InJourney Siapkan Stimulus agar Tiket Pesawat Lebih Terjangkau
JAKARTA – Tekanan terhadap industri penerbangan mendorong PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) mengambil langkah untuk menekan komponen biaya perjalanan udara. Salah satu strategi yang diterapkan ialah memberikan stimulus kepada maskapai melalui pengurangan hingga pembebasan landing fee atau biaya pendaratan pada periode dan rute tertentu.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya InJourney Airports membantu menciptakan harga tiket yang lebih kompetitif bagi masyarakat. Stimulus diberikan dengan mempertimbangkan kondisi trafik penerbangan, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan jumlah pergerakan pesawat dan penumpang di bandara yang dikelola perusahaan.
Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi menjelaskan stimulus biaya pendaratan dapat diberikan dalam besaran tertentu, bahkan dibebaskan sepenuhnya ketika perusahaan ingin mendorong peningkatan trafik penerbangan.
“Misalnya, landing fee-nya jadi 50 persen, bahkan terkadang dalam periode tertentu untuk bisa meningkatkan trafik itu kami kasih gratis. Jadi, kami nol kan, gitu,” ujar Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi ketika ditemui setelah Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (03/09/2026).
Selain biaya pendaratan, InJourney Airports memiliki skema stimulus lain bagi maskapai yang membuka rute baru. Dukungan tersebut dapat mencakup pemanfaatan kantor maupun fasilitas yang tersedia untuk mendukung operasional maskapai.
Langkah serupa juga diterapkan pada momentum dengan permintaan perjalanan yang tinggi. Pada periode Natal dan Tahun Baru, liburan sekolah, serta Ramadan dan Idulfitri, InJourney Airports memberikan potongan 50 persen terhadap tarif pelayanan jasa penumpang pesawat atau Passenger Service Charge (PSC).
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pengelola bandara tidak hanya berfokus pada aspek operasional, tetapi juga berupaya mengambil bagian dalam menjaga daya beli masyarakat melalui dukungan terhadap harga perjalanan udara. Rizal mengatakan stimulus tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi perusahaan terhadap upaya membuat tarif penerbangan lebih terjangkau.
“Kami mengambil peran di situ. Kami juga turut mendukung untuk bagaimana masyarakat bisa mendapatkan harga tiket yang lebih kompetitif, untuk bisa meningkatkan daya beli masyarakat,” ujar Rizal.
Strategi pemberian stimulus tersebut berlangsung ketika industri penerbangan menghadapi sejumlah tekanan yang memengaruhi jumlah perjalanan udara. Dalam paparannya pada RDP bersama Komisi VI DPR RI, Rizal menyebut kondisi geopolitik turut memengaruhi trafik penerbangan dan jumlah penumpang. Selain itu, harga bahan bakar pesawat atau avtur juga menjadi salah satu persoalan yang berulang kali dikeluhkan maskapai.
“Geopolitik sangat berpengaruh di kejadian ini, dan beberapa harga avtur. Saya kira ini satu isu yang memang bolak-balik dikeluhkan oleh airlines,” ucap Rizal.
Data kinerja operasional InJourney Airports sepanjang 2025 memperlihatkan tekanan tersebut tercermin pada pergerakan pesawat. Jumlah pergerakan pesawat tercatat 1,190 juta pada 2025, turun 0,2 persen dibandingkan 1,193 juta pergerakan pada 2024.
Penurunan juga terjadi pada jumlah penumpang. Sepanjang 2025, jumlah penumpang mencapai 158 juta orang atau turun sekitar 1 persen secara tahunan dibandingkan 160 juta penumpang pada 2024.
Meski trafik pesawat dan penumpang mengalami kontraksi, sektor angkutan kargo justru mencatat pertumbuhan. Volume kargo yang ditangani meningkat 1 persen secara tahunan, dari 1,518 juta ton pada 2024 menjadi 1,534 juta ton pada 2025.
“Beberapa memang turun secara trafik pesawat dan juga penumpang, yang meningkat sedikit kargo,” ujar Rizal.
Menurut Rizal, peningkatan angkutan kargo salah satunya berkaitan dengan strategi maskapai mengoptimalkan pendapatan ketika tingkat keterisian kursi penumpang tidak terlalu tinggi. Kondisi tersebut membuat kapasitas angkutan kargo pada pesawat penumpang dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
“Biasanya pesawat penumpang itu kalau seat load factor-nya rendah, biasanya mereka akan mengoptimalkan salah satu revenue-nya melalui kargo, sehingga kargo naik 1 persen,” kata Rizal.
Dengan kondisi trafik yang masih menghadapi tekanan, pemberian stimulus biaya bandara menjadi salah satu instrumen yang digunakan InJourney Airports untuk menjaga aktivitas penerbangan. Kebijakan tersebut sekaligus diharapkan dapat membantu maskapai mempertahankan layanan dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh tiket dengan harga yang lebih kompetitif, terutama pada periode tertentu dan rute yang membutuhkan dorongan trafik. Informasi mengenai strategi stimulus dan perkembangan trafik tersebut sebagaimana diberitakan Antara, Kamis, (03/09/2026). []
Redaksi01
