Hotel di Puncak Tertekan, Pengusaha Mulai Pertimbangkan Jual Aset
BOGOR – Menurunnya aktivitas kegiatan pemerintah membuat permintaan kamar dan fasilitas pertemuan hotel di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ikut tertekan. Kondisi tersebut mendorong sebagian pengusaha hotel menghitung ulang keberlanjutan bisnis, bahkan mempertimbangkan menjual aset untuk mengurangi beban operasional.
Salah satu pemilik hotel di Puncak, Budi Sulistyo, mengatakan penurunan tingkat hunian semakin terasa karena pemasukan dari kamar tidak selalu mampu menutup biaya operasional yang terus berjalan, seperti gaji karyawan, listrik, dan pemeliharaan bangunan.
“Iya, kami mau jual salah satu hotel yang ada di Puncak,” ujar Budi Sulistyo, Selasa (15/09/2026).
Menurut Budi, rencana penjualan tersebut menjadi salah satu pilihan setelah kondisi usaha semakin sulit dipertahankan. Keputusan itu tidak semata-mata didorong keinginan untuk keluar dari bisnis perhotelan, tetapi juga pertimbangan terhadap beban biaya yang tetap muncul ketika tingkat hunian menurun.
Ia menjelaskan, berkurangnya kegiatan pemerintah turut memengaruhi permintaan kamar, khususnya pada hari kerja. Hotel yang sebelumnya memperoleh pemasukan dari rapat, pertemuan, pelatihan, dan kegiatan pemerintah lainnya kini menghadapi penurunan jumlah pesanan.
Pasar dari sektor swasta juga belum mampu sepenuhnya menggantikan berkurangnya permintaan tersebut. Aktivitas perusahaan, rapat, pertemuan, dan berbagai acara yang menggunakan fasilitas hotel ikut mengalami penurunan.
“Bisnis perhotelan sekarang benar-benar tidak menguntungkan. Jangankan mendapatkan untung, untuk operasional hotel saja terkadang tidak tertutupi dengan hunian yang ada,” ucapnya.
Situasi tersebut membuat pengelola hotel kini lebih mengandalkan kegiatan pemerintah yang masih berjalan dan kunjungan wisatawan pada akhir pekan. Sementara itu, tingkat hunian pada hari biasa cenderung rendah sehingga efisiensi menjadi salah satu langkah yang ditempuh untuk menjaga operasional.
“Jadi, kami hanya mengandalkan kegiatan pemerintah yang ada serta hunian akhir pekan saja,” ungkapnya.
Tekanan serupa dirasakan Hotel Accram di kawasan Puncak. Hotel yang berdiri sejak awal 2000-an itu sebelumnya mengandalkan wisatawan serta berbagai kegiatan pertemuan dan acara. Namun, perubahan kondisi ekonomi dan menyusutnya aktivitas pertemuan turut menekan tingkat hunian.
Pengelola Hotel Accram, Juju Djunaedi, mengatakan mempertahankan hotel dalam kondisi merugi menjadi tantangan karena biaya operasional tetap harus dikeluarkan meski jumlah tamu menurun.
“Percuma dipertahankan kalau setiap bulannya tidak mendapatkan keuntungan. Kalau rugi, iya,” kata Juju.
Juju menyebut kegiatan pemerintah yang memanfaatkan fasilitas hotel untuk rapat, pertemuan, pelatihan, dan agenda lainnya mengalami penurunan cukup besar. Berdasarkan perkiraannya, volume kegiatan pemerintah yang digelar di sejumlah hotel kini hanya sekitar 30 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kegiatan pemerintah yang diadakan saat ini di sejumlah hotel hanya 30 persennya saja dibandingkan kegiatan tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya, sebagaimana diberitakan Detik, Selasa, (15/09/2026).
Penyusutan aktivitas tersebut membuat pelaku usaha perhotelan di Puncak harus mencari sumber permintaan baru sekaligus menyesuaikan biaya dengan tingkat hunian yang tersedia. Bagi sebagian pengelola, langkah efisiensi menjadi pilihan untuk mempertahankan usaha, sedangkan pelepasan aset mulai dipertimbangkan ketika pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi biaya operasional. []
Redaksi01
