Hunian Hotel NTB Anjlok, Wisatawan Makin Singkat Menginap

0
Wisata NTB Lesu, Turis Asing Anjlok, Hotel Ikut Terpukul

MATARAM – Pelemahan aktivitas pariwisata mulai membebani industri perhotelan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Sepanjang September 2026, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang hanya mencapai 44,86 persen, sedangkan hotel nonbintang dan akomodasi lainnya lebih rendah, yakni 31,17 persen. Penurunan tersebut turut diikuti semakin singkatnya durasi menginap wisatawan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menunjukkan, tingkat hunian hotel berbintang pada September 2026 turun 6,93 poin dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 51,79 persen. Secara tahunan, angka tersebut juga melemah 0,80 poin dibandingkan September 2025 sebesar 45,67 persen.

Tekanan lebih besar terjadi pada kelompok hotel nonbintang dan akomodasi lainnya. Tingkat huniannya hanya 31,17 persen, turun 0,87 poin dibandingkan Agustus 2026 sebesar 32,04 persen. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, penurunannya mencapai 2,69 poin dari 33,86 persen.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan pariwisata NTB tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya jumlah wisatawan, tetapi juga kemampuan sektor akomodasi mempertahankan tingkat hunian dan durasi kunjungan.

Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan, salah satu faktor yang memengaruhi penurunan okupansi hotel adalah berkurangnya kedatangan wisatawan asing. Selain itu, berakhirnya periode puncak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan minimnya kegiatan berskala besar turut menekan permintaan terhadap jasa penginapan.

Dampak tersebut terlihat dari rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel berbintang yang pada September 2026 hanya mencapai 1,93 hari. Angka ini berkurang 0,09 hari dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 2,02 hari. Dibandingkan September 2025 sebesar 1,95 hari, durasi menginap juga mengalami penurunan.

Sementara itu, RLM hotel nonbintang dan akomodasi lainnya tercatat 1,58 hari, turun 0,04 hari dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 1,61 hari. Namun, secara tahunan, angka tersebut masih sama dengan September 2025.

Melemahnya aktivitas perhotelan berjalan seiring dengan penurunan arus wisatawan internasional. Jumlah wisman yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) pada September 2026 tercatat 7.657 orang. Jumlah itu merosot 17,96 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai 9.333 orang.

Jika dibandingkan dengan Agustus 2026, penurunannya mencapai 18,86 persen. Pada bulan tersebut, jumlah wisman yang datang melalui BIZAM masih tercatat 9.437 orang. Artinya, dalam satu bulan terjadi pengurangan sebanyak 1.780 kunjungan wisatawan asing.

Wahyudin mengungkapkan, pelemahan tersebut sejalan dengan berkurangnya jumlah penumpang internasional yang datang langsung ke Lombok, terutama dari Kuala Lumpur dan Singapura.

“Secara m-to-m jumlah penumpang asing turun sebesar 13,91 persen, sedangkan secara y-on-y turun 21,46 persen,” ungkap Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, sebagaimana diberitakan Radar Lombok, Selasa (03/11/2026).

Penurunan mobilitas wisatawan juga terjadi pada jalur transportasi laut. Sejumlah pelabuhan utama di NTB, terutama Pelabuhan Pemenang, Lembar, dan Labuan Lombok, mencatat berkurangnya pergerakan penumpang datang maupun berangkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Salah satu rute yang mengalami penurunan signifikan adalah kapal cepat Bali-Senggigi-Gili Trawangan. Jumlah penumpang pada jalur tersebut berkurang 20,31 persen pada September 2026 dibandingkan Agustus.

Wahyudin menilai, penurunan arus penumpang kapal cepat turut memberikan dampak terhadap tingkat hunian penginapan, khususnya di kawasan wisata yang mengandalkan akses perjalanan dari Bali.

“Penurunan jumlah penumpang kapal cepat rute Bali-Senggigi-Gili Trawangan secara bulanan sebesar 20,31 persen turut berkontribusi terhadap menurunnya tingkat hunian hotel di wilayah tersebut. Hal ini mengindikasikan adanya penurunan mobilitas wisatawan menuju destinasi wisata utama di NTB,” jelas Wahyudin.

Di tengah penurunan wisatawan asing, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga mengalami kontraksi secara bulanan. BPS mencatat jumlah perjalanan wisnus di NTB pada September 2026 sebanyak 1.294.580 perjalanan, turun 4,53 persen dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 1.355.981 perjalanan.

Meski demikian, secara tahunan jumlah perjalanan wisatawan domestik masih tumbuh 1,99 persen dibandingkan September 2025 yang tercatat 1.269.281 perjalanan.

Menurut Wahyudin, penurunan mobilitas wisatawan domestik dipengaruhi berakhirnya momentum libur nasional. Pada Agustus, perjalanan masyarakat terdorong oleh peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, September tidak memiliki momentum libur maupun kegiatan berskala besar yang mampu mendorong mobilitas antarkabupaten/kota.

Dari sisi jumlah tamu, hotel berbintang di NTB menerima 122.582 orang sepanjang September 2026. Sebanyak 69.626 orang atau 56,80 persen merupakan tamu domestik, sedangkan 52.956 orang atau 43,20 persen berasal dari luar negeri.

Adapun hotel nonbintang dan akomodasi lainnya menerima 165.240 tamu. Jumlah tersebut terdiri atas 84.918 tamu domestik atau 51,39 persen dan 80.322 tamu asing atau 48,61 persen.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa industri perhotelan NTB menghadapi tekanan dari berbagai sisi, mulai dari berkurangnya kunjungan wisatawan asing, melemahnya mobilitas wisatawan domestik, hingga semakin pendeknya durasi menginap. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pelaku usaha pariwisata untuk menjaga tingkat hunian sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi agar wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga tinggal lebih lama dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *