IHSG Melemah 0,97% di Sesi I, GOTO Jadi Beban Utama

JAKARTA – Sektor teknologi menjadi penekan utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I Senin, 28 September 2026. Sektor tersebut merosot 4,10 persen, sementara saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) anjlok 14 persen hingga menjadi salah satu saham LQ45 dengan pelemahan terdalam.

Mengacu data RTI, IHSG turun 60,458 poin atau 0,97 persen ke level 6.181,434 pada akhir sesi I. Tekanan pasar tercermin dari jumlah saham yang melemah, yakni sebanyak 496 saham, sedangkan 193 saham menguat dan 1.012 saham lainnya stagnan.

Dari sisi transaksi, volume perdagangan mencapai 23,4 miliar saham dengan nilai sekitar Rp6,4 triliun. Sebanyak delapan indeks sektoral tercatat melemah dan turut menyeret IHSG ke zona merah.

Selain sektor teknologi, tekanan cukup besar datang dari sektor barang konsumen nonprimer (cyclicals) yang turun 2,71 persen dan sektor infrastruktur yang melemah 1,62 persen.

Di jajaran saham LQ45, GOTO tercatat turun 14 persen ke level Rp43 per saham. Pelemahan juga dialami PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang turun 4,37 persen menjadi Rp2.190 serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang terkoreksi 3,10 persen ke Rp3.130.

Namun, tidak seluruh saham LQ45 bergerak di zona merah. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) justru menguat 4,44 persen ke Rp11.750. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 2,91 persen menjadi Rp3.180, sedangkan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) meningkat 2,07 persen ke Rp1.480.

Pelemahan IHSG juga berlangsung ketika mayoritas bursa saham Asia mengalami tekanan. Investor mencermati kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi di tengah ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga minyak Brent berjangka tercatat naik 2,1 persen menjadi US$106,49 per barel. Sepanjang September, harga Brent telah menguat hampir 18 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,5 persen menjadi US$93,84 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran akan berlanjut pada pekan tersebut, meski belum terlihat tanda-tanda Teheran melonggarkan tuntutannya.

Pergerakan harga minyak menjadi perhatian investor karena kenaikannya berpotensi menambah tekanan inflasi global. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral, termasuk Federal Reserve.

Tekanan pada pasar saham dan kenaikan imbal hasil obligasi membuat investor mencermati kemungkinan suku bunga bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi itu menjadi salah satu faktor eksternal yang membayangi perdagangan saham domestik pada sesi pertama, sebagaimana diberitakan Kontan, Senin (28/09/2026). []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *