Industri Mamin Tumbuh 6,51 Persen, Gaya Hidup Sehat Jadi Pendorong
JAKARTA – Perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin memperhatikan aspek kesehatan menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) nasional yang mencapai 6,51 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada kuartal II 2026.
Pertumbuhan tersebut membuka peluang baru bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan perubahan preferensi konsumen. Namun, industri juga dituntut semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan bahan baku, inovasi formulasi, serta perubahan pola konsumsi masyarakat.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga pertumbuhan industri secara berkelanjutan.
“Pertumbuhan industri makanan dan minuman perlu didukung oleh kemampuan pelaku usaha untuk terus beradaptasi terhadap kebutuhan yang semakin berkembang,” kata Adhi dalam jumpa pers di Jakarta, sebagaimana dilansir Antara, Kamis, (27/08/2026).
Menurut dia, pelaku usaha perlu mengikuti tren yang berkembang, mulai dari perubahan gaya hidup konsumen hingga kemajuan teknologi. Adaptasi tersebut dinilai dapat memperkuat pertumbuhan industri mamin secara nasional.
Perhatian konsumen terhadap kesehatan juga menjadi salah satu perubahan penting yang perlu direspons oleh pelaku industri. Preferensi masyarakat terhadap produk makanan dan minuman yang dianggap lebih sehat menciptakan peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan inovasi baru sekaligus memperluas pilihan produk di pasar.
Adhi menilai pertumbuhan industri mamin tidak hanya mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi juga menunjukkan besarnya potensi pengembangan usaha di sepanjang rantai industri. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap ketersediaan bahan baku, pengembangan formulasi, serta solusi yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.
“Hal ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga akses terhadap sumber alternatif, inovasi, dan jaringan mitra yang lebih luas,” ujar Adhi.
Ia menambahkan, pertumbuhan industri akan lebih optimal apabila didukung kolaborasi lintas sektor. Kerja sama antara pelaku usaha, inovator, penyedia bahan baku, dan pemangku kepentingan dinilai diperlukan untuk memperkuat daya saing industri di tengah perubahan kebutuhan konsumen.
“Oleh karena itu, dibutuhkan platform yang mempertemukan antara industri, inovator, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih adaptif dan berdaya saing,” katanya.
Salah satu wadah yang akan mempertemukan berbagai pihak dalam ekosistem industri tersebut adalah Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026. Kegiatan itu dijadwalkan berlangsung pada 16-18 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran dengan mengusung tema “Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future”.
Ajang tersebut juga diarahkan untuk memperluas jejaring dan kolaborasi internasional. Lebih dari 10 paviliun negara atau Country Pavilions dijadwalkan terlibat, termasuk sejumlah negara yang baru bergabung, seperti Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Uni Eropa.
Regional Portfolio Director ASEAN Informa Markets, Rose Chitanuwat, mengatakan kegiatan tersebut akan menghadirkan sejumlah fitur khusus atau special features untuk memperluas pemahaman pengunjung terhadap perkembangan industri.
“Fi Asia Indonesia 2026 menghadirkan sejumlah special features yang dirancang untuk memberikan perspektif yang lebih luas mengenai perkembangan industri sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih relevan bagi pengunjung,” kata Rose.
Melalui inovasi, akses terhadap bahan baku alternatif, dan kolaborasi yang lebih luas, industri mamin diharapkan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus menjawab perubahan kebutuhan konsumen. Perkembangan tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperkuat daya saing produk nasional di pasar yang semakin dinamis. []
Redaksi01
