak dapat melonjak hingga USD110 per barel pada 2026 dan USD125 per barel pada 2027, mendorong pertumbuhan global merosot ke level 2,0 persen yang mendekati kondisi resesi.

Selain pertumbuhan, tekanan juga terlihat pada inflasi global. IMF memproyeksikan inflasi dapat menembus 6 persen pada 2026 dalam skenario ekstrem, jauh di atas perkiraan optimistis sebesar 4,4 persen. Kondisi ini berpotensi memaksa bank sentral di berbagai negara untuk kembali memperketat kebijakan moneter.

“Perubahan ekspektasi inflasi ini akan memaksa bank sentral menekan rem untuk menurunkan inflasi,” ujar Gourinchas.

Ketimpangan dampak juga terlihat antarnegara. Amerika Serikat diperkirakan masih mencatat pertumbuhan 2,3 persen pada 2026, sementara kawasan zona euro hanya tumbuh 1,1 persen akibat ketergantungan energi. China juga menghadapi tekanan dengan proyeksi pertumbuhan turun menjadi 4,4 persen, meskipun sebagian tertahan oleh stimulus pemerintah.

Di sisi lain, negara berkembang dan emerging markets menjadi kelompok paling rentan. IMF mencatat pertumbuhan ekonomi kelompok ini pada 2026 diperkirakan turun menjadi 3,9 persen. Kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah bahkan diproyeksikan mengalami penurunan tajam hingga pertumbuhan hanya 1,9 persen akibat konflik dan gangguan infrastruktur.

Beberapa negara di kawasan tersebut diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi, di antaranya Iran, Qatar, Irak, Kuwait, dan Bahrain. Namun, IMF menilai pemulihan masih memungkinkan terjadi pada 2027 apabila konflik mereda dalam waktu dekat.

Di tengah tekanan global, India menjadi salah satu negara yang relatif tangguh dengan proyeksi pertumbuhan meningkat menjadi 6,5 persen pada 2026 dan 2027, didorong oleh momentum ekonomi domestik yang kuat.

IMF juga menyoroti potensi respons kebijakan pemerintah dalam menghadapi lonjakan harga energi, seperti pemberian subsidi atau pembatasan harga. Namun, langkah tersebut dinilai berisiko terhadap stabilitas fiskal jika tidak dilakukan secara tepat sasaran.

“Langkah itu harus dilakukan secara sangat terarah dan bersifat sementara agar tidak merusak kerangka fiskal,” kata Gourinchas.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, IMF menegaskan bahwa stabilitas jalur distribusi energi global menjadi kunci utama untuk menahan tekanan ekonomi dunia dalam jangka menengah. []

Penulis: Moh. Alpin Pulungan | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *