IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.056 di Tengah Tekanan Pasar Global
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (19/11/2021) IHSG naik 1,26 persen atau 83,79 poin menjadi 6.720,26 pada akhir perdagangan Jumat (19/11/2021). IHSG bahkan sempat mencapai level tertinggi intraday 6.720,98. Tempo/Tony Hartawan
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (16/07/2026) di zona hijau dengan kenaikan 28,51 poin atau 0,24 persen ke level 6.056,75. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap dinamika ekonomi global dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih membayangi pergerakan pasar keuangan.
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, sebanyak 202 saham mencatatkan kenaikan, 62 saham melemah, dan 355 saham bergerak mendatar. Nilai transaksi awal mencapai Rp96,87 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 183,12 juta saham dalam 38.208 kali transaksi.
Sejumlah emiten yang menjadi pusat perhatian investor pada awal sesi perdagangan antara lain PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS), PT Prodia Digital Indonesia Tbk (PRDL), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RAJA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Pergerakan positif IHSG terjadi ketika pelaku pasar mencermati sejumlah indikator ekonomi yang dirilis sehari sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan ekonomi China yang berada di luar ekspektasi serta melandainya inflasi produsen di Amerika Serikat (AS) menjadi faktor yang membentuk sentimen investasi global.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada publikasi data utang luar negeri oleh Bank Indonesia (BI). Data tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan pasar untuk menilai kondisi stabilitas makroekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selanjutnya, investor menantikan sejumlah data ekonomi penting dari AS, terutama terkait konsumsi masyarakat dan pasar tenaga kerja. Selain itu, pelaku pasar juga bersiap mencermati publikasi data inflasi kawasan Eropa yang dijadwalkan pada akhir pekan sebagai penentu arah pergerakan pasar berikutnya.
Meski IHSG mengawali perdagangan dengan penguatan, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik justru bergerak berlawanan. Tekanan terbesar terjadi pada saham-saham sektor semikonduktor setelah aksi jual yang sebelumnya melanda perusahaan pembuat chip di AS.
Indeks KOSPI Korea Selatan tercatat merosot lebih dari 7 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang terkoreksi lebih dari 3 persen. Bursa saham di China, Singapura, dan Australia juga dibuka di zona negatif.
Tekanan terhadap sektor teknologi dipicu penurunan tajam sejumlah saham semikonduktor. Saham SK Hynix turun lebih dari 9 persen setelah sebelumnya sempat menguat, sementara Samsung Electronics melemah lebih dari 7 persen. Pelemahan juga menjalar ke sejumlah perusahaan teknologi Jepang, seperti Advantest, SoftBank Group, Tokyo Electron, dan Renesas Electronics.
Di AS, aksi jual sehari sebelumnya turut menekan saham perusahaan teknologi besar, termasuk Micron Technology, Intel, Lam Research, dan Advanced Micro Devices. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang masih memengaruhi sentimen investor global pada perdagangan hari ini, sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Kamis (16/07/2026). []
Redaksi01
